Suami Terbaik Episode 17
Antonio Hernandez

Antonio melajukan mobilnya tidak ke arah rumahnya, ia justru pergi menemui Angga, tanpa tahu bahwa Angga juga menyukai Fira.
Keyakinan dalam hati bahkan teman sekelasnya itu dapat membantu dirinya dalam memisahkan Fira dan Maulana.
Sesampainya di depan rumah Angga, pria berkulit putih itu menghentikan mobil, ia tidak segera keluar dari mobil.
Dari dalam mobil terlihat pintu rumah bercat hijau itu terbuka, rumah Angga sangat sederhana tidak seperti rumah besar miliknya.
"Ini sudah pukul 9 malam, tapi pintu rumah Angga masih buka. Kalau misal aku ajak dia keluar, apakah Ibunya akan mengizinkan?"
Antonio bingung sendiri, rasa tidak yakin akan berhasil membawa sahabatnya itu keluar rumah.
Meski seorang pria, tapi kedua orang tua Angga selalu melarang anaknya keluar malam, katanya khawatir kalau akan terjadi sesuatu.
Antonio mengambil ponsel lalu menghubungi Angga.
Visualisasi Angga

Di dalam kamar, Angga sedang bermain game, sebenarnya ia ingin berdandan tapi karena kedua orang tua masih di rumah, dirinya tidak berani.
Drrt...
Drrt...
"Antonio telpon? Ada apa dia telpon malam-malam?"
Angga penasaran kenapa anak orang kaya itu telpon malam-malam, ia pun menjawab panggilan telpon tersebut.
"Hallo."
"Ngga, kamu bisa keluar nggak?" Antonio bertanya sambil mengamati rumah Angga, khawatir kalau Ibunya melihat dirinya.
"Kenapa memang?" Kedua alis Angga seperti hampir menyatu.
"Kamu tahu bukan, kalau aku menyukai Fira? Aku dan kak Aeri ada rencana untuk memisahkan Fira dari Pak Ivan." Antonio berusaha menjelaskan.
Angga diam sejenak, ia memikirkan ucapan Antonio."Bagaimana bisa dia mengatakan itu? Apakah dia tidak tahu kalau Pak Ivan itu ternyata orang yang tidak bisa disinggung?" batinnya.
"Hei! Kok diam? Gimana? Mau nggak?"
Di sebrang telpon Antonio sudah tidak sabar dengan jawaban Angga.
"Ok, tapi aku izin Bapak Ibu ku dulu ya? Kalau nggak boleh aku akan bilang nginap di rumahmu."
"Ok, nggak masalah. Rumahku gede kok, bisalah nampung satu orang lagi." Antonio menjawab dengan penuh keyakinan.
"Ok, tunggu bentar." Angga segera mematikan sambungan telepon lalu bangkit dari posisinya dan keluar kamar.
Pria bermata jamrud itu celingukan mencari keberadaan sang Ibu, bibir tersenyum ketika melihat Ibunya bersama sang Ayah berada di depan TV.
Angga berjalan menghampiri kedua orang tuanya."Pak, Buk."
Kedua orang tua Angga mengalihkan perhatian pada buah hatinya."Ada apa?"
"Angga nginap di rumah teman, ya?" Angga meminta izin pada kedua orang tuanya, ia berharap kedua orang tua akan mengizinkan.
"Laki-laki atau perempuan?" tanya Bagus yang merupakan Ayah Angga.
"Laki-laki lah, masa Angga nginap di rumah teman cewek? Bisa kena santet 9 bulan nanti teman Angga." Angga menjawab dengan sedikit keras, terkadang ia heran dengan Ayahnya, selalu buruk sangka terhadap dirinya.
"Baiklah, besok kan sekolah? Kamu berangkat bareng sama teman mu itu saja. Ibu tidak mau subuh-subuh kamu gedor -gedor pintu, seperti ada maling saja," tambah sang Ibu.
"Baik, Buk. Angga pamit." Angga mengambil tangan kedua orang tuanya lalu mencium punggung tangan mereka.
Dengan perasaan senang dan penasaran, Angga kembali ke dalam kamar lalu membereskan barang-barang yang akan dibawa ke rumah Antonio, setelah selesai ia segera keluar rumah karena tahu sahabatnya itu sudah menunggu.
Di dalam mobil, Antonio tidak sabar menunggu, berharap Angga segera keluar dengan membawa kabar gembira.
Tak lama kemudian Angga keluar dengan membawa tas selempang, ia segera berjalan menghampiri mobil Antonio lalu masuk kedalam mobil tersebut.
"Yuk lah." Dia berkata seperti seorang wanita.
Antonio berdecih mendengar gaya bicara Angga mulai kumat, kemudian mengemudikan mobil meninggalkan tempat tersebut.
Mansion Mizuruky

Maulana menggendong tubuh mungil sang Istri ke dalam kamar, meski rasa nyeri dirasa belum hilang, namun ia tidak tega membiarkan gadis itu berjalan sendiri ke dalam dengan rasa kantuk.
Pria itu meletakkan sang Istri dengan lembut di atas tempat tidur lalu menyelimuti tubuh mungil tersebut.
Setelah itu mencari obat pereda nyeri di dalam laci, jemari lentik itu terulur mengambil obat pereda nyeri lalu mengeluarkan isinya dan menelannya.
"Huff, lagi-lagi lupa makan hingga sakit perut. Kalau Fransis tahu, dia pasti akan ngomel seperti Ibu-Ibu."
Maulana menoleh pada sang Istri, gadis itu terlihat tidak nyaman dalam tidurnya, tangan mungil itu meraba-raba seperti sedang mencari sesuatu.
Maulana menaruh gelas di atas meja kecil lalu berjalan mendekati sang Istri, ia merebahkan tubuhnya di samping Istrinya dan menggenggam tangan sang Istri.
"Sudah, jangan mencari sesuatu lagi. Tidurlah dengan tenang, Sayang."
Entah kenapa Fira langsung tenang seperti tidak mencari apapun lagi, Maulana tersenyum manis lalu memiringkan tubuh dan memeluk pinggang ramping gadis tersebut.
"Sayang, kau cantik sekali. Aku tidak suka ada yang mendekati mu, aku cemburu. Hehehe ... Rasanya aku ingin menutupi semua wajahmu agar tidak ada lagi orang yang berani memandang wajah cantik mu, pakai burqah. Tapi kamu pasti tidak akan mau, jangankan pakai burqah, pakai cadar saja aku yakin kamu tidak akan mau."
Perlahan ia mengecup lembut kening sang Istri lalu ikut memejamkan matanya.
02:00
Maulana terbangun dari tidurnya, meski tidak memasang alarm namun pria bermata safir itu terbiasa bangun malam untuk sholat tahajud.
Maulana menoleh pada sang Istri, mata gadis itu masih terpejam hanya ada yang aneh pada tangan mungil Istrinya.
"Astaghfirullah."
Maulana tidak tahu harus berkata apa, ia menggelengkan kepala melihat tangan mungil berada di dalam ladang miliknya dan menggenggam pak tani bertopi dipenuhi rumput miliknya.
"Istri ku, sepertinya tangan mungil mu mulai nakal." Perlahan ia mengambil tangan itu dan mengeluarkan perlahan.
"Sayang, aku tahajudan dulu." Maulana menaruh jemari mungil itu di atas guling.
"Paman."
Maulana menoleh mendengar suara serak sang Istri memanggil dirinya."Aku tahajudan dulu, oh bagaimana kalau kamu panggil Suamimu ini Mas saja? Rasanya aneh kamu panggil Paman."
"Kan Paman memang sudah tua, kenapa harus merasa aneh. Pokonya aku akan panggil Paman." Fira mengerjapkan mata mencoba mengusir ngantuk.
Maulana tersenyum."Baiklah, kamu boleh panggil siapa saja."
"Papa." Fira mengganti panggilan.
"Kenapa ganti Papa?" tanya Maulana heran.
"Biar romantis," jawab Fira dengan senyum.
"Lebih baik panggil Suamimu ini Sayang." Maulana kembali memberikan usul.
"Ya sudah kalau tidak mau, aku panggil Paman saja. Paman tidak usah protes."
Maulana menghela nafas, namun tetap tersenyum karena baginya sebuah panggilan tidak masalah.
Fira memperhatikan sang Suami, pria itu seperti bersiap turun dari tempat tidur."Paman mau kemana? Apakah Paman punya Isteri simpanan?"
Maulana sweetdrop mendengar pertanyaan sang Istri, baginya itu pertanyaan paling tidak masuk akal.
Foto pernikahan Fira dan Maulana

Komentar
Posting Komentar