Episode 4: Sandiwara Sang Istri Mungil
Suami Terbaik Episode 4: Sandiwara Sang Istri Mungil.
Langkah kaki yang terseret dan dentuman sepatu yang menghentak lantai koridor menjadi melodi pembuka pagi itu. Fira, dengan tubuh mungilnya yang hanya setinggi 150 cm, tampak seperti kuncup mawar yang tengah meradang. Amarahnya meledak-ledak, kontras dengan wajah cantiknya yang menggemaskan. Di belakangnya, berdiri seorang pria dengan perawakan luar biasa gagah. Ivan Maulana Rizky, atau yang lebih akrab disapa Maulana, menjulang setinggi 191 cm, menciptakan bayangan besar yang seolah melindungi punggung istrinya.
Maulana masih mematung di samping mobil. Tangan kekarnya sempat meremas perut, mencoba menghalau rasa tidak nyaman yang tiba-tiba menyerang tanpa alasan jelas. Setelah napasnya kembali teratur, ia menatap punggung Fira yang kian menjauh menuju ruang kelas 3 F. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum tipis yang sarat akan kasih sayang. Di matanya, kemarahan Fira hanyalah bumbu yang membuatnya terlihat semakin imut.
Dengan langkah tenang namun berwibawa, Maulana melangkah menuju kantor guru. Kulit putih bersihnya tampak bersinar di bawah lampu selasar, menarik perhatian siapa pun yang berpapasan.
"Pagi, Pak Ivan," sapa seorang guru perempuan dengan nada yang sedikit dibuat-buat manis.
"Pagi juga," balas Maulana singkat. Ia tidak berhenti, terus melangkah menuju meja kerjanya dengan sisa-sisa bayangan Fira di kepalanya.
Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Fira kembali. Gadis itu berdiri di ambang pintu ruang guru dengan gurat kebingungan yang nyata. Ia tampak seperti anak kecil yang tersesat di hutan belantara birokrasi. Seorang guru muda bernama Edo menyadari kehadirannya.
"Dek, kenapa kamu di sini? Ada yang bisa bapak bantu?" tanya Edo ramah.
Fira mendongak. Di hadapannya berdiri pria berusia sekitar 25 tahun dengan wajah yang cukup tampan. Fira memberikan senyum tipis yang sopan, meski hatinya masih diliputi kecamuk.
"Pak, saya murid baru. Tapi saya bingung harus berbuat apa, saya ingin bertemu wali kelas tiga F."
Edo mengangguk paham, lalu suaranya menggelegar memanggil rekan kerjanya. "Pak Ivan!"
"Ya," sahut Maulana dari sudut ruangan tanpa mengalihkan pandangan.
"Ada murid baru mencari Bapak," jelas Pak Edo.
"Suruh masuk saja, Pak Edo."
Edo berpaling kembali pada Fira, memberikan senyum penyemangat. "Masuklah, Pak Ivan di mejanya. Beliau adalah seorang Guru yang sangat ramah."
Fira melangkah masuk, matanya yang berwarna coklat jernih mengedar, mencari sosok yang disebut 'Ivan' itu. Namun, yang ia dapati hanyalah suaminya sendiri yang sedang tekun membolak-balik buku pelajaran. Tanpa ragu, ia menarik kursi dan duduk tepat di hadapan pria itu.
"Paman, meja Pak Ivan itu mana?" tanyanya tanpa dosa.
Keheningan seketika menyergap ruangan. Beberapa guru menoleh dengan tatapan aneh. Mereka heran melihat murid baru ini bertanya tentang keberadaan Pak Ivan tepat di depan wajah sang pemilik nama. Maulana tidak tersinggung, ia justru tersenyum tenang dan menyerahkan sebuah kartu nama ke hadapan Fira.
"Kamu bisa membaca?" goda Maulana lembut.
Fira mendengus, matanya menyipit galak. "Tentu saja, aku bukan anak TK yang tidak bisa membaca."
"Kalau begitu baca nama di kartu pengenal itu."
Fira menyambar kartu itu, membacanya dengan saksama. "Mizuruky Ivan, itu nama siapa?"
"Nama ku," jawab Maulana dengan senyum manis yang mematikan.
"Jangan ngada-ngada, nama Paman kan Ivan Maulana Rizky? Kenapa bisa ada Mizuruky nya? Yang ku tahu Mizuruky Ivan itu adalah calon Suamiku."
Fira mengucapkan itu dengan dagu terangkat, sebuah kebohongan yang ia rakit demi memancing kecemburuan atau kemarahan Maulana. Ia berharap pria itu akan muak dan segera mengakhiri ikatan pernikahan mereka.
Maulana merasakan dorongan kuat untuk tertawa, namun ia menahannya di balik senyum simpul. Ia tahu betul istrinya sedang mengarang bebas. Guru-guru lain yang mendengar hanya bisa menggelengkan kepala, merasa lucu sekaligus heran dengan tingkah siswi baru tersebut.
"Jadi Mizuruky Ivan itu adalah calon Suamimu?" tanya Maulana, memancing lebih dalam.
"Tentu, aku dan dia sudah pacaran selama 2 tahun," balas Fira, semakin tenggelam dalam skenarionya.
"Tapi ... bukankah Ivan Maulana Rizky juga bisa dipanggil Ivan? Kenapa seakan kamu tidak percaya, Sayang?"
Panggilan 'Sayang' yang meluncur lembut dari bibir Maulana seketika meruntuhkan pertahanan Fira. Wajahnya memanas, detak jantungnya berpacu liar karena malu dan panik. Secara spontan, ia bangkit dan mencondongkan tubuhnya melewati meja, telapak tangan mungilnya membekap mulut Maulana dengan erat.
"Jangan sembarangan panggil!" bisiknya tajam.
Maulana tidak menghindar. Dengan gerakan perlahan namun pasti, ia memegang tangan Fira, menyingkirkannya dari bibirnya, lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut di punggung tangan gadis itu. Mata safirnya menatap dalam, mengunci rungu Fira.
"Sayang, apakah kamu tahu kenapa aku memindahkanmu sekolah di sini?"
Fira menarik tangannya kasar, dadanya bergemuruh. Ia kembali duduk dengan sikap defensif. "Mana ku tahu."
"Karena ada kelas khusus di sini untuk siswa yang telah menikah, bukan sembarang menikah. Tapi karena sebuah alasan tertentu, seperti kamu. Kamu terpaksa menikah muda padahal sebenarnya ingin sekolah. Ya meski tidak semua dalam kelas itu isinya para Istri juga, dan biasanya mereka menikah secara agama," jelas Maulana dengan suara rendah yang menenangkan.
Fira tertegun. Dunia yang ia tahu selalu memandang miring pernikahan di usia sekolah. Bagaimana mungkin ada institusi yang memberikan ruang seperti ini?
"Bagaimana kalau seorang sudah berumur tapi ingin sekolah, apa bisa?" tanya Fira, rasa penasarannya mulai mengalahkan egonya.
"Eh ... ini tetap tingkat SMA, lagipula itu semua juga disembunyikan. Tidak dipublikasikan status mereka di depan umum," jawab Maulana.
"Kenapa? Kenapa harus disembunyikan?"
"Karena itu merupakan aturan pendidikan, tetapi mengingat bahwa hak setiap anak untuk mendapatkan pendidikan yang baik, sekolah ini memberikan kelas khusus pada anak yang terpaksa menikah untuk tetap sekolah." Maulana menghela napas, bayangan wajah-wajah pilu anak-anak yang terjerat kemiskinan dan pernikahan dini melintas di benaknya.
"Itu benar, Dek. Ini adalah bentuk rasa simpati kami terhadap para anak yang seharusnya sekolah, menempuh pendidikan SMA tapi justru harus menjalani kehidupan rumah tangga yang rumit," timpal seorang guru cantik di sebelah Maulana, mendukung penjelasan sang kolega.
"Mereka juga tidak ingin seperti itu, iya kalau dapat Suami yang baik, tanggung jawab dan sabar serta penyayang. Tapi kalau dapat Suami yang suka nuntut tapi tidak mau dituntut, keras dan selalu berat sebelah. Bukankah mereka sangat kasihan," sahut guru yang lain, menambah kedalaman diskusi pagi itu.
Fira terdiam, merenungkan setiap kata. Matanya yang bulat beralih pada sosok Pak Edo yang sedari tadi memperhatikan.
"Memangnya Suami yang baik itu seperti apa?" tanya Fira lirih, sebuah pertanyaan yang tulus keluar dari dasar hatinya.
"Seperti Pak Ivan misalnya, dia kan calon Imam yang baik. Banyak siswi dan Guru di sini bermimpi dinikahinya," seloroh Pak Edo sambil mengedipkan mata, berusaha mencairkan suasana.
Maulana hanya bisa terkekeh pelan. "Hehehe, Pak Edo pandai bercanda. Sudahlah, sudahi pembicaraan ini." Ia kembali menatap Fira, memberikan perintah yang tak terbantahkan namun lembut. "Tunggu saja di sini, nanti kamu akan bersamaku. Aku akan mengenalkanmu di kelas."
Fira mengangguk patuh untuk pertama kalinya. Matanya terpaku pada pria bermata safir di hadapannya. Di tengah kebisingan ruang guru dan rahasia yang mereka simpan, sebuah tanya besar berputar di kepalanya: Benarkah pria di depanku ini adalah definisi suami yang baik?
Komentar
Posting Komentar