Episode 1: Sang Pangeran Mahkota dan Takdir yang Tersembunyi


Di bawah langit yang membentang luas, cakrawala seolah tunduk pada sosok yang berdiri tegap di puncak keheningan. Desir angin pegunungan menyapa lembut surai kuning keemasan yang berkilau tertimpa cahaya, membingkai wajah putih pucat yang menyimpan ketenangan abadi. Tubuh tinggi tegap itu berdiri diam, menatap lurus hamparan bumi ciptaan Ilahi dengan tatapan yang sulit diartikan.

​Jubah putih bersih dan selendang hijau miliknya berkibar megah, menari mengikuti irama angin. Di balik wajah tenangnya, sepasang iris safir yang jernih memancarkan pesona yang mampu memikat setiap insan yang memandangnya. Ia adalah Zein Zulkarnain. Seorang pria yang tidak tertarik akan keindahan dunia, sekalipun ia dipaksa memikul beban sebagai Pangeran Mahkota di sebuah kerajaan besar. Kekuatannya untuk menaklukkan dunia tak pernah diragukan, dan bibir tipis merah alaminya selalu menjadi dambaan kaum hawa yang rindu akan manisnya sebuah kecupan. Namun, Zein adalah teka-teki yang tak terjangkau.

​Sementara di sisi lain kerajaan, kehidupan berjalan jauh lebih bising dan melelahkan.

"Arsy ... Arsy ..."

​Suara itu memecah kesunyian di tepi sungai. Seorang gadis bersurai hitam panjang tampak terlelap, menjadikan tumpukan baju kotor sebagai bantal daruratnya. Surai hitamnya yang tergerai indah menjuntai masuk ke dalam aliran sungai yang jernih, membelah air yang mengalir tenang. Di depannya, seorang gadis berkuncir pony-tail menatap dengan raut wajah antara takjub dan jengkel.

"Arsy! Sungguh keterlaluan, bisa-bisanya dia malah tidur di saat seperti ini. Aku harus segera membangunkannya, atau kalau tidak, dayang-dayang Selir kejam itu akan datang lalu membuat masalah."

​Ezra, gadis berkuncir itu, merasa geram. Tangannya terulur menyentuh bahu sahabatnya yang masih berkelana di alam mimpi.

"Arsy ... Arsy ... bangun! Kamu jangan tidur terus!"

​Karena tak ada respon, Ezra mengambil tindakan ekstrem. Ia berteriak tepat di telinga Arsy—sebuah ritual wajib untuk membangunkan seseorang yang tidurnya sedalam kerbau.

"Ezra! Apa kamu tidak bisa membangunkan orang dengan cara yang lebih lembut?!"

​Arsy tersentak, nyaris terkena serangan jantung. Pekikan Ezra bagaikan guntur yang membelah bumi, meninggalkan dengingan panjang di telinganya. Ia langsung terduduk tegak, mata cokelatnya melotot tajam seolah ingin keluar, menatap Ezra dengan amarah yang masih berbalut kantuk.

​Ezra hanya tersenyum miring, tak merasa bersalah sedikit pun. "Siapa tadi yang tidak bisa dibangunkan saat tidur? Arsy ... harusnya kamu tahu, kita ini diperintahkan oleh Selir kejam, jadi kita harus menyelesaikan cucian dengan sesegera mungkin, setelah itu kita juga harus segera kembali. Kalau tidak, atau sedikit saja kita telat, Selir kejam ini akan memberikan cambukan untuk kita, nasib seorang pelayan rendahan memang seperti ini."

​Keluh kesah itu berakhir dengan nada getir. Sebagai pelayan kelas bawah di kerajaan Bintang Tenggara, mereka tak memiliki hak untuk memprotes, meski dipimpin oleh Raja yang adil. Sayangnya, mereka berada di bawah cengkeraman Selir utama kesayangan Raja, Sekar Wangi, yang memerintah dengan tangan besi.

​Arsy mencebikkan bibir, matanya menyipit penuh kekesalan. "Aku sama sekali tidak perduli, aku sangat sebal padanya. Padahal di istana sudah ada tempat untuk mencuci pakaian, tapi malah menyuruh kita mencuci di sungai yang jauh ini. Bukankah itu sangat tidak masuk akal," gerutunya bersungut-sungut.

"Arsy, kita ini orang bawah. Hanya seorang pelayan yang rendah, ada hak apa kita ikut komentar, yang terpenting sekarang kita harus segera menyelesaikan cucian ini lalu segera kembali ke istana," balas Ezra. Ia ingin segera mengakhiri tugas ini. Baginya, bicara di belakang tidak akan mengubah nasib rakyat kecil yang selalu ditindas penguasa.

"Kamu benar, dari pada membuang napas secara percuma, lebih baik kalau kita segera bergegas dan segera pergi dari sini," sahut Arsy akhirnya menyerah pada kenyataan.

​Di bagian lain istana, langkah kaki yang berat dan berwibawa menggema di koridor.

"Pangeran Zein Zulkarnain, saya dengar kepulangan Anda kali ini adalah untuk memenuhi keinginan Selir Sekar Wangi, beliau ingin Anda menikah dengan Tuan Putri dari kerajaan Slorokan."

Mahesa Jenar, sang pengawal pribadi bersurai hitam cepak, berjalan dengan penuh hormat di belakang tuannya. Ia menyambut kepulangan sang Pangeran Mahkota yang telah lama meninggalkan istana.

​Zein hanya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan makna. Lima tahun tidak bertemu, dan hal pertama yang dibahas adalah perjodohan. Pikirannya jauh dari urusan asmara. Ia kembali untuk menyelidiki korupsi menteri dan mencari Putri dari Lintang Timur yang bersembunyi di negerinya.

​Mahesa merasa canggung. Pangerannya terlalu dingin dan terlihat acuh, meski Mahesa tahu hati Zein sangatlah peduli. Namun, keingintahuannya tak bisa dibendung.

"Nawang Wulan, apakah kamu pernah bertemu dengannya?" tanya Zein tiba-tiba sambil terus melangkah menuju Aula Kerajaan. Selendang hijaunya berkibar, mencerminkan sosok yang welas asih namun tegas.

​Mahesa sedikit tersentak. "Tuan Putri Nawang Wulan adalah seorang Putri cantik dari kerajaan Slorokan, anak dari Ratu Anjani dan Raja Angga Raksa. Dia sangat cantik dan anggun, saya yakin kalau Pangeran sudah bertemu dengannya, Pangeran akan langsung menyukainya," jawabnya penuh keyakinan.

Drag... Drag... Drag...

​Suara langkah terburu-buru memecah keheningan koridor utama. Dua orang gadis pelayan berlari dengan wajah pucat pasi sambil memeluk keranjang cucian. Mereka telah melakukan kesalahan fatal: mengambil jalan pintas melalui beranda yang seharusnya hanya dilalui oleh kaum bangsawan.

"Arsy! Tunggu aku! Kita tidak boleh lewat sini, kalau Selir Sekar Tahu, kita bisa dipenggal," teriak Ezra dengan nafas tersengal.

​Namun, langkah Arsy mendadak melambat. Iris kecokelatannya terpaku pada sebuah pemandangan yang tak pernah ia bayangkan. Dari arah berlawanan, muncul sosok rupawan dengan surai kuning keemasan dan mata safir yang teduh namun tajam. Pria itu berjalan dengan keanggunan seorang dewa, kulitnya putih pucat dan auranya begitu berkarisma meski tanpa mahkota di kepalanya.

​Arsy terpesona. Matanya tidak bisa beralih dari ketampanan sang Pangeran Mahkota. Ia terus melangkah dengan tatapan kosong yang terkunci pada wajah Zein, hingga ia tidak menyadari bahwa di depannya, sebuah tiang penyangga berdiri kokoh menantinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Episode 4: Sandiwara Sang Istri Mungil

Episode 8: Antara Cemburu, Sakit dan Rahasia yang Terungkap