Episode 8: Antara Cemburu, Sakit dan Rahasia yang Terungkap

Episode 8: Antara Cemburu, Sakit, dan Rahasia yang Terungkap

​Dunia pendidikan terkadang menjadi panggung bagi drama yang lebih rumit daripada sekadar angka di atas kertas. Di dalam Islam, pacaran sebelum menikah memang dilarang keras karena dianggap sebagai pintu yang mendekatkan diri pada perbuatan zina. Tidak ada pembenaran atas nama "saling mengenal" jika di dalamnya terselip sentuhan tangan, pelukan, apalagi ciuman yang dilakukan sebelum ikatan sah terjalin. Itulah hikmah di balik larangan tersebut: menjaga kesucian hati dan raga.

​Namun, segalanya berubah ketika akad telah terucap. Pacaran setelah menikah adalah ibadah yang indah. Segala bentuk kemesraan antara suami dan istri—selama bukan kekerasan—adalah sah dan berbuah pahala. Dosa berubah menjadi rahmat di bawah naungan pernikahan yang diberkati.

​"Bu Indri benar sekali, saya dan Fira ..." Maulana menggantung kalimatnya, bermaksud menjelaskan status pernikahan mereka. Namun, Fira yang sudah terbakar api cemburu justru menyambar dengan kalimat yang membuat napas Indri seolah terhenti.

"Telah tidur bersama."

​Maulana hanya bisa tersenyum maklum, menahan tawa di dalam hati melihat cara provokasi istrinya yang luar biasa berani. Ia tahu pasti, saat ini Indri akan mengira mereka telah melampaui batas tanpa ikatan.

​"Astaghfirullah, Pak. Saya sungguh tidak menyangka kalau Bapak yang terkenal alim ternyata melakukan perzinahan," ucap Indri dengan wajah pucat karena syok.

​"Sekarang Bu Indri sudah tahu bukan? Jadi harap jangan lagi menginginkan Suami saya," balas Fira, kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya sebelum ia sempat berpikir.

​Jantung Maulana berdesir hangat. Suami saya. Kata itu terdengar begitu manis saat diucapkan oleh Fira. Ternyata, di balik sifat juteknya, gadis mungil itu menyimpan rasa memiliki yang besar.

​Indri menatap Fira dengan sorot mata tak percaya, mencoba mencari kebohongan di mata cokelat itu. "Kalian berdua sudah menikah?"

​Maulana diam, ia sengaja menunggu. Ia ingin tahu sejauh mana Fira akan mempertahankan klaimnya di depan umum. Setelah sempat ragu sejenak, Fira akhirnya mengangguk mantap. Baginya, lebih baik mengakui pernikahan ini daripada harus melihat wanita lain terus-menerus merayu suaminya.

​Maulana tidak bisa menyembunyikan binar kebahagiaan di mata safirnya. "Mohon maaf, Bu Indri. Seperti yang sudah dikatakan Istri saya tadi, sekarang mohon Bu Indri mengerti. Saya tidak ada niat menikah lagi."

​Dengan bahu yang merosot karena kecewa, Indri mengangguk pelan. Meski begitu, kilatan di matanya mengisyaratkan bahwa menyerah bukan pilihan utama baginya. "Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu, Assalamualaikum."

​"Wa'alaikumussalam," jawab Maulana tetap dengan kesantunan yang terjaga.

​Begitu pintu tertutup, Fira langsung menggerutu kesal. "Dia tidak mencerminkan sikap seorang Guru, bisa-bisanya menggoda Suami orang."

Maulana merintih pelan, rasa nyeri di lambungnya kembali menyerang dengan hebat. "Sayang, jangan bicara seperti itu. Bu Indri hanya mengungkapkan perasaan saja, dia tidak melakukan apapun bukan?"

​Fira berbalik, menatap suaminya dengan tatapan jengkel yang meledak-ledak. "Kenapa Paman membela Bu Indri?!"

​"Mana ada, Istriku. Aku hanya tidak ingin kamu buruk sangka saja pada orang, terutama dia adalah Gurumu," jelas Maulana sabar sembari meremat perutnya yang terasa seperti ditusuk-tusuk.

​Kemarahan Fira seketika luruh berganti cemas saat melihat butiran keringat dingin membanjiri dahi Maulana. Wajah suaminya yang putih bersih kini tampak pucat pasi, kehilangan rona merah yang biasanya menghiasi pipinya.

​"Paman, Paman kenapa?" tanya Fira dengan suara bergetar.

​"Hmm, tidak ada. Mungkin tadi aku salah makan, jadi sakit perut," jawab Maulana, memaksakan senyum meski bibirnya membiru.

​Fira menggeleng. Ia tahu ini bukan sekadar sakit perut biasa. "Paman, aku rasa Paman sakit beneran. Aku belikan obat, ya?"

​Ketakutan menyergap hati Fira. Meski ia sering bersikap kasar, kehilangan sosok pria pelindung ini adalah hal terakhir yang ia inginkan.

​"Tidak perlu, di ruang kesehatan ada obat pereda nyeri. Bisakah kamu ambilkan?" pinta Maulana lemah.

Tanpa membuang waktu, Fira berlari sekencang mungkin menyusuri koridor sekolah. Napasnya terengah-engah, matanya mencari-cari hingga akhirnya menemukan papan nama UKS. Ia segera mengetuk pintu dengan tidak sabar.

​"Ya, silakan masuk."

​Fira mendorong pintu dan menemukan seorang pria berambut blonde dengan kacamata bertengger di hidungnya. "Pak, saya butuh obat sakit perut. Tolong berikan saya obat sakit perut," seru Fira di sela napasnya yang memburu.

​"Kamu sakit?" tanya pria itu heran.

​"Bukan, Pak. Saya tidak sakit, Pak Ivan yang sakit!"

​Mendengar nama Ivan disebut, ekspresi pria berambut blonde itu berubah total. Tanpa sepatah kata pun, ia langsung melesat keluar ruangan, meninggalkan Fira yang terbengong-bengong.

​"Bukannya memberiku obat, malah kabur. Dasar aneh, lebih baik aku cari sendiri saja," gerutu Fira sambil mulai menggeledah lemari obat.


​Sementara itu, pria blonde yang tak lain adalah Fransis, sahabat karib Maulana, mendobrak pintu ruang kerja dengan keras. "Ivan!"

​Maulana menoleh dengan sisa-sisa kekuatannya. "Bisakah kamu tidak berteriak, Fransis?"

​Fransis mendekat dengan wajah penuh kekhawatiran yang nyata. "Muridmu mengatakan kalau kamu sakit perut, apakah itu benar?"

​Setelah Maulana mengangguk, Fransis langsung bertindak sigap. Ia menarik tangan Maulana, menuntunnya ke sofa panjang, lalu mendorong bahu sahabatnya itu agar berbaring. "Diam! Aku akan memeriksamu."

​Maulana hanya bisa pasrah. Ia tahu Fransis adalah dokter mumpuni yang rela "menyamar" menjadi penjaga UKS hanya demi memantau kesehatannya.

​"Van, cara makanmu tidak teratur ya? Sering telat makan? Bahkan sering tidak makan?" tanya Fransis setelah memeriksa denyut nadi dan menekan beberapa bagian perut Maulana.

​"Benar, ada apa?"

​"Jadi lambungmu bermasalah. Jangan lakukan kebiasaan buruk ini lagi. Aku akan menuliskan resep untukmu, nanti kamu tebus di apotek," tegas Fransis. Ia kemudian mengeluarkan alat suntik. "Tengkurep."

​"Jangan sembarangan, ini di sekolah. Sudahlah, aku tidur sebentar. Ini juga masih jam istirahat," tolak Maulana tegas. Ia tidak ingin ada yang melihatnya dalam posisi lemah seperti itu.

​Fransis mengangkat bahu. "Baiklah, aku akan kembali ke UKS. Aku ingin lihat apa yang sedang dilakukan muridmu itu, dia terlihat sangat mencemaskanmu."

​Maulana memejamkan mata, hatinya menghangat. Mendengar bahwa Fira mencemaskannya adalah obat yang lebih manjur daripada suntikan apa pun.

​Kembali ke UKS, Fira akhirnya menemukan obat yang dimaksud. Saat ia hendak membuka pintu untuk keluar, Fransis sudah berdiri di sana. Pria itu menatap Fira dengan senyum tipis yang penuh selidik.

​"Apakah kamu juga pengagum Ivan? Ya, seperti kebanyakan siswi di sini," tanya Fransis.

​Fira mengernyitkan kening, merasa tersinggung karena disamakan dengan gadis-gadis remaja yang hanya mengejar ketampanan suaminya. "Tidak, aku tidak sama dengan mereka. Aku juga bukan pengagum Pak Ivan. Baiklah Pak, aku permisi dulu."

​Fira melangkah pergi dengan langkah cepat, membawa obat di tangannya, tanpa menyadari bahwa Fransis terus memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Episode 4: Sandiwara Sang Istri Mungil

Episode 1: Sang Pangeran Mahkota dan Takdir yang Tersembunyi