Suami Terbaik Episode 15

Lampu kristal yang menggantung di langit-langit aula lelang itu membiaskan cahaya keemasan, namun bagi Fira, kilau itu terasa dingin dan menghakimi. Duduk di barisan terdepan, ia bisa merasakan ribuan anak panah berupa tatapan memuja yang tertuju pada pria di sampingnya—Ivan Maulana Rizky. Namun, ketika mata-mata itu beralih padanya, kehangatan itu seketika membeku menjadi tatapan rendah yang menusuk kulit.
Gadis mungil itu merapatkan duduknya, sesekali menoleh ke belakang dengan jemari yang saling bertautan cemas. "Kenapa tatapan orang kaya selalu merendahkan seperti itu?" bisiknya, sebuah rintihan kecil yang tenggelam di antara riuh rendah percakapan kelas atas, namun bergaung tajam di pendengaran Maulana.
Maulana, sang raksasa lembut dengan mata safir yang memikat, mengulurkan tangannya. Jemari kokohnya menggenggam jemari Fira yang dingin, sebuah gestur posesif yang seolah mendeklarasikan kepada seluruh dunia bahwa gadis di sisinya adalah pemilik takhtanya.
"Istriku, nanti kamu pilihlah barang yang ingin kamu beli. Aku akan membelikan untukmu," ucap Maulana, suaranya selembut beludru, diiringi senyum yang sanggup meluluhkan kebekuan hati.
Fira mendongak, matanya yang bulat beradu dengan keteduhan safir sang suami. "Paman, bukankah ini acara amal? Kenapa Paman ingin memberi barang?"
Maulana terkekeh rendah, mengusap puncak kepala istrinya. "Sayang, nanti akan ada barang yang dijual, hasil dari jualan itu akan disumbangkan pada yang membutuhkan."
Meski bahunya terangkat tanda tak paham, Fira kembali mengedarkan pandang. Jantungnya mencelos saat melihat Antonio duduk di kejauhan bersama seorang pria paruh baya. Kenapa dia ada di sini? tanyanya dalam diam. Namun, kecemasan itu segera teralihkan saat ia kembali menatap Maulana. Suaminya tampak begitu megah, lebih elegan dari siapa pun di ruangan itu.
"Paman, Paman tampan," puji Fira tulus, sebuah kekaguman yang meluncur begitu saja.
"Baru sadar?" goda Maulana dengan kerlingan jenaka yang membuat Fira mengerucutkan bibir. "Penasaran barang apa saja yang dijual," gumam Fira, mencoba fokus pada podium di mana sang MC mulai beraksi.
Di sudut lain, Antonio menggenggam tangannya erat. Ambisinya membara untuk mendapatkan cincin berlian safir yang dikabarkan akan dilelang. Dalam khayalannya yang naif, ia ingin melingkarkan cincin itu di jari Fira, tanpa sedikit pun menyadari bahwa gadis itu telah terikat janji suci dengan pria yang kini duduk di hadapannya.
Lelang dimulai. Sebuah lukisan indah dipajang, memicu badai tawar-menawar dengan angka yang membuat kepala Fira pening. "Mereka sungguh aneh," gerutu Fira pelan. "Padahal lukisan itu terlihat biasa saja, tapi kenapa dibeli dengan harga semahal itu? Aku saja ogah membelinya." Maulana hanya tersenyum simpul, memaklumi kepolosan istrinya yang baru pertama kali mencicipi keriuhan dunia kaum jetset.
Keajaiban terjadi saat sebuah kalung muncul ke permukaan. Sebuah karya seni yang memeluk bandul berbentuk teratai merah muda, berkilau seperti embun pagi yang tertimpa cahaya fajar.
"Paman, aku mau beli itu. Aku ingin seperti seorang Putri," ucap Fira dengan mata berbinar-binar.
Maulana menatap kalung itu, lalu beralih pada wajah istrinya yang penuh harap. Tanpa ragu, setiap kali harga dinaikkan, suara Maulana menyambar lebih tinggi, membungkam ambisi Antonio yang juga menginginkan kalung tersebut. Hingga akhirnya, palu diketuk, dan kalung teratai itu resmi menjadi milik Fira.
"Paman, terima kasih. Aku sangat senang!" seru Fira. Kebahagiaannya meluap, namun seketika ia teringat sang mertua. Dengan ragu ia menoleh pada Catherine, yang hanya membalas dengan anggukan teduh dan senyum tulus, seolah merestui kebahagiaan menantunya.
Namun, ketenangan itu terusik saat seorang wanita bergaun merah marun seksi—seperti mawar yang berduri tajam—mendekat dengan langkah angkuh. Ia adalah Aeri. Dengan mata genit yang mengedip pada Maulana, ia berujar, "Tuan Mizuruky, ternyata kau sangat bermurah hati. Tuan bahkan memberikan kalung itu pada pelayan."
Suasana mendadak dingin. Maulana menatapnya dengan pandangan sedingin es. "Nona Aeri, manalah mungkin saya akan memberikan pada seorang pelayan. Saya memberikan kalung itu untuk Istri saya, apakah ada yang salah?"
"Istri?" Aeri terkesiap, matanya menyapu sosok Fira dengan ketidakpercayaan yang menyakitkan. "Tuan Mizuruky, Anda tidak bercanda, bukan? Saya sudah sepuluh tahun mengejar Anda, sekarang Anda menikah dengan orang lain?"
Fira tertegun. Di balik rasa bangganya menjadi istri dari seorang Ivan Maulana Rizky, terselip rasa sesak melihat betapa banyak wanita yang mendambakan suaminya.
"Saya tidak meminta Anda untuk mengejar saya, anggap kita tidak berjodoh," balas Maulana datar, lalu berbalik menyeret Fira pergi.
Langkah mereka terhenti saat Antonio muncul dengan wajah pucat pasi. "Pak Ivan, Fira. Kenapa kalian ada di sini?"
"Menurutmu, kenapa kami bisa ke sini?" sahut Maulana dingin.
Belum sempat Antonio mencerna keadaan, Aeri kembali menyerang. Tanpa rasa malu, wanita itu memeluk lengan Maulana dengan paksa. "Mulai sekarang aku akan menjadi kekasihmu!" serunya penuh obsesi.
Maulana menghempaskan tangan Aeri dengan kasar, matanya menyalang galak. "Kamu bukan Istriku, maka tidak ada hak apa pun menyentuhku. Aku sudah punya Istri dan kekasih, aku tidak butuh lagi!"
Antonio terperangah. Ia mengenali Aeri sebagai wanita yang dipuja kakaknya, Satria. "Kak Aeri? Apa hubungan Kak Aeri dengan Pak Ivan?"
"Kami adalah sepasang kekasih," klaim Aeri tanpa urat malu.
"Aeri! Kamu jangan asal bicara!" gertak Maulana. "Jangan membuat rumor tidak benar, aku tidak ingin Istriku sedih."
Di tengah badai drama tersebut, Fira hanya bisa memijat pelipisnya yang berdenyut. Ternyata orang kaya sungguh merepotkan, pikirnya letih. Hebat sekali mengklaim suami orang sebagai kekasihnya di depan istrinya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Episode 4: Sandiwara Sang Istri Mungil

Episode 8: Antara Cemburu, Sakit dan Rahasia yang Terungkap

Episode 1: Sang Pangeran Mahkota dan Takdir yang Tersembunyi