Nirwana, Episode 10: Fitnah di Aula Kerajaan

Ne Shu tampak begitu senang, wajahnya berseri karena merasa selalu dilindungi oleh Sekar Wangi.  
“Sekarang kita pergi temui Ayahmu, kita akan melihat seperti apa putra mahkota dihukum,” kata Sekar Wangi dengan senyum licik yang menyembunyikan niat jahat.  

Ne Shu mengangguk cepat, hatinya berdebar penuh antusias. Ia tak sabar untuk mengadukan permasalahan ini kepada Jaya Negara, berharap melihat Zein jatuh dalam kehinaan.  

---  

Aula Kerajaan…  

Jaya Negara dan Prameswari duduk di singgasana, wajah mereka berubah terkejut mendengar cerita dari Ne Shu. Gadis itu dengan penuh air mata mengaku bahwa Zein telah memukulnya demi melindungi Arsy. Sulit dipercaya, seorang putra mahkota yang dikenal bijaksana tega melakukan hal itu pada Putri kedua dari Sekar Wangi.  

“Prajurit! Panggil Pangeran Mahkota kemari!” perintah Jaya Negara lantang.  

Beberapa prajurit segera maju, menunduk hormat, lalu bergegas mematuhi titah Raja.  

---  

Di koridor panjang istana, Zein dan Mahesa bertemu dengan utusan Jaya Negara. Panglima prajurit memberi hormat penuh takzim.  
“Salam, Yang Mulia. Kami datang untuk membawa Yang Mulia menghadap Raja.”  

Zein hanya mengangguk, tanpa bertanya alasan. Wajahnya tetap tenang, seolah tak ada sedikit pun rasa khawatir.  

Di tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan Arsy dan Ezra. Kedua pelayan itu menundukkan kepala penuh hormat.  
“Salam, Yang Mulia.”  
“Salam, Yang Mulia.”  

Zein menanggapinya singkat, hanya dengan gumaman dingin, “Hn.”  

Arsy merasa tidak puas, hatinya bergejolak. Ia memberanikan diri bersuara.  
“Tuan, tunggu,” katanya.  

Panglima prajurit menghentikan langkah, begitu pula barisan prajurit lainnya.  

“Tolong izinkan saya bicara dengan Yang Mulia Pangeran Zein,” pinta Arsy penuh harap.  

Namun panglima menjawab tegas, suaranya seperti pedang yang menebas udara.  
“Tidak bisa. Yang Mulia Pangeran dipanggil untuk diadili. Tidak ada siapapun yang boleh mengganggu.”  

Mahesa, Ezra, dan Arsy terkejut. Hati mereka diliputi kecemasan. Namun Zein tetap menunjukkan ekspresi tenang, seolah badai tuduhan itu tak mampu menggoyahkan dirinya.  
“Tidak perlu ribut, kita jalan sekarang,” perintah Zein dingin.  

Panglima bersama prajurit kembali melanjutkan perjalanan. Arsy, Ezra, dan Mahesa saling berpandangan, merasa ada yang tidak beres. Tanpa ragu, mereka memutuskan untuk mengikuti dari belakang.  

---  

Aula Kerajaan…  

Sekar Wangi dan Ne Shu berdiri di samping singgasana, senyum licik menghiasi wajah mereka. Kebahagiaan terasa semakin nyata saat melihat Zein dikawal oleh panglima dan prajurit, seolah seorang tahanan. Lebih menyenangkan lagi, Mahesa, Arsy, dan Ezra turut hadir menyaksikan.  

Zein melangkah masuk dengan tenang, senyum miring menghiasi bibirnya. Tatapannya melirik Sekar Wangi dan Ne Shu, penuh sinis.  
“Ayah, ada gerangan apa hingga Ayah meminta ku datang seperti seorang tahanan? Apa ini terkait dengan perlindungan terhadap pelayan Arsy?”  

Sekar Wangi segera menuding, suaranya lantang penuh tuduhan.  
“Pangeran Mahkota, kau sangat keterlaluan! Hanya demi seorang pelayan rendahan kau sampai tega melukai Adikmu sendiri!”  

Zein menoleh, menatap Sekar Wangi dengan sinis. Suaranya tenang, namun tajam menusuk.  
“Melukai Adikku? Bagaimana cara ku melukainya? Bukti apa yang Ibu selir miliki untuk tuduhan ini?”  

Sekar Wangi kelabakan. Wajahnya pucat, bibirnya bergetar. Ia tidak memiliki bukti, semua hanya berdasarkan aduan Ne Shu.  

Jaya Negara mengalihkan pandangan pada selir utamanya. Wanita itu tampak panik, tak mampu menjawab.  

Zein tersenyum tipis, lalu melirik Ne Shu.  
“Ayah, sepertinya Ibu tidak bisa menjawab… Mungkin Ne Shu bisa membantu. Kalau tidak ada yang bisa menjelaskan, biar aku tunjukkan apa yang sebenarnya terjadi.”  

Hening menyelimuti aula. Zein berdiri tegak, menunggu. Namun setelah beberapa menit, Sekar Wangi dan Ne Shu tetap tak mampu menunjukkan bukti.  

Akhirnya Zein kembali menatap Jaya Negara dan Prameswari, suaranya mantap, penuh keyakinan.  
“Ayah, Ibu. Karena mereka tidak bisa memberikan bukti apapun, maka biarkan aku menunjukkan kejadian yang sesungguhnya.”  

---  

Suasana aula kerajaan menegang. Semua mata tertuju pada Zein, sang putra mahkota yang berdiri dengan wibawa, siap mengungkap kebenaran. Intrik licik Sekar Wangi dan Ne Shu mulai retak, terancam runtuh oleh ketenangan dan keberanian Zein.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Episode 4: Sandiwara Sang Istri Mungil

Episode 8: Antara Cemburu, Sakit dan Rahasia yang Terungkap

Episode 1: Sang Pangeran Mahkota dan Takdir yang Tersembunyi