Episode 9

Lampion-lampion yang hanyut di aliran sungai seolah membawa pergi harapan Nawang Wulan yang baru saja hancur berkeping-keping. Mahesa dan pelayan sang Putri terpaku dalam keheningan yang menyesakkan; rumor tentang sikap Zein yang sedingin es dan tak berperasaan kini terpampang nyata di depan mata mereka, lebih tajam dari mata pedang mana pun.
"Maaf, Yang Mulia. Tuan Putri sangat mencintai Anda, tidakkah menurut Anda, apa yang Anda katakan tadi sudah keterlaluan," sahut pelayan Nawang Wulan, mencoba memecah keangkuhan sang Pangeran dengan nada gemetar namun menuntut.
"Kau tidak memiliki hak apa pun bicara, jadi jangan lancang!" sergah Mahesa cepat, auranya menekan sang pelayan agar tahu diri.
Zein memutar tubuhnya perlahan, gerakan yang elegan namun menguapkan hawa intimidasi yang pekat. Sang pelayan memberanikan diri menatap paras rupawan itu, namun ia justru menemukan tatapan safir yang tak tersentuh emosi.
"Apakah aku harus menikahi semua gadis yang menyukaiku?"
Pertanyaan retoris itu meluncur bagai tamparan keras yang mendarat tepat di wajah sang pelayan. Keheningan kembali merajai jembatan itu, membuat sang pelayan tertunduk dalam, wajahnya memanas karena malu yang luar biasa.
"Tidak pantas bagi seorang pelayan mengangkat kepala di hadapan seorang Pangeran Mahkota, karena bisa dianggap sebagai suatu tindakan tidak hormat," lanjut Zein, suaranya tenang namun mengandung otoritas yang mematikan.
Sang pelayan melebarkan matanya, telapak tangannya berkeringat dingin karena ketakutan yang menjalar hingga ke tulang. Dalam tunduknya, ia berharap majikannya, Nawang Wulan, akan bersuara untuk melindunginya, namun sang Putri sendiri tengah tenggelam dalam dukanya sendiri.
Tanpa sepatah kata lagi, Zein Zulkarnain membalikkan tubuh, jubah keemasannya berkibar rendah saat ia melangkah pergi. Mahesa berjalan selangkah mendekati pelayan yang masih gemetar itu, lalu berbisik tajam tepat di telinganya. "Jangan pernah lancang di hadapan Pangeran Mahkota."
Setelah memberi salam penghormatan terakhir pada Nawang Wulan, Mahesa segera menyusul langkah tuannya. Nawang Wulan perlahan mengangkat kepalanya. Air mata berderai membasahi pipi porselennya, tatapannya kosong, tertuju pada punggung Zein yang semakin lama semakin mengecil di telan kegelapan malam.
"Kenapa Pangeran langsung menolak? Bukankah kita memang sudah dijodohkan?" bisik pelayan itu prihatin, meski ia tak mampu berbuat apa-apa selain meratapi nasib majikannya.
Rencana di Kamar Pelayan
Di sudut lain istana yang jauh lebih sederhana, suasana terasa jauh lebih hangat meski dibayangi kecemasan.
"Ezra, apakah Pangeran tidak kembali?" tanya Arsy, memecah lamunan sahabatnya.
Ezra mengerutkan kening, menatap Arsy dengan tatapan aneh. "Apakah kau merasa Pangeran sudah kembali setelah menggendongmu?" balas Ezra mencibir, mencoba menyembunyikan rasa gelinya.
Arsy terkekeh pelan, rona merah tipis muncul di pipinya. "Kau benar. Kalau begitu kita harus segera keluar dari sini. Aku tidak ingin Putri Ne Shu marah dan mengadu macam-macam pada Selir Sekar."
Ezra mengangguk setuju. "Kau benar, tapi... Bagaimana kalau kita minta pada Pangeran untuk menjadi pelayan pribadinya?"
Usulan Ezra seolah menjadi secercah cahaya bagi Arsy. Zein Zulkarnain memang terlihat dingin dan menjaga jarak, namun tindakan heroiknya tadi membuktikan bahwa di balik lapisan es itu, ia bukanlah penguasa yang kejam.
"Aku setuju. Baiklah, kalau begitu lebih baik kita keluar dan mencari Pangeran." Keduanya segera merapikan diri dan melangkah keluar, mencari sang pelindung bersurai emas di tengah kemeriahan istana.
Dendam di Paviliun Meigui
Prang!
Suara keramik pecah bergema di Paviliun Meigui. Ne Shu menyapu semua barang di meja riasnya dengan satu gerakan kasar. Rahangnya mengeras, wajahnya yang cantik kini merah padam oleh amarah yang membakar.
"Ne Shu, apa yang terjadi?" Sekar Wangi melangkah masuk dengan wajah cemas, terkejut melihat kekacauan di kamar putrinya. Berita tentang Zein yang menggagalkan hukuman Arsy sudah sampai ke telinganya, dan ia tahu itulah sumber badai di hati Ne Shu.
Ne Shu membalikkan tubuh, matanya merah berair. Ia langsung menghambur ke pelukan ibunya, mencari perlindungan dan pembenaran.
"Ibu, aku sangat kesal! Hari ini aku berniat memberi hukuman 50 cambuk pada pelayan Arsy, tapi Kakak Pertama datang dan menghentikannya. Aku sangat kesal melihat Kakak Pertama sangat sayang pada pelayan rendahan itu!"
Sekar Wangi membelai rambut putrinya, namun matanya memancarkan kilat yang tak kalah tajam. "Pangeran Mahkota memang sangat keterlaluan. Bisa-bisanya dia ikut campur antara majikan dan pelayan."
Perlahan, Ne Shu melepaskan pelukannya, menatap sang Ibu dengan tatapan memelas yang dibuat-buat. "Ibu, tolong berikan aku keadilan."
Sekar Wangi mengangguk mantap, sebuah senyum licik tersungging di bibirnya. "Kamu tenang saja. Ibu pasti akan memberikan keadilan untukmu."
Ne Shu tersenyum puas. Di dalam benaknya, ia sudah membayangkan penderitaan yang lebih besar akan segera menimpa Arsy, sebuah pembalasan yang tak akan bisa dicegah oleh siapa pun.
Drama ini semakin memanas, Maulana. Kecemburuan Ne Shu dan rencana Selir Sekar Wangi menjadi ancaman nyata bagi Arsy.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Episode 4: Sandiwara Sang Istri Mungil

Episode 8: Antara Cemburu, Sakit dan Rahasia yang Terungkap

Episode 1: Sang Pangeran Mahkota dan Takdir yang Tersembunyi