Episode 12: Tanah Kelahiran dan Hati yang Terluka


Wanita itu, Fira, berdiri dengan wajah dingin. Cantik parasnya, namun hatinya sedang diliputi jengkel. Tiga puluh tahun ia dan sang suami mengarungi bahtera rumah tangga, selalu diganggu oleh sosok yang sama—Farhan Al Farizi. Bayangan masa lalu yang penuh intrik membuat darahnya mendidih setiap kali lelaki itu muncul. Dan kini, tanpa rasa malu, ia datang lagi… hanya untuk meminjam uang.  

“Baiklah, kalau begitu tunggu saja Paman Maulana kembali. Mungkin nanti malam baru kembali karena sekarang dia berada di Madangkara.”  

“Apa?” Farhan terperanjat. Nama itu—Madangkara—membuatnya gusar. Desa kecil yang ternyata menyimpan sejarah besar: tanah kelahiran kakak iparnya, tempat sang kakak ipar menimba ilmu. Baginya, tidak ada hal baik yang bisa lahir dari desa itu.  

“Kenapa kak Ivan yang terhormat harus berada di desa kecil seperti itu? Kak Fira yang benar saja, Kakak ku itu seorang Owner Mizuruky Corp, memiliki anak juga seorang pengusaha pemilik ZTM Corp dan ZEM, masak harus berada di desa kecil seperti itu,” katanya dengan nada meremehkan.  

“Heh, Farhan. Kamu dengar ya! Desa Madangkara yang kamu sebutkan itu adalah sebuah kota, sekalipun kota itu tidak seperti di sini. Tapi tetap saja, aku lahir dan besar di tempat itu. Kamu jangan suka menghina tempat kelahiran orang,” omel Fira, suaranya bergetar oleh emosi.  

Farhan hanya tersenyum remeh. Andai rumah itu tidak dijaga pengawal ahli bela diri, mungkin ia sudah melanjutkan rencana jahatnya seperti tiga puluh tahun silam. Namun kini, tidak ada lagi Cetrine yang dulu selalu membantunya.  

“Sudahlah, Kakak ipar. Kakak masuk saja, aku tidak akan menganggu mu, lagi pula aku sudah tidak tertarik dengan perawan tua.”  

Kata-kata itu menusuk hati Fira. Bagaimana mungkin ia disebut perawan tua, sedang ia telah memiliki dua anak, dan sang suami masih setia menemaninya dengan penuh cinta meski usia mereka sudah paruh baya.  

“Kamu keluar! Jangan datang ke rumah ku,” bentaknya galak.  

Namun Farhan tetap duduk, seolah rumah itu miliknya. Baginya, Fira hanyalah wanita aneh yang suka marah tanpa alasan.  

---

🌌 Adegan Kampus

Sementara itu, Tanvir menghentikan mobil Ferrari merahnya di depan kampus. Suasana masih ramai. Ia melihat mobil Bugatti hitam milik kakaknya masih terparkir—tanda kelas belum selesai. Dengan langkah mantap, pria bermata safir itu melangkah menuju ruang kelas, hatinya dipenuhi rasa penasaran: apakah sang pujaan hati masih ada di sana?  

Dari jendela, ia mengintip. Faeyza tampak diam-diam mencuri pandang pada Zein, kakaknya, yang tengah serius memperhatikan sang ayah mengajar. Hati Tanvir mendidih melihat kedekatan itu.  

“Kenapa tadi harus aku yang pergi ke ZEM? Padahal itu perusahaan milik kak Zein. Sekarang lihatlah bagaimana Faeyza berusaha mendekati Kakak ku. Aku tidak akan membiarkannya,” batinnya dongkol.  

Ia hendak membuka pintu, namun suara sang ayah menutup pelajaran membuatnya mengurungkan niat. Ia memilih duduk di samping pintu, menunggu.  

Clek…  
Maulana membuka pintu, berjalan ke arah kiri, tak menyadari putranya duduk di teras menanti.  

Zein membereskan perlengkapan adiknya, lalu bangkit. Faeyza segera menghentikannya.  

“Zein, apakah kamu punya waktu sebentar. Aku ingin membicarakan sesuatu dengan mu.”  

“Hm, bisa. Kamu ingin berbicara di mana? Tapi harap jangan berduaan, karena khawatir yang ke tiga adalah setan,” jawab Zein ramah. Kata-kata itu membuat wajah Faeyza merona malu.  

Tiba-tiba, suara lain menyela.  
“Bagaimana kalau aku juga ikut serta? Jadi kan tidak hanya kalian berdua?” Tanvir muncul dari balik pintu.  

Faeyza terkesima. Penampilan Tanvir berbeda, aura CEO melekat pada dirinya.  

“Tanvir? Kamu kok beda banget, kamu terlihat lebih manusiawi,” ucapnya gugup, menutupi rasa malu yang sebenarnya ingin mengatakan “lebih tampan.”  

“Manusiawi apa maksudmu? Kamu pikir aku tadi hewani, atau jangan-jangan kamu mulai jatuh cinta pada ku ya …” Tanvir mengedipkan mata genit. Wajah Faeyza semakin memerah.  

“Sudalah, kamu jangan asal bicara. Tadi kamu kemana? Kok diganti dengan …” ucapnya tergantung, tak sanggup menyebut nama Zein.  

“Dengan …” ulang Tanvir.  

“Dengan … dengan Kakakk mu, karena kamu kamaluan ku hampir saja keluar.” Kata-kata gugup itu membuat semua terdiam.  

Zein menatapnya, Tanvir terperangah.  
“Maksud mu … tadi kamu hampir telanjang?” tanyanya, setengah tak percaya.  

Plak!  
“Adaw …” Tanvir mengelus lengannya, panas akibat geplakan Faeyza.  

“Mana ada aku telanjang di depan kelas, apa lagi di ruangan ini tadi banyak orang. Ada Pak Maulana, ada Rico, ada Nita dan ada Zein …” Wajahnya memerah sempurna saat menyebut nama Zein Ekky Maulana.  

Tanvir merengut. Ia ingin hanya dirinya yang membuat pipi gadis itu bersemu, bukan pria lain. “Sudalah, ayo kita pergi.” Ia menarik tangan Faeyza, membawanya menjauh.  

Zein menghela napas panjang. “Adikku, apakah kamu cemburu? Hingga kamu bahkan melanggar aturan agamamu bahwa pria dan wanita yang bukan muhrim tidak boleh bergandengan tangan.” Suaranya lirih, tangannya menyentuh dada, rasa nyeri kembali menyerang.  

Nita dan Rico yang melihatnya saling pandang.  
“Nita, apakah barusan aku salah silah? Zein seperti sedang sakit?” tanya Rico.  

Nita segera menghampiri. “Kak Zein, apakah kakak baik-baik saja? Kakak terlihat seperti orang yang sedang sakit barusan.”  

Zein tersenyum tipis. “Saya baik-baik saja, terimakasih atas perhatiannya. Saya permisi dulu.”  

Nita mengangguk, meski hatinya merasa ada yang aneh. Ia hanya bisa berharap Zein benar-benar baik-baik saja.  

“Bagaimana, Nit? Apakah orang aneh itu baik-baik saja?” tanya Rico.  

“Orang aneh? Kamu bilang kakak Zein itu aneh? Kamu jangan lupa dia itu anak dosen kita, selain itu dia juga memiliki paras yang sangat rupawan alaihim dan sangat sopan. Tapi … mungkin kalau bagi orang seperti ku, sedikit kurang enak karena terlalu kaku. Aku lebih suka pada Tanvir,” jawab Nita sambil membayangkan sosok pujaan hatinya.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Episode 4: Sandiwara Sang Istri Mungil

Episode 8: Antara Cemburu, Sakit dan Rahasia yang Terungkap

Episode 1: Sang Pangeran Mahkota dan Takdir yang Tersembunyi