Calon Imamku Episode 14

Calon Imamku — Episode Empat Belas: Benang Takdir yang Terajut Pilu
Malam merayap perlahan, membawa hembusan angin yang terasa dingin menusuk tulang. Di dalam kabin mewah Maybach yang meluncur membelah kegelapan, suasana terasa begitu berat oleh keheningan yang menyesakkan. Maulana—pria yang hatinya seputih namanya—menatap lurus ke depan, namun pikirannya tertuju sepenuhnya pada putra sulungnya yang duduk di sampingnya. Baginya, melihat Zein menderita adalah sembilu yang menyayat sukma.
"Baiklah," suara Maulana memecah kesunyian, rendah namun penuh penekanan. "Ayah akan antarkan kamu ke rumah Nenek. Sekalian Ayah juga akan bilang pada Nenek kalau kamu sakit dan butuh perawatan."
Zein, yang wajahnya sepucat rembulan, menggeleng lemah. Kelembutan hatinya melampaui rasa sakit yang menderanya. "Jangan, Ayah. Nenek itu sudah tua, dia lemah dan rentan. Aku tidak ingin terlalu membebani dirinya. Aku akan baik-baik saja setelah minum obat nanti. Ayah tidak perlu khawatir," bisiknya, mencoba melindungi sang nenek, Cetrine, dari kegelisahan.
Namun, cinta seorang ayah terkadang mewujud dalam ketegasan yang tak terpatahkan. "Tapi Zein, orang sakit itu harus dirawat, bukan dibiarkan," balas Maulana, matanya menyiratkan luka yang dalam. "Kamu memiliki keluarga yang tidak pernah mengeluh untuk merawatmu, kenapa kamu malah ingin menahan rasa sakitmu sendirian? Sudah, sekarang kalau kamu ingin ke rumah Nenekmu, biar Ayah katakan padanya kalau kamu sakit."
"Tapi, Ayah... Bukankah Ayah sendiri yang bilang, kalau rasa sakit itu karena Allah ingin mengampuni dosa kita?" Zein masih berusaha mencari celah demi ketenangan hati neneknya.
Maulana menghela napas, sebuah senyum getir tersungging di bibirnya. "Benar, tapi bukan berarti kamu harus pasrah tanpa berusaha untuk sembuh. Artinya kamu putus asa, dan orang yang putus asa itu tidak disukai Allah. Kamu tidak perlu berdebat denganku. Kalau kamu memang bersikeras ingin pergi ke rumah Nenekmu, terserah kau saja. Tapi kita ke rumah sakit dulu."
Kalimat terakhir itu bagai petir di siang bolong. Zein menatap ayahnya dengan sorot mata penuh tanya dan rasa bersalah. "Ayah, bukan begitu. Ayah, maafkan aku jika aku sudah membuatmu kesal. Tapi kenapa kita harus ke rumah sakit?"
Maulana menoleh, menatap dalam ke netra putranya. Ada pengorbanan yang tak terbatas di sana. "Bukankah tadi kamu bilang membutuhkan donor jantung? Biar Ayah yang memberikannya untukmu. Dengan begitu kamu bisa bebas pergi ke mana pun dan Ayah tidak perlu khawatir lagi."
Dunia seakan berhenti berputar bagi Zein. Kalimat itu bukan sekadar gertakan, melainkan bukti betapa besar nyawa ayahnya dipertaruhkan demi dirinya. Air mata hampir luruh. "Tidak, Ayah. Jangan seperti itu. Baiklah aku akan pulang. Aku akan menghubungi Nenek nanti, aku akan menjelaskannya. Ayah jangan sedih lagi."
Di tengah haru yang membiru, Maulana meraih ponselnya. Jemarinya bergetar saat mendial nomor ibunya, Cetrine. Sebuah hubungan yang sempat merenggang oleh kabut masa lalu kini mencoba mencari jalan pulang.
"Hallo..." Suara renta di seberang sana terdengar gemetar.
"Assalamualaikum, Ibu."
"Ivan? Apakah ini kamu?" Isak tangis Cetrine pecah seketika. Rindu yang tertahan bertahun-tahun tumpah dalam satu tarikan napas.
"Benar, Ibu. Ibu di mana? Kenapa Ibu menghindar dariku? Bukankah kalau ada masalah Ibu bisa menjelaskannya padaku? Atau kalau aku punya salah, Ibu bisa mengatakannya," ucap Maulana dengan nada yang begitu puitis dan penuh penghormatan, membuat Zein yang mendengarnya merasa takjub akan keluhuran budi ayahnya.
"Van, Ibu hanya merasa malu untuk bertemu denganmu. Selama ini Ibu telah melakukan banyak kesalahan padamu, Ibu tidak berani untuk bertemu denganmu," rintih Cetrine di sela isaknya.
Maulana memejamkan mata, menghalau bayang-bayang pahit. "Ibu, kenapa Ibu berbicara seperti itu? Aku sama sekali tidak menaruh dendam padamu. Aku bersama Zein sekarang, aku akan membawanya pulang. Apakah Ibu keberatan?"
"Iya, Ibu tidak keberatan. Tapi... apakah kamu sekarang sudah tidak merasa sering pusing lagi?" pertanyaan itu membuat jantung Maulana berdegup kencang. Ia melirik Zein, berusaha menyembunyikan kerapuhan fisiknya sendiri.
"Aku baik-baik saja, Ibu. Fira menjagaku dengan sangat baik. Baiklah kalau begitu aku tutup dulu panggilan telponnya."
Namun, telinga Zein terlalu tajam. "Ayah, apakah akhir-akhir ini Ayah sering merasa pusing?"
Maulana tersenyum, menepuk bahu putranya dengan sisa kekuatan yang ada. "Ayah baik-baik saja, sudahlah sekarang kita langsung pulang. Ibumu pasti akan sangat senang saat melihat kamu telah kembali."
Sementara itu, di sudut kota yang berbeda, Tanvir menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah sederhana. Cahaya lampu jalanan menyinari wajahnya yang gusar namun tetap penuh harap pada gadis di sampingnya.
"Ini rumahmu?" tanya Tanvir.
"Iya, kenapa? Apakah menurutmu rumahku seperti orang miskin?" sahut Faeyza ketus.
Tanvir terkekeh lembut, mencoba mencairkan suasana. "Mana mungkin aku berpikir seperti itu. Sayang, aku adalah calon suamimu jadi nanti aku yang bertanggung jawab penuh atas dirimu."
Faeyza mendengus, matanya menatap hampa ke arah jendela. "Hais, sudahlah. Kamu ini selalu saja seperti itu. Tanvir, aku ini menyukai Zein. Aku yakin kok kalau dia adalah seorang pria yang ada dalam mimpiku, dia adalah calon imamku."
Hati Tanvir bagai tertusuk duri, namun ia tetap mencoba bertahan. "Dia bukan pria yang dalam mimpimu itu, Za. Lagi pula Kak Zein itu tidak memiliki perasaan apa pun terhadapmu. Mungkin sekarang kamu masih belum menerima perasaanku, tapi nanti aku yakin kamu akan mengerti kalau aku sungguh tulus menyukaimu."
"Tidak, sekali aku bilang tidak ya tidak. Sudahlah, aku masuk dulu. Da... Tanvir!" Faeyza melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Tanvir menatap punggung gadis itu hingga hilang di balik pintu. Ia menghela napas panjang, merenungi takdir cintanya yang selalu berbayang-bayang pesona kakaknya. "Sudahlah, lebih baik aku kembali saja. Aku merindukan Ibu," gumamnya sembari melajukan mobil, membayangkan kehangatan rumah di mana ayah dan ibunya selalu berbagi kasih meski dengan cara yang unik.
Di dalam rumahnya, Faeyza disambut oleh percakapan hangat antara Yasmin, ibunya, dan Ulfi, adiknya. Awalnya ia ingin abai, namun satu kalimat dari Ulfi menghentikan langkahnya di ambang pintu kamar.
"Kak, hari ini aku bertemu dengan seorang pria yang sangat tampan. Tapi dia menggunakan baju mirip gaya China begitu, jubah tapi ada baju luarnya juga. Dia sangat tampan, aku menyukainya," ucap Ulfi dengan mata berbinar.
Darah Faeyza seakan tersirap. Deskripsi itu... pria berpakaian jubah elegan yang memikat jiwa... tidak salah lagi. Sosok yang dipuja adiknya adalah pria yang sama yang telah mencuri hatinya: Zein Ekky Maulana.
Persaingan tak kasat mata kini dimulai, tepat di bawah atap rumah mereka sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Episode 4: Sandiwara Sang Istri Mungil

Episode 8: Antara Cemburu, Sakit dan Rahasia yang Terungkap

Episode 1: Sang Pangeran Mahkota dan Takdir yang Tersembunyi