Calon Imamku Episode 13


Calon Imam Ku – Episode Tiga Belas

Tiga pasang mata saling bertemu dalam tatapan yang berbeda.  
Tanvir, dengan hati yang bergejolak, menatap gadis pujaannya penuh cemburu. Betapa hatinya panas melihat Faeyza begitu sibuk mencari perhatian kakaknya, Zein.  

> "Zein, ada yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Faeyza, matanya tak lepas dari paras rupawan itu.  

Zein menoleh, senyumnya tetap sopan, suaranya tenang.  
> "Iya, Nona ingin mengatakan apa?"  

Tanvir merasakan dadanya sesak. Sendok di tangannya tak lagi berarti, makanan di hadapannya tak tersentuh.  
"Kenapa aku seperti obat nyamuk di sini?" batinnya meradang.  

> "Zein menyukai wanita seperti apa?" tanya Faeyza, penuh rasa ingin tahu.  

Belum sempat Zein menjawab, Tanvir menyela dengan nada ketus, seolah mewakili sang kakak.  
> "Setidaknya bukan wanita sepertimu."  

Faeyza menoleh tajam, matanya mendelik.  
> "Nggak ada yang tanya sama kamu," balasnya sewot.  

Tanvir tak menyerah. Ia mencondongkan tubuh, suaranya gemas bercampur kesal.  
> "Za, kamu ini aneh. Ada aku yang suka padamu, tapi kamu malah mengejar kak Zein. Padahal kak Zein sama sekali tidak tertarik pada wanita. Kak Zein itu lebih suka gadis dari pesantren, yang tahu agama. Apakah kamu berasal dari pesantren?"  

Faeyza terdiam sejenak, wajahnya memerah menahan malu.  
> "Ya… bukan juga sih. Keluargaku juga Islam KTP. Sholat saja jarang, hanya kalau ada orang meninggal."  

Zein menatap lembut, suaranya penuh pengertian.  
> "Tidak apa. Nanti pelan-pelan Faeyza bisa mengarahkan keluarganya untuk rajin sholat. Yang terpenting tetap harus sopan pada orang tua, agar tidak menimbulkan marah atau kesalahpahaman."  

Faeyza tersenyum, hatinya luluh.  
> "Nah, benar. Zein, kamu selalu mengerti aku."  

Tangannya terulur, hendak menyentuh jemari pria rupawan itu. Namun Zein segera menarik tangannya, wajahnya tetap teduh.  

> "Sabda Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam: Sungguh jika kepala seorang laki-laki ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik baginya daripada dia menyentuh seorang perempuan yang tidak halal baginya. Faeyza, saya minta maaf kalau tidak bisa mengizinkanmu menyentuh tangan saya. Karena ini dilarang. Harap kamu mengerti dan tidak mengulangi lagi. Kamu bukan istriku atau keluargaku."  

Kata-kata itu membuat Faeyza menunduk, wajahnya memerah menahan malu.  

Zein bangkit, tubuhnya tegap namun langkahnya tertahan.  
> "Kalau Faeyza sudah tidak ada yang ingin dibicarakan, saya pergi dulu. Saya masih banyak urusan."  

Namun sebelum benar-benar pergi, ia menoleh pada sang adik.  
> "Adikku, apakah kamu ingin kembali bersamaku? Tempat ini terasa sepi, aku khawatir ada setan yang menggoda kalian."  

Tanvir menghela napas, menoleh pada Faeyza.  
> "Za, ku antar kamu pulang yuk."  

Faeyza mengangguk, meski hatinya berharap Zeinlah yang menemaninya. Namun ia tahu, sekadar menyentuh tangan saja sudah membuatnya mendapat ceramah panjang.  

Tanvir bangkit, meraih tangan gadis itu. Zein hanya bisa menggeleng, kecewa pada sikap adiknya.  
> "Tanvir, baru saja aku menjelaskan kalau itu tidak benar. Kenapa kamu melakukannya lagi?"  

Zein menekan dadanya, rasa sakit kembali menyerang.  
"Astagfirullah hal adzim…" bisiknya lirih. Langkahnya terseret, tubuhnya melemah. Batuknya terdengar berat.  
> "Uhuk… Uhuk…"  

Sementara itu, Tanvir membuka pintu mobil untuk Faeyza.  
> "Masuk, aku akan mengantarkanmu."  

Faeyza menatapnya heran.  
> "Tanvir, kenapa sih kalau di dekat kakakmu kamu selalu kesal? Apakah kakakmu melakukan kesalahan?"  

Tanvir menggeleng, suaranya bergetar.  
> "Siapa yang kesal pada kak Zein? Aku hanya cemburu kalau kamu lebih suka dekat dengannya. Aku suka kamu, berulang kali aku menyatakan perasaan. Setidaknya jangan bikin hati panas."  

Faeyza mendengus malas.  
> "Terserah kamu saja."  

Ia masuk ke mobil, duduk dengan tenang. Tanvir menutup pintu, lalu masuk ke kursi kemudi. Mobil melaju, membawa mereka menjauh.  

Di sisi lain, Maulana baru saja selesai rapat dengan para dosen. Matanya tiba-tiba menangkap sosok putra pertamanya, Zein, yang berjalan sempoyongan. Tubuhnya hampir jatuh.  

> "Zein, apa yang terjadi padamu?" tanyanya panik.  

Zein tersenyum lemah.  
> "Tidak apa, Ayah. Ini sudah sering terjadi. Nanti juga hilang sendiri."  

Maulana menahan rasa khawatir.  
> "Baiklah, Ayah tidak akan memaksa. Lebih baik kamu pulang bersama Ayah. Kamu tidak sanggup mengemudi kalau seperti ini."  

Ia meraih tubuh putranya, membantu masuk ke mobil Maybach miliknya. Supir segera melajukan kendaraan.  

Di dalam mobil, Maulana menatap penuh kasih.  
> "Zein, apakah selama dua tahun ini ada masalah dengan kesehatanmu?"  

Zein menarik napas panjang, menahan nyeri di dadanya.  
> "Ceritanya panjang, Ayah. Aku mengalami kecelakaan. Akibatnya, jantungku rusak. Kata dokter, aku membutuhkan donor jantung."  

Maulana terdiam, syok. Ingatannya melayang pada masa lalu, ketika ia sendiri pernah merasakan sakit yang sama.  
> "Zein, Ayah pernah mengalami apa yang kamu rasakan. Tapi Ayah tidak menyerah. Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Dengan sabar, sholat, dan pasrah, Insya Allah kamu akan mampu melewati semua ini."  

Zein menatap ayahnya, matanya berkaca-kaca.  
> "Aku mengerti, Ayah. Terima kasih. Tapi… kalau aku pulang sekarang, bagaimana dengan Nenek? Nenek sudah sangat baik padaku. Aku tidak ingin membuatnya merasa aku berkhianat."  

Suasana hening. Mobil terus melaju, membawa dua hati yang sedang diuji oleh takdir.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Episode 4: Sandiwara Sang Istri Mungil

Episode 8: Antara Cemburu, Sakit dan Rahasia yang Terungkap

Episode 1: Sang Pangeran Mahkota dan Takdir yang Tersembunyi