Azkan Mazendra episode 2
Malam semakin larut, udara menusuk tulang dengan dingin yang merayap pelan. Ling Yue membaringkan tubuhnya di atas ranjang usang, matanya masih dihantui tanda tanya tentang sosok pria berjubah putih yang dua malam berturut-turut hadir dalam tidurnya. Perlahan, kesadaran memudar, dan ia terlelap dalam pelukan mimpi.
Dalam mimpi itu, Ling Yue duduk di sebuah bangku taman. Di belakangnya, bunga-bunga bermekaran dengan warna yang tak pernah ia lihat sebelumnya, harum semerbak memenuhi udara. Ia tidak tahu bahwa taman itu adalah taman bunga Kerajaan Harimau Putih, yang bersemayam di puncak Gunung Zi Ling.
Di sampingnya, Azkan Mazendra duduk tenang. Jubah kebesarannya berkilau dalam cahaya rembulan, rambut panjang berwarna perak metalik tergerai indah, memantulkan aura wibawa yang tak bisa disembunyikan. Namun bukan penampilan itu yang membuat hati Ling Yue gelisah.
Ia menoleh, ingin menatap wajah pria berjubah putih yang terus mengganggu tidurnya. Namun sebuah telapak tangan ramping tiba-tiba menyentuh pucuk kepalanya, menekan lembut, memaksanya menunduk. Seakan ada larangan gaib: ia tidak boleh memandang sosok di sampingnya.
Ling Yue merengut, kesal dengan perlakuan itu.
"Kamu siapa?! Kenapa dua malam ini kamu datang ke mimpiku?!"
Pria berjubah putih itu tetap diam. Namun, jika saja Ling Yue tahu, di balik keheningan itu Azkan Mazendra tersenyum gemas. Ekspresi kesal gadis polos itu justru menjadi hiburan baginya. Baginya, melihat calon permaisurinya merengut penuh penasaran adalah kebahagiaan yang tak ternilai.
Malam berganti. Mentari pagi menembus jendela rumah tua, menyinari wajah Ling Yue yang baru saja terbangun. Kebingungan dan kekesalan masih bersemayam di hatinya, namun tetap saja ia belum mampu menebak siapa sosok pria berjubah putih itu.
Di puncak Gunung Zi Ling, berdiri megah Istana Gaib Harimau Putih. Di dalamnya, Raja Azkan Mazendra duduk di atas singgasana yang dipahat dari keabadian. Netra safirnya memancarkan wibawa, sementara di hadapannya berbaris para menteri dan pejabat kerajaan.
Tian Lin, sang menteri, maju dengan wajah serius. Ia menunduk hormat sebelum menyampaikan laporan.
"Yang Mulia, rakyat Dong Nan Zhi Xing semakin gencar berburu Harimau Putih. Mereka ingin menjadikan para harimau sebagai pelayan dan pelindung."
Suasana ruangan mendadak tegang. Kata-kata itu bergema di dinding istana, seperti peringatan bahwa dunia manusia mulai mengusik keseimbangan gaib.
Di ruang pertemuan Istana Gaib Harimau Putih, suasana hening seakan menahan napas. Tian Lin, sang menteri, melangkah maju dengan wajah penuh kewaspadaan. Suaranya bergema di antara dinding megah yang dipahat dari cahaya abadi.
"Yang Mulia, di bawah kaki gunung, prajurit saya melihat ada manusia kembali melakukan pemujaan terhadap bangsa kita. Mereka membawakan bunga-bunga dan wewangian. Selain itu... rakyat kita sangat senang meski jual mahal, mereka menjadi pelayan dan pelindung bangsa manusia."
Azkan Mazendra menyeringai tipis, senyum yang lebih mirip guratan dingin daripada tanda kegembiraan. Baginya, tingkah manusia adalah keanehan yang tak pernah habis: memuja bangsanya, mengirim sesajen, melakukan ritual persembahan. Namun, ia tahu betul—sehebat apapun bangsanya, tetap tak akan mampu menandingi kerajaan Tuhan Sang Pencipta. Ia sendiri hanyalah seorang hamba.
"Biarkan saja mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Mereka sudah diingatkan untuk mengabdi pada Tuhannya, namun memilih mencari pelindung lain selain Tuhan. Itu bukan urusan kita. Selain itu... rakyat kita sendiri yang bersedia menjadi pelindung bangsa manusia lemah itu."
Suara Azkan menggelegar, dingin, dan penuh wibawa. Getarannya merambat di udara, membuat ruang pertemuan seakan bergetar oleh kekuatan yang tak kasat mata. Para menteri menunduk, tak seorang pun berani menentang titah itu.
Pertemuan selesai. Dalam sekejap, sosok Azkan Mazendra lenyap dari singgasananya, tubuhnya terurai menjadi cahaya putih yang menembus ruang dan waktu. Ia muncul di dunia fana, tepat di samping Ling Yue yang sedang berjalan menuju toko sederhana di kota kecil.
Langkah gadis itu terhenti. Jantungnya berdetak cepat, matanya menangkap bayangan seekor harimau putih besar berdiri di sisinya. Sosok itu tidak padat, seolah hanya kabut bercahaya yang membentuk tubuh raksasa. Namun aura keagungan yang memancar darinya membuat udara di sekitar terasa berat.
Ling Yue mengerjapkan mata, mencoba memastikan penglihatannya. Jemari mungilnya terulur, hendak menyentuh kulit harimau itu. Namun tangannya menembus tubuh sang penguasa gaib, seakan menyentuh bayangan yang hidup.
"Apa aku salah lihat? Tapi itu terasa nyata," bisiknya, kebingungan merambat di wajahnya.
Di balik tatapan safir yang berkilau, Azkan Mazendra hanya tersenyum samar. Ia membiarkan gadis itu meraba batas antara dunia manusia dan dunia gaib, seolah menguji keyakinan hatinya.
Ling Yue menggelengkan kepala, berusaha mengusir bayangan yang menari di benaknya. Ia bukan ahli supranatural, bukan pula seorang spiritualis yang mampu menyingkap tabir gaib. Keyakinannya sederhana: semua ini hanyalah halusinasi.
"Aku pasti hanya halusinasi, mana mungkin ada harimau putih di sini? Harimau putih itu kan punya orang-orang yang punya khodam macan putih," bisiknya lirih, seakan menertawakan dirinya sendiri.
Namun di balik kata-kata itu, Azkan Mazendra terdiam. Netra safirnya menyipit, menahan gejolak yang bergemuruh di dadanya. Ia tidak terima dengan ucapan gadis itu. Baginya, alam gaib dan alam nyata adalah dua sisi dari satu koin yang sama. Ada berbagai macam ras, suku, dan bangsa jin; bangsanya adalah Harimau Putih—bukan satu atau dua ekor, melainkan ratusan bahkan ribuan.
Jika ada yang memilih terikat kontrak dengan manusia, maka ada pula yang lain, termasuk dirinya, yang tidak pernah sudi menerima sesajen apapun. Bunga-bunga, wewangian, persembahan fana—semua itu tak berarti. Sebagai seorang Penguasa, ia hanya akan menjalin hubungan dengan manusia pilihannya, bukan dengan ritual kosong.
Azkan Mazendra mulai berjalan, tubuh harimau putihnya berputar mengitari Ling Yue. Gerakannya anggun, namun aura yang dipancarkan membuat udara di sekitar bergetar. Ia ingin mengatakan bahwa penglihatan gadis itu tidak salah, hanya saja keraguan masih membelenggu hati Ling Yue.
Ling Yue tersenyum kecil, polos, melihat sosok harimau putih yang mengitarinya.
"Kamu siapa? Kamu harimau kabur kah? Atau nyasar," ucapnya dalam hati, nada bercampur antara heran dan geli.
Azkan Mazendra tersinggung. Ia sengaja meninggalkan rapat kerajaan untuk menemui gadis ini, namun justru disebut harimau nyasar. Senyum tipis terbit di bibirnya, penuh ironi.
"Dasar manusia, tapi aku cinta," gumamnya, suara batin yang bergema di ruang tak kasat mata.
Lalu, dengan suara yang dalam dan berwibawa, ia berbisik pada jiwa Ling Yue:
"Istriku, kamu harus hati-hati. Kamu memiliki energi putih dan suci yang banyak disukai bangsa jin. Mereka akan berbondong-bondong mendekatimu. Kamu harus hati-hati. Kalau kamu butuh bantuanku, panggil namaku, Zen."
Namun telinga fana Ling Yue tidak mendengar. Yang ia rasakan hanyalah bisikan samar yang bergetar di dalam hatinya, menyebut sebuah nama asing. Kebingungan merambat di wajahnya, membuatnya semakin tak mengerti siapa sosok gaib yang terus hadir dalam hidupnya.
Ling Yue tidak ingin membiarkan pikirannya berlarut-larut. Ia kembali melangkahkan kaki kecilnya, sementara dari kejauhan, Azkan Mazendra menatap punggung mungil itu dengan sorot mata tajam. Namun tiba-tiba, dadanya bergetar. Ia merasakan gelombang energi negatif yang sangat besar mendekati Ling Yue, seperti badai hitam yang hendak merenggut jiwa gadis itu.
Dengan kesaktian yang melampaui batas manusia, Azkan menelusuri sumber energi itu. Pandangannya menembus ruang dan waktu, hingga menemukan jawabannya: dari belakang rumah Ling Yue, tepat di kediaman seorang dukun tua yang ditakuti warga desa Tou.
"Brengsek! Berani sekali dukun sinting itu menyerang Istriku, aku pasti akan membereskanmu," geramnya, suara rendah penuh amarah.
Dalam sekejap mata, tubuhnya lenyap dari tempat itu, lalu muncul kembali di sisi Ling Yue.
Ling Yue merasakan tubuhnya hangat, padahal ia tidak sedang demam. Di sampingnya, Azkan Mazendra berdiri gagah perkasa, aura putihnya berkilau laksana perisai surgawi. Serangan gaib yang hendak menghantam Ling Yue pecah berantakan hanya dengan satu kibasan tangannya. Energi hitam itu hancur, lalu berbalik menghantam pengirimnya.
Tanpa menunggu lama, Azkan melesat menuju rumah sang dukun. Dari luar, bangunan itu tampak seperti kediaman seorang spiritualis, namun di dalamnya tersimpan kesyirikan yang pekat, lebih gelap dari malam tanpa bintang.
Dengan mudah, Azkan menembus penghalang gaib yang melindungi rumah itu. Dalam sekejap, ia berdiri di hadapan sang dukun dengan wujud asli: seekor Harimau Putih raksasa, mahkota emas bertengger di kepalanya, gelang emas melingkari tangan dan kakinya, memancarkan aura penguasa yang tak terbantahkan.
Dukun tua itu terperanjat. Matanya berbinar, bibirnya tersenyum penuh keserakahan.
"Salam, penguasa Harimau Putih," ucapnya, mengira ia telah mendapatkan khodam sakti yang akan tunduk padanya.
Namun Azkan Mazendra membuka mulutnya, suara geramannya menggelegar, menggetarkan dinding rumah dan hati sang dukun.
"Dengar, manusia laknat! Jika sekali lagi kamu berani menyentuh Istriku, aku akan meratakan tempatmu dan mengambil semua keluargamu sebagai tumbal."
Suara itu bergema, bukan hanya di telinga, tetapi menembus jiwa sang dukun, membuat tubuhnya gemetar ketakutan.
Dan setelah kata-kata itu terpatri, Azkan menghilang dari tempat itu, meninggalkan dukun tua dalam ketakutan yang membeku.
Komentar
Posting Komentar