Episode 7: Gejolak di Ruang Kerja sang Guru

Episode 7: Gejolak di Ruang Kerja Sang Guru
Udara di dalam ruangan itu terasa statis, seolah waktu berhenti berputar saat hanya ada mereka berdua. Cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah jendela, memantul di bola mata Maulana yang jernih. Fira tertegun, seolah terhipnotis. Ia baru menyadari betapa indahnya pupil mata pria yang menjabat sebagai suaminya itu dari jarak sedekat ini.
"Paman, kenapa warna mata Paman biru?" tanya Fira lirih, rasa penasarannya mengalahkan rasa kesal yang sempat ia bawa.
Maulana tersenyum kecil. Ia bisa merasakan tatapan kagum istrinya, meski ia tahu gadis itu datang bukan sekadar untuk memuji fisiknya. "Itu sudah dari sana, kenapa? Apakah Istriku sangat suka?"
Fira mengangguk spontan, namun sedetik kemudian ia menggeleng kuat-kuat. Ia merutuki dirinya sendiri karena sempat 'tersepona' oleh ketampanan pria di depannya. Niat awalnya adalah menginterogasi keanehan sikap Maulana saat menghadapi Antonio tadi, bukan untuk jatuh hati pada warna matanya.
Dengan gerakan cepat, Fira melompat turun dari pangkuan Maulana. Meski ada gurat ketidakrelaan di wajahnya, Maulana membiarkan Istri kecilnya itu berdiri menjauh.
"Aku baru ingat kalau ada hal lain yang ingin kutanyakan pada Paman."
Maulana hanya mengangguk tenang. Ia memutar kursinya kembali ke arah meja, meraih tumpukan dokumen, dan mulai memberikan tanda tangan atau coretan revisi di atasnya.
"Apa yang Paman lakukan pada kertas-kertas itu?" tanya Fira penasaran melihat keseriusan suaminya.
"Memeriksa laporan kantor, tadi CEO Mizuruky mengirimkan laporan kantor padaku. Jadi aku memeriksanya," jawab Maulana santai tanpa menoleh, sengaja menyembunyikan detail kerumitan bisnis besar itu dari Fira.
"Apa urusan Paman dengan CEO itu?"
Maulana menoleh, memberikan senyum manis yang selalu berhasil membuat Fira salah tingkah. "Dia bawahanku, aku mempekerjakan seorang CEO di perusahaan Mizuruky karena Suamimu ini lebih suka menjadi seorang Guru."
Fira mendengus, mencoba terlihat tidak peduli. "Terserah Paman saja, tapi..." Ia menggantung kalimatnya, keraguan merayap di wajah cantiknya.
"Tapi?" pancing Maulana.
"Tapi... kenapa tadi aku lihat tatapan mata Paman sangat menakutkan? Aku tidak pernah melihat Paman yang begitu mengerikan," lanjut Fira pelan.
Maulana meletakkan penanya. Ia memutar kursi sepenuhnya, menatap Fira dengan sorot mata yang kini kembali melembut. "Sayang, kapan tatapanku padamu membuatmu takut?"
"Bukan padaku, tapi pada Antonio. Paman seperti orang yang sudah terbiasa dengan kekerasan, serangan, dan pembunuhan. Apakah Paman pernah melihat adegan seperti itu?"
Fira menatapnya menuntut jawaban. Maulana tersenyum simpul, sebuah senyum yang menyimpan rahasia kelam di baliknya. "Sering, di berita dan di film," jawabnya tenang.
Namun di dalam hatinya, sebuah suara berbisik pahit, “Bahkan aku pernah terpaksa membunuh orang dengan kedua tanganku, aku juga sering terlibat dalam perkelahian. Karena aku pernah menjadi seorang Mafia kejam.”
Fira mendesah kecewa. Imajinasi liarnya tentang masa lalu sang suami yang gelap seolah terpatahkan oleh jawaban klise tersebut. "Kalau hanya di film, aku juga sering. Tapi tadi itu tegang sekali, Paman. Aku pikir belati itu sudah berhasil melukai Paman, tapi ternyata tidak." Fira berucap ketus, pura-pura kecewa padahal hatinya lega bukan main.
"Apakah Istriku ini berharap kalau aku terluka?" goda Maulana.
"Tentu tidak, meski aku tidak suka pada Paman, tapi aku lebih tidak suka lagi kalau menjadi janda muda. Kapan lagi aku dapat kemewahan dan kebebasan memandang wajah pria tampan."
Seketika, Fira membeku. Ia segera menutup mulutnya dengan telapak tangan, wajahnya memerah padam. Ia baru saja mengakui secara tidak langsung bahwa ia menyukai wajah Maulana dan fasilitas yang diberikannya.
Maulana terkekeh pelan, hatinya menghangat mendengar pengakuan jujur yang tak sengaja itu. "Kenapa menutupinya seperti itu? Apakah malu karena menyukai Suami sendiri?"
"Sudah, tidak usah dibahas! Aku ke sini bukan untuk membahas hal itu, tapi aku ingin tahu kenapa Paman bisa memiliki tatapan sangat menakutkan itu. Karena Paman sudah menjawabnya, jadi ya sudah aku akan keluar," seru Fira cepat, tak sanggup lagi menahan rasa malu.
"Ini masih jam istirahat, jadi di sini saja, temani Suamimu ini," pinta Maulana gemas.
Fira merengut. Ia sebenarnya lapar dan ingin ke kantin untuk jajan, meski tadi pagi sudah sarapan. "Tidak mau, aku mau ke kantin. Aku mau jajan."
Tok... Tok... Tok...
"Assalamualaikum, Pak Ivan."
Pintu terbuka, menampakkan sosok wanita cantik berkerudung merah yang tersenyum sangat ramah ke arah Maulana. Di tangannya terdapat kotak berisi kue rumahan. Fira seketika merasa panas melihat kehadiran wanita itu.
"Wa'alaikumussalam, Bu Indri. Silakan masuk," balas Maulana ramah.
Fira menatap tajam ke arah Indri, bibirnya komat-kamit tanpa suara mengejek wanita itu. Indri mendekati meja Maulana, lalu melirik Fira dengan pandangan bertanya-tanya. "Kamu yang katanya murid baru itu?"
Fira mengangguk singkat tanpa senyum.
"Selamat datang di sekolah ini, semoga kamu betah menjadi anak Pak Ivan. Tenang saja, Pak Ivan orang yang sangat ramah dan melindungi anak-anaknya," kata Indri dengan nada yang seolah-olah sangat mengenal Maulana.
"Paman, ayo ke kantin temani aku," potong Fira tiba-tiba, suaranya terdengar posesif.
Maulana terkejut. Gadis ini baru saja menolaknya, kini justru merengek minta ditemani. Indri mengernyitkan kening mendengar panggilan itu. "Paman? Kalian... apa hubungan kalian?"
"Dia..." Maulana baru hendak menjelaskan, namun Fira dengan cepat memotong.
"Pacarnya, aku dan Pak Ivan pacaran. Sekarang bukan waktunya Pak Ivan mengajar, jadi aku ingin Pak Ivan menemaniku ke kantin," sahut Fira dengan nada menantang.
Maulana hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Istri kecilnya yang sedang cemburu buta. Ia kembali menatap Indri. "Bu Indri, ada apa Bu Indri menemui saya?"
Indri meletakkan kotak kuenya di meja dengan mantap. "Pak, ini saya buat kue untuk Bapak. Saya sudah memberi tahu orang tua saya kalau saya bersedia menikah, tapi pria yang ingin saya nikahi adalah Pak Ivan."
Ruangan itu mendadak hening. Maulana nyaris tersedak ludahnya sendiri. "Kenapa Bu Indri bicara seperti itu? Bukankah kita hanya rekan kerja? Lagipula... saya tidak memiliki niat untuk menikahi Bu Indri."
Fira tersenyum puas, kemenangan kecil terpancar di wajahnya melihat penolakan tegas Maulana. Namun, Indri tampak terguncang. Ia merasa dipermalukan di depan seorang siswi.
"Pak, tapi kenapa Bapak pacaran dengan murid Bapak sendiri? Bukankah Bapak tahu bahwa dalam Islam pacaran itu tidak boleh?" tanya Indri mencoba memojokkan.
Maulana tetap tenang. "Bu Indri, saya tahu niat baik Bu Indri. Insyaallah, hubungan saya dengan Fira itu tidak melanggar norma agama atau hukum. Kami..." Maulana ingin mengungkap status pernikahan mereka, tapi Fira lagi-lagi menyambar.
"Kami masih muda dan saling mencintai, mohon maaf Bu Indri, mohon jangan memaksa."
"Saya bukan memaksa, tapi memang dalam Islam pacaran itu tidak boleh, kecuali pacaran setelah menikah!" kilah Indri tak mau kalah.
Maulana menghela napas panjang, merasa terjebak di antara dua wanita yang tengah terbakar api cemburu di hadapannya.
Bagaimana cara Maulana melerai perdebatan ini tanpa membongkar rahasia pernikahan mereka di depan Bu Indri? Lanjut ke Episode 8?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Episode 4: Sandiwara Sang Istri Mungil

Episode 8: Antara Cemburu, Sakit dan Rahasia yang Terungkap

Episode 1: Sang Pangeran Mahkota dan Takdir yang Tersembunyi