Episode 5: Topeng yang Retak


Episode 5: Topeng yang Retak
Suasana kelas 3 F seketika berubah mencekam setelah Maulana memperkenalkan dirinya sebagai wali kelas. Fira, yang duduk terpaku di bangkunya, merasa seolah baru saja dilemparkan ke dalam sarang penyamun. Mata cokelatnya melotot horor, pupilnya bergetar saat menangkap kilatan logam dari bangku sebelahnya. Seorang siswa dengan santainya memegang sebilah belati tajam.
“Ya Tuhan, sebenarnya ini kelas atau kelompok preman pindah? Kenapa ada siswa membawa belati tajam? Aku harus bicara pada Paman, jangan sampai belati itu mengenaiku,” batin Fira merinding.
Belum reda keterkejutannya, ia menoleh ke arah kanan dan menemukan pemandangan yang tak kalah ganjil: seorang siswa laki-laki sedang sibuk mengeluarkan peralatan make-up. Fira kembali menatap ke depan, di mana suaminya berdiri tegak dengan tangan berkacak pinggang. Aura Maulana berubah drastis; tatapan mata safirnya yang biasanya hangat kini sedingin es, memancarkan amarah yang menekan udara di ruangan itu.
“Antonio! Angga!” suara Maulana menggelegar, memecah kesunyian yang tegang.
Antonio, siswa kerempeng yang membawa belati tadi, tersentak. Dengan gerakan kikuk, ia mencoba menyembunyikan senjatanya di balik buku, berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa. Begitu pula Angga di sebelah kanan Fira.
“Apa yang terjadi pada mereka berdua? Kenapa seperti ketakutan begitu?” gumam Fira dalam hati, matanya tak lepas dari sosok Maulana yang kini tampak begitu dominan.
“Kalian berdua, maju ke depan! Bawa benda yang tadi kalian pegang!” perintah Maulana tanpa kompromi.
“Tapi, Pak. Saya tidak membawa apapun selain buku Pelajaran,” kilah Antonio berusaha membela diri dengan suara gemetar.
Maulana hanya menyunggingkan senyum sinis yang menggidikkan. Ia melangkah santai, namun setiap pijakannya terasa berat dan mengancam. Ia berhenti tepat di antara bangku Fira dan Antonio, membelakangi istrinya yang kini menatap punggung tegap itu dengan napas tertahan.
“Antonio, kamu sudah berapa lama membawa sajam itu saat Bapak tidak mengajar?” tanya Maulana dengan nada rendah namun tajam.
Antonio kelabakan. Ia tidak menyangka sang wali kelas mengetahui aktivitas rahasianya saat guru-guru lain tidak ada. Ia membuang muka, tak sanggup beradu tatap dengan mata safir yang seolah mampu menembus jiwanya.
“Bapak bicara apa? Saya mana berani membawa sajam, Bapak pasti salah lihat.”
Maulana menyandarkan tubuhnya di pinggir meja Fira, bersedekap dada dengan tatapan yang semakin sinis. “Apakah kamu sedang mengatai Bapak? Kamu bisa periksa dengan jelas, apakah penglihatan Bapak ini salah atau tidak.”
“Dasar pembohong! Jelas tadi dia membawa belati, apakah belati itu termasuk bukan senjata tajam? Tapi penglihatan pria tua ini tajam juga,” batin Fira, diam-diam ia merasa kagum sekaligus ngeri pada ketajaman insting suaminya.
“Pak, saya memang tidak membawa sajam,” Antonio masih mencoba bertahan di lubang kebohongannya.
“Antonio, kamu keluarkan belati itu sekarang atau Bapak paksa kamu mengeluarkan!” ancam Maulana dengan penekanan di setiap kata.
Wajah Antonio memerah, rahangnya mengeras karena terpojok. Dalam keputusasaan dan amarah yang meledak, ia justru menarik belati itu keluar dan menggenggamnya erat-erat.
Maulana tersenyum heran. Kelas 3 F memang kutukan bagi guru-guru lain; tempat di mana moralitas seolah luntur. Pantas saja wali kelas sebelumnya lari ketakutan.
“Kenapa?” tanya Maulana tenang saat melihat Antonio hanya diam mematung dengan senjata di tangan.
Tiba-tiba, sorot mata Antonio berubah gelap, penuh kebencian dan hasrat membunuh. Tanpa peringatan, pemuda itu melompat maju, menyerangkan belatinya ke arah dada Maulana!
Jeritan ketakutan pecah di seluruh penjuru kelas. Murid-murid berlarian menjauh, mengosongkan area konflik. Namun, dengan gerakan yang hampir mustahil diikuti mata telanjang, Maulana menangkap pergelangan tangan Antonio di udara. Ujung belati itu berhenti hanya beberapa milimeter dari tubuhnya.
“Kamu masih terlalu dini untuk menyerang ku dengan senjata ini,” bisik Maulana tepat di telinga Antonio.
Tubuh Antonio menegang hebat. Penghinaan itu terasa lebih menyakitkan daripada cengkeraman tangan Maulana yang seperti besi. Dengan tangan kirinya yang bebas, ia mencoba meronta dan memukul, berusaha melepaskan diri dari pria berusia 30 tahun itu.
Maulana mengejek dengan senyum meremehkan. “Kamu bahkan tidak memiliki kekuatan untuk melepaskan tanganmu dari cekalanku, apakah kamu masih ingin melawan?”
Dalam satu gerakan eksplosif, Maulana menyentakkan tangan Antonio, menekuk pergelangan tangannya ke posisi yang menyakitkan hingga belati itu jatuh berdenting di lantai. Sebelum senjata itu menyentuh ubin, tangan Maulana yang lain menangkapnya dengan tangkas.
“Nanti … datanglah ke ruanganku, ada hadiah untukmu.”
Maulana memutar tubuh, berjalan menjauhi Antonio sambil memutar-mutar belati itu di jemarinya seolah itu hanyalah mainan kecil. Di depan kelas, ia melakukan sesuatu yang membuat bulu kuduk semua orang berdiri: ia menjilat ujung belati itu dengan tatapan penuh kepuasan yang mengerikan.
Sedetik kemudian, kesadarannya kembali. Ia tersentak, lalu meletakkan belati itu dengan kasar di atas meja. “Astagfirullahal adzim, ya Allah, kenapa aku sejenak hilang kesadaran hingga melakukan hal yang sering ku lakukan 10 tahun lalu?” batinnya penuh sesal dan ketakutan akan masa lalunya sendiri.
Fira dan seluruh murid tercengang. Sosok guru agama yang ramah tadi hilang, digantikan oleh bayangan seorang psikopat atau algojo yang terbiasa bersimbah darah.
“Sudah, kalian kembali ke bangku masing-masing. Untuk Angga, jangan membawa alat dandan di dalam kelas, atau aku yang akan mendandani mu,” ucap Maulana setelah berusaha menormalkan napasnya yang memburu.
Kelas kembali tenang, namun aura mencekam masih tertinggal. Antonio terduduk lemas di bangkunya, bergumam lirih yang entah bagaimana terdengar oleh Fira. “Pak Ivan kenapa sangat mirip dengan seorang mafia kejam, tidak mungkin bukan seorang guru agama menjadi mafia?”
Fira menoleh pada Antonio, namun saat pemuda itu balas menatapnya, ia segera membuang muka. “Mana mungkin ada seorang mafia hafal ayat Al Qur’an?” pikirnya bimbang.
Sembilan puluh menit pelajaran berlangsung seperti mimpi buruk bagi Fira. Ia tak bisa fokus. Bel tanda pelajaran usai terasa seperti lonceng penyelamat. Setelah mengucap salam, Maulana pergi dengan belati di tangannya.
Rasa penasaran Fira sudah mencapai puncaknya. Ia harus tahu siapa sebenarnya suaminya itu. Bagaimana mungkin seorang guru bersikap semengerikan itu?
“Ke mana Paman pergi?” gerutu Fira sambil berkacak pinggang di depan ruang guru saat tak menemukan Maulana di sana.
“Pak Ivan sungguh hebat, tapi aku baru melihat Pak Ivan seperti seorang pembunuh. Pantas saja tidak ada yang berani melawan Pak Ivan,” suara seorang gadis bernama Maya tiba-tiba terdengar di sampingnya.
“Kamu lihat ke mana Pak Ivan pergi?” tanya Fira cepat.
“Untuk apa kamu mencari Pak Ivan? Tadi Pak Ivan kan sudah menyuruh Antonio ke ruangannya, artinya sekarang Pak Ivan di ruangnya,” jawab Maya santai.
“Ruangannya? Bukankah di ruang Guru?”
“Tidak, Pak Ivan itu punya ruangan sendiri. Pak Ivan kalau menghukum orang seperti Antonio itu tegas, pernah yang lebih parah dari Antonio bahkan sampai melukai lengan salah satu teman di kelas lain, Pak Ivan menyuruh teman itu melakukan hal yang serupa pada orang itu. Orang tuanya tidak terima lalu melaporkan Pak Ivan ke Polisi, tapi terbukti Pak Ivan tidak melakukan apapun selain memberikan kesempatan yang dilukai itu membalasnya. Jadi kedua murid itu sama-sama terluka dan hanya diberi sanksi dari sekolah, pokoknya tidak ada yang berani berurusan pada Pak Ivan,” jelas Maya panjang lebar.
Dunia Fira serasa berputar. Siapa sebenarnya pria setinggi 191 cm yang menikahinya itu? Seorang pelindung, ataukah monster yang sedang bersembunyi di balik jubah agama?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Episode 4: Sandiwara Sang Istri Mungil

Episode 8: Antara Cemburu, Sakit dan Rahasia yang Terungkap

Episode 1: Sang Pangeran Mahkota dan Takdir yang Tersembunyi