Episode 12: Pena Cinta sang Miliader
Langkah kaki yang sunyi mengiringi punggung bidang berbalut kemeja maroon itu. Fira, dengan raga mungilnya, tak membiarkan sejengkal pun jarak memisahkan pandangannya dari sang suami. Di koridor yang megah itu, ia mengekor layaknya bayangan yang enggan terhapus cahaya, abai pada pasang mata yang menatap heran ke arah mereka.
"Van, tadi EC mencarimu."
Langkah terhenti. Catherine muncul bak keanggunan yang turun dari langit-langit tinggi gedung itu, menghampiri putranya tepat di ambang pintu lift yang dingin. Maulana menoleh, netranya yang tenang menyimpan tanya yang tak terucap.
Di sisi lain, batin Fira berkecamuk dalam kepolosan. “Apa itu EC? Encok kah? Tapi buat apa encok datang?” gumamnya dalam diam, dahi halusnya berkerut bingung.
"Dia memberikan berkas ini padamu," ucap Catherine seraya menyerahkan sebuah map tebal sewarna samudra malam, biru navy yang pekat.
Maulana menyambutnya dengan anggukan takzim. "Terima kasih, Ibu. Aku ke atas dulu."
Sebelum mereka berlalu, jemari Catherine terulur, membelai puncak kepala Fira dengan kasih sayang seorang ibu. "Jadilah istri yang baik. Percayalah, Ivan tidak akan menyakitimu. Dia anak yang penyayang."
Fira mengangguk patuh, namun rasa ingin tahunya tak terbendung. "Iya, Bu. Tapi... EC itu apa? Jenis penyakit saraf kah?"
Tawa kecil tertahan di balik jemari Catherine. "Bukan, Sayang. Editor in Chief, pimpinan redaksi. Sudah, tanyakan saja pada suamimu. Ibu masih ada urusan."
Lift tertutup, membawa mereka dalam kotak logam yang bergerak naik. Fira menatap map di tangan Maulana, seolah benda itu adalah peti harta karun yang menyimpan rahasia pekerjaan sampingan suaminya.
"Pak... eh, maksudnya Paman," panggil Fira memecah hening.
Maulana menoleh. Tatapannya luluh dalam kelembutan yang memabukkan. "Masih penasaran tentang sesuatu yang mendatangkan pahala besar setelah menikah?"
Wajah Fira memanas. "Siapa yang bahas itu?! Pekerjaan sampingan Paman apa? Paman bilang punya perusahaan, apakah itu perusahaan penerbit buku?" tanyanya ketus, mencoba menutupi debar jantungnya.
Ada secercah kecewa yang melintas di bening mata Maulana saat menyadari sang istri lebih tertarik pada tumpukan kertas itu daripada dirinya. "Ya, itu benar. Ada perusahaan yang lain juga, perusahaan berlian. Kenapa?"
Seketika, imajinasi Fira melambung tinggi. Ia tersenyum-senyum sendiri, membayangkan drama picisan tentang gadis remaja dan sang CEO yang dingin namun mempesona.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Maulana menyelidiki.
"Tidak ada. Aku ingin membuat novel tentang seorang CEO yang menikahi gadis remaja," jawab Fira dengan binar mata yang jenaka.
Maulana tersenyum tipis. "Kebetulan Maula Publisher akan mengadakan perlombaan novel bertema miliarder. Cobalah."
"Tentu! Nanti CEO-nya menikah dengan mahar seratus pulau, seratus perusahaan besar, dan seratus rumah mewah!" seru Fira bersemangat.
Maulana tertegun, separuh takjub separuh geli. "Apakah imajinasi gadis remaja memang seluas itu? Pulau siapa yang akan kau jadikan mahar?"
"Sepuluh pulau di Indonesia, sepuluh di Amerika, dan..." Kalimatnya terputus saat melihat ekspresi Maulana yang sulit diartikan. "Kenapa Paman menatapku seperti itu?"
"Sayang... dengarlah," suara Maulana merendah, menenangkan badai khayalan Fira. "Boleh saja menulis tentang kemewahan, tapi jangan melampaui batas logika. Daripada mahar yang berlebihan, lebih baik sesuatu yang sederhana namun bernilai abadi."
"Misalnya?"
"Kalung Arkavia Pendant. Itu adalah permata termahal di dunia, harganya bisa mencapai satu triliun. Jadi, saat ijab kabul tidak perlu terlalu panjang ucapannya," ujar Maulana dengan nada gurau yang lembut. "Tapi... tidak semua orang bisa memilikinya. Itu hanya saran dari suamimu ini, Istriku."
Maulana merogoh saku, mengeluarkan sebuah kotak beludru yang menyimpan keajaiban. Saat tutupnya terbuka, cahaya seolah terhisap ke dalamnya. Seuntai kalung safir berkilauan, bentuknya meliuk seperti tetesan cahaya senja, memantulkan bayangan dunia yang belum pernah Fira jamah.
"Arkavia Pendant," bisik Maulana khidmat. "Kalung berlian bermata safir yang hanya akan bersinar jika dikenakan oleh ia yang ditakdirkan menjaga keseimbangan dunia."
Fira terpaku. Suaranya hilang di tenggorokan.
"Hadiah pernikahan untuk istri kecilku. Hanya ada dua di dunia ini, mahakarya dari Mizuruky Corp. Harganya mencapai 4,5 triliun. Tapi bagiku, engkau jauh lebih tak ternilai."
"Kenapa hanya dua?" bisik Fira lirih.
"Karena hanya dua jiwa yang mampu menanggung cahaya dan bayangan di dalamnya. Dan kau adalah salah satunya."
Atmosfer di dalam ruangan itu mendadak berubah, menjadi berat oleh damba dan kasih yang meluap. Maulana mendekat, napasnya terasa hangat di pendengaran Fira. "Sayang, bolehkah?"
Fira mengangguk pelan, tersihir oleh pesona pria di hadapannya.
"Apakah kamu sungguh siap?" tanya Maulana lagi, suaranya serak membawa getaran aneh yang menjalar ke seluruh tubuh Fira. Ada sesuatu yang menegang di sana, sesuatu yang asing namun mendebarkan.
"Paman, apakah kau ingin..." Kalimat itu menggantung, tertelan oleh debar yang kian kencang. Fira membalikkan tubuh, menatap mata safir sang suami, lalu mengangguk perlahan dengan senyum ranum di bibirnya.
Maulana tak lagi menunggu. Ia mengangkat tubuh mungil itu dengan penuh pemujaan, membawanya menuju peraduan saat pintu lift terbuka. Pintu kamar ditendang pelan, menutup dunia luar. Di atas ranjang yang empuk, Maulana membaringkannya seolah Fira adalah porselen yang paling berharga.
"Istriku, apakah kamu sungguh siap?" tanyanya sekali lagi, memastikan kerelaan hati sang puan.
Fira meletakkan kotak perhiasan itu di meja, lalu mengalungkan lengannya di leher Maulana. "Kenapa bertanya terus? Aku tidak keberatan, asal Paman berjanji tidak akan meninggalkanku."
Janji itu dibalas dengan anggukan mantap. Dengan jemari yang gemetar namun lembut, satu demi satu helai kain yang membungkus keindahan itu dilepaskan, hingga hanya tersisa keheningan dan kulit yang bersentuhan.
"Sayang, aku mulai ya?"
"Pelan-pelan... ini pertama kalinya bagiku," bisik Fira dengan mata terpejam, pasrah pada takdir.
"Suamimu ini akan sangat lembut."
Dan di bawah naungan cahaya lampu yang temaram, Maulana memulai sebuah ibadah panjang, mengukir pahala dalam sebuah penyatuan suci yang tak terlupakan.
Sementara itu, di jalanan yang bising, Angga memacu motornya dengan hati yang dipenuhi kecamuk rasa tidak percaya. "Benar-benar, Fira itu... berbohong mengaku miliarder padahal hanya gelandangan. Tapi Pak Ivan? Siapa sangka pria itu ternyata penguasa harta yang nyata."
Rasa penasaran dan amarah bercampur menjadi satu. "Lebih baik aku ke rumah Antonio, aku harus menceritakan kegilaan ini padanya!"
Pukul 16:00.
Semburat jingga mulai merayap di sela jendela. Fira terduduk di atas ranjang, masih terbalut pakaian dinasnya, menatap nanar pada The Hope Diamond yang kini menjadi miliknya. Keindahannya begitu menyakitkan untuk dilihat.
"Sayang, kenapa belum mandi?" Maulana muncul dengan rambut yang masih basah, aroma sabun yang segar menguar dari tubuhnya.
"Paman, berapa harga kalung ini sebenarnya?" tanya Fira tanpa mengalihkan pandangannya dari permata itu.
"Lima triliun. Kenapa kau begitu terobsesi?" Maulana mendekat dengan senyum genit yang menggoda. "Ayo mandi, atau perlu aku yang memandikanmu?"
Fira terlonjak, segera meletakkan kotak perhiasannya dan melompat turun dari tempat tidur. "Aku bisa sendiri! Kalau Paman yang mandiin, pasti ujung-ujungnya mau melakukan itu lagi!" serunya sambil berlari kecil menuju kamar mandi.
Maulana tertawa rendah, sebuah tawa yang penuh kemenangan dan cinta. "Tentu saja, Istriku. Kau sungguh hebat dalam memuaskanku."
Fira mendelik galak dari ambang pintu, wajahnya semerah mawar. "Diam!"
Pintu tertutup rapat, meninggalkan Maulana yang tersenyum menatap bayangan istrinya di balik pintu kayu yang dingin
Komentar
Posting Komentar