Episode 5: Dilema Hati dan Pesan Langit


Calon Imamku
Episode 5: Dilema Hati dan Pesan Langit
Teng...
Suara bel bergema di penjuru universitas, menandakan berakhirnya jam pelajaran. Keheningan kelas pecah oleh keriuhan mahasiswa yang berhamburan keluar. Namun, di salah satu sudut ruangan, Faeyza, Tanvir, Nita, dan Rico masih terpaku di bangku mereka, sibuk merapikan perlengkapan yang berserakan.
Nita memecah kesunyian dengan nada penuh harap. “Za, hari ini kamu jadi tidak menemaniku mencari pekerjaan?”
Faeyza menoleh, tangannya masih sibuk memasukkan buku ke dalam tas. “Nit, memang ada ya pekerjaan paruh waktu? Kamu kan masih kuliah,” balasnya penuh keraguan.
“Ada,” sahut sebuah suara bariton yang tak asing. Tanvir bangkit dari duduknya, melangkah angkuh lalu berdiri tepat di samping Faeyza. Dengan sorot mata safir yang sulit ditebak, ia melanjutkan, “Menjadi pelayanku, aku akan menggaji dengan tinggi.”
Plak!
Tanpa ampun, Faeyza menggeplak lengan Tanvir dengan buku tebalnya. Wajahnya memerah padam. ”Jangan sembarangan, lebih baik kamu cari saja pelayan sesama jenis. Kalau sampai kamu ada apa-apa dengan Nita, siapa yang akan menanggung dosanya? Nita akan menjadi malu karena pria seperti mu,” sewotnya tajam.
Tanvir mendelik galak, merasa dituduh melakukan sesuatu yang nista. ”Memangnya apa yang mau ku lakukan sampai dia harus merasa malu? Aku tinggal di rumah nenekku, aku hanya kasihan padanya karena kalau harus sibuk membuatkan makanan untukku. Jadi aku meminta Nita membuatkan makanan untukku dan nenek, apakah itu sangat memalukan? Atau jangan-jangan kamu sudah merasa cemburu ya? Karena aku lebih memilih Nita daripada kamu.” Tanvir mengedipkan matanya genit, menggoda pertahanan Faeyza.
Faeyza memalingkan wajah seketika. Dadanya bergemuruh, bukan karena cemburu, melainkan karena malu telah berburuk sangka. Namun, keras kepalanya masih bertahan. ”Siapa yang akan cemburu pada orang sepertimu?! sudahlah yang jelas aku tidak setuju kalau Nita bekerja sebagai pelayan mu.”
“Sudahlah, Za. Lagi pula aku menggajinya cukup mahal, sebulan 5 juta bagaimana?” Tanvir mendongakkan kepala, menantang Nita dengan tawaran yang menggiurkan.
Mata Nita membelalak. “Benarkah?” Ia seolah mendapat napas baru. Dengan semangat yang membuncah, ia menghampiri Tanvir. “Hanya memasak?” tanyanya memastikan.
“Iya, apakah kamu ingin pekerjaan yang lain? Misalnya …” Tanvir menggantung kalimatnya, membiarkan imajinasi liar bermain di sana.
“Membersihkan kloset,” sahut Rico dengan senyum tipis yang menyindir.
“Boleh juga jika mau,” balas Tanvir santai.
“Tidak perlu, aku setuju saja memasak buat kamu dan nenekmu. Kalau begitu, bagaimana kalau mulai sekarang saja, aku akan membuatkan mu makanan yang sangat enak,” jawab Nita penuh antusias, tak ingin kehilangan kesempatan emas.
“Tidak, hari ini kamu harus mengantarkan ku membeli baju buat hadiah ulang tahun ayah dan ibuku,” potong Faeyza cepat. Ia tak rela sahabatnya terseret dalam pusaran pengaruh pria seperti Tanvir.
Ketiganya menoleh serempak ke arah Faeyza. “Kenapa kamu yang menolak? Aku yang ditanya kamu yang menolak,” kata Tanvir heran.
“Bukan begitu, hari ini aku dan Nita ada janji. Jadi dia tidak bisa membatalkan begitu saja,” elak Faeyza, memberikan tatapan menuntut pada Nita. Nita pun mengangguk pasrah; ia tak mungkin mengecewakan sahabatnya.
“Tanvir, maaf ya? Tapi memang benar, aku memang harus menemani Faeyza dulu. Bagaimana kalau aku akan ke rumah kamu setelah menemani Faezya?”
“Tidak masalah, kalau begitu aku pulang dulu. Aku harus pulang tepat waktu, karena nenek itu orang yang suka khawatiran,” balas Tanvir sebelum berpamitan dan menghilang di balik pintu kelas.
Setelah Tanvir pergi, Faeyza menatap Nita dengan tatapan sanksi. “Nit, kamu serius ingin bekerja dengannya?”
“Memangnya kenapa?”
“Iya, Za. Kenapa kamu begitu ngotot tidak ingin Nita bekerja pada Tanvir? Nita itu kan pandai memasak,” timpal Rico ikut bingung.
Faeyza menghela napas panjang. “Tanvir itu anak dari Paman Ivan Maulana Rizky, mereka itu seorang milyader. Jadi tidak mungkin kalau makannya itu hanya sayur kangkung, memangnya Nita bisa membuat masala ala luar negri begitu?”
Nita menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Masakan luar negeri itu seperti apa? Apakah sejenis tongseng sayur? Atau udang merah?”
Rico menepuk jidatnya. “Maksudmu oseng sayur?”
“Kalau begitu, apa itu tongseng? Aku tahunya tong sampah.” Nita semakin tenggelam dalam kebingungan.
“Heh, sudahlah. Lupakan saja tong sampah dan semua itu, yang terpenting kamu tidak perlu lagi bekerja dengan Tanvir. Aku akan membantumu mencari kerja.” Faeyza merangkul bahu Nita, mencoba melindungi sahabatnya dengan cara yang ia tahu.
Di Sebuah Toko Pakaian Mewah...
Pria bermata safir yang selalu membawa keteduhan, Zein, melangkahkan kaki memasuki sebuah toko baju. Mengenakan baju taqwa yang bersih, ia datang atas permintaan neneknya untuk mengunjungi sepupunya yang bekerja di sana.
“Kak Zein.”
Seorang gadis bersurai pirang menyapa dengan riang. Namun, langkah Zein terhenti. Matanya tertuju pada rok pendek di atas lutut dan baju lengan pendek yang dikenakan gadis itu. Ia menghela napas dalam, merasakan iman di dadanya bergetar melihat pemandangan itu.
“Kakak, kenapa kak Zein diam saja? Kakak juga kenapa tidak mau melihat ku?” tanya gadis itu penasaran.
“Bukan, hanya saja … kamu seorang muslimah. Tapi kenapa kamu menggunakan baju seperti itu? Jelas-jelas itu sangat dilarang oleh agama,” jelas Zein lembut, namun sarat akan teguran.
Gadis pirang itu terkikik, menganggap reaksi Zein berlebihan. Baginya, Zein dan Tanvir memang kembar secara rupa, namun karakteristik mereka bak langit dan bumi. “Kakak Zein, kakak jangan selalu bicara seperti itu. Banyak kok di luar sana orang berbusana rapi dan menutup seluruh tubuh tapi kelakuannya tetap saja bejat. Lebih baik orang seperti ku, sekalipun aku terlihat seperti orang mursal, tapi aku ini muslimah kok,” kilahnya membela diri.
Zein menarik napas panjang. Dengan suara yang tenang namun berwibawa, ia membacakan firman Allah:
“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, 'Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.' Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Al Ahzab: 59).
“Itu adalah ayat yang menerangkan perintah menutup aurat bagi kaum muslimin. Kalau kamu mempermasalahkan tentang perbedaan perilaku orang yang menutup aurat dan tidak, itu tergantung dari niat dan hati mereka masing-masing,” jelas Zein tanpa amarah. “Sama halnya ketika seseorang memutuskan untuk mengenakan jilbab, tapi yang ditutup hanya kepalanya, hatinya tidak. Maka bukan tidak mungkin kelakuannya juga akan terbuka atau melakukan perbuatan yang melanggar norma... Karena itu … kamu harus ingat, jangan selalu mengatakan kalau orang yang suka membuka aurat lebih baik dari yang menutup aurat hanya karena kamu pernah melihat orang dengan pakaian tertutup melakukan kejahatan.”
“Hehehe …” Gadis pirang itu hanya bisa terkekeh malu. Berdebat dengan Zein adalah kemustahilan baginya; pria itu begitu mirip dengan Ivan Maulana Rizky dalam hal kedalaman ilmu, sementara Tanvir lebih mewarisi sisi impulsif ibunya, Fira.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Episode 4: Sandiwara Sang Istri Mungil

Episode 8: Antara Cemburu, Sakit dan Rahasia yang Terungkap

Episode 1: Sang Pangeran Mahkota dan Takdir yang Tersembunyi