Episode 4: Topeng Saudara di Ambang Takhta
"Kalian dengar tidak? Tadi Pangeran Mahkota pingsan di Aula, sepertinya Yang Mulia sakit," bisik seorang pelayan dengan wajah pucat.
Arsy menghentikan gerakan pisaunya sejenak. Ingatannya melayang pada sosok yang baru saja ia temui di koridor kemarin—pria yang berdiri begitu tegap, dibalut jubah putih dengan selendang hijau yang berkibar anggun, serta sepasang mata setajam elang yang seolah mampu menembus sukma.
"Apakah pria itu sakit? Kenapa aku tidak percaya?" gumam Arsy pelan, nyaris tak terdengar. Baginya, sosok setangguh itu tampak mustahil untuk tumbang begitu saja.
Istana Pangeran Mahkota...
Di dalam kamar yang luas dan beraroma kayu cendana, suasana terasa begitu berat. Zein terbaring pucat, sementara Ratu Prameswari duduk di tepi ranjang dengan jemari yang gemetar karena cemas.
"Tabib, bagaimana kondisinya? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Ratu Prameswari dengan suara serak, matanya tak lepas dari wajah tenang putra sulungnya.
Sang Tabib Kerajaan perlahan meletakkan kembali pergelangan tangan Zein. Ia menunduk lesu, wajahnya menyiratkan duka yang mendalam sebelum akhirnya berani menatap sang Ratu.
“Ampun Yang Mulia Ratu, kondisi Pangeran sangat buruk. Beliau sepertinya terluka sangat parah, saya khawatir kalau Yang Mulia tidak akan bisa lagi menggunakan kekuatan internalnya.”
Bak petir di siang bolong, Ratu Prameswari terpaku, napasnya seolah terhenti. Jaya Negara segera merangkul bahu istrinya, memberikan kekuatan meski hatinya sendiri remuk redam. ”Sepertinya perjalanan Pangeran kali ini sangat berisiko hingga membuatnya terluka sangat parah,” ujar sang Raja dengan nada prihatin yang dalam.
Istana Pangeran ke-7
Berbeda jauh dengan duka di kamar Zein, Pangeran Jiao Hua justru berdiri di depan jendela dengan jubah biru dan baju dalam hijau yang kontras. Senyum licik terukir di wajahnya saat ia menatap cakrawala, merasa takhta yang ia incar kini sudah di depan mata.
”Siapkan beberapa kotak obat, hari ini aku akan memberikan pada saudara pertama. Aku sangat tidak sabar melihat tubuhnya yang lemah.” Ia membalikkan tubuh dengan gerakan mantap, membayangkan kehancuran sang Pangeran Mahkota di arena pertandingan nanti.
Kembali ke Kamar Pangeran Mahkota...
Meski Tabib telah memberikan peringatan keras, Zein Zulkarnain bukanlah pria yang bisa berdiam diri. Ia kini sudah duduk di meja kerjanya, mengabaikan rasa nyeri yang masih berdenyut di jantungnya.
Mahesa meletakkan tumpukan dokumen kerajaan dengan ragu. "Yang Mulia, apakah Anda tidak merasa sayang pada tubuh Anda sendiri? Tabib sudah mengatakan agar Anda istirahat dan tidak selalu sibuk bekerja."
Zein tak bergeming. Baginya, lima tahun pengembaraan adalah waktu yang terlalu lama bagi para tikus istana untuk berpesta pora di atas penderitaan rakyat. Ia melihat korupsi merajalela di laporan-laporan itu, sementara ayahnya terbuai oleh pesona para selir.
“Bawakan lagi,” perintah Zein singkat dan mutlak.
Mahesa terperangah. Ekor matanya melirik mangkuk berisi ramuan obat yang sudah dingin dan sama sekali tak tersentuh di sudut meja. Ia menghela napas panjang, mencoba sekali lagi. “Yang Mulia, obat Anda belum diminum.”
“Nanti saja,” balas Zein tanpa menoleh, fokusnya tetap tertuju pada angka-angka keuangan kerajaan yang berantakan.
Tok… Tok…
“Masuk,” sahut Zein datar.
Pintu besar itu terbuka, menampakkan Jiao Hua yang datang dengan rombongan pelayan pembawa kotak-kotak obat. Langkahnya dibuat-buat cemas saat mendekati meja Zein. “Kakak, aku dengar kau sedang sakit. Aku sengaja datang untuk melihat kondisimu, sekalian membawakan obat.”
“Sekali aku minum, mungkin langsung kehilangan nyawa,” balas Zein acuh tak acuh. Ia bahkan tidak sudi melirik adiknya itu.
Rahang Jiao Hua mengeras, tangannya mengepal di balik lengan bajunya yang lebar. Hinaan halus itu membakar harga dirinya, apalagi Zein sama sekali tidak mempersilakannya duduk. Namun, ia kembali memasang topeng keramahan.
“Kakak, kau jahat sekali. Kita baru bertemu setelah sekian lama berpisah, aku menunjukkan niat baikku terhadapmu. Bukankah kau harus menghargainya? Atau setidaknya kau berterima kasih, tapi kenapa kau terlihat kurang suka?” Jiao Hua menunjukkan sebuah botol kecil. “Aku bahkan sudah membawakan obat untukmu.”
Zein mengerutkan kening. Baginya, keramahan Jiao Hua terasa lebih berbisa daripada racun mana pun. Selama tiga puluh tahun hidup di pusaran kekuasaan, ia sudah khatam membedakan mana hati yang tulus dan mana yang hanya pura-pura.
“Jiao Hua, kau sungguh pandai berpura-pura, hampir saja aku mengira kalau kamu sungguh khawatir padaku.” Zein mengangkat kepalanya, iris safirnya yang dingin menatap lurus ke dalam mata Jiao Hua.
Jiao Hua mendelik tajam, ia merasa telanjang di bawah tatapan itu. Kemarahannya meledak dalam batin. “Zein Zulkarnain… aku datang kesini memang untuk membunuhnya,” batinnya penuh murka hingga urat lehernya tampak menonjol.
Zein hanya menyeringai tipis, seolah bisa membaca setiap kata hati adiknya. Ia bangkit dengan tenang, berjalan mendekati Jiao Hua dengan aura yang tetap mendominasi meski tubuhnya sedang sakit.
"Jiao Hua, kamu tidak pernah berubah sama sekali. Kau selalu berambisi untuk membunuhku hingga mempercayai adanya kabar angin." Zein berdiri di samping Jiao Hua, meliriknya dengan ekor mata yang merendahkan.
Jiao Hua terpaku. Ia memperhatikan Zein dari ujung rambut hingga kaki. Tak ada sedikit pun tanda-tanda kelemahan fisik atau luka parah yang ia dengar dari kabar angin tersebut. Pangeran Mahkota tetap terlihat tangguh.
Mahesa yang menyadari situasi mulai memanas segera mengambil langkah untuk mengusir sang tamu tak diundang. "Pangeran ke-7, Yang Mulia Pangeran Mahkota masih banyak pekerjaan, silakan Anda kembali. Bukankah Pangeran ke-7 sudah memastikan sendiri dan melihat Yang Mulia Pangeran Mahkota baik-baik saja, selain itu... Bukankah Anda juga harus bersiap untuk pertandingan besok?"
Jiao Hua memicingkan mata pada Mahesa. "Sepertinya apa yang dikatakan pengawal sialan ini ada benarnya juga, kalau memang itu adalah kabar angin, lebih baik aku tunggu sampai nanti. Aku juga akan menantangnya bertarung dan menyiapkan jebakan untuknya," pikirnya dengan licik.
"Baiklah, kali ini aku anggap kau benar, Pengawal." Jiao Hua kembali menatap Zein dengan sorot mata penuh kebencian. "Hari ini kau selamat, tapi nanti kau harus menyerahkan gelarmu itu padaku."
Ia pun membalikkan tubuh dan melangkah keluar dengan langkah penuh dendam. Zein hanya menatap punggung itu hingga menghilang di balik pintu. "Ambisimu terlalu besar, Hua," gumamnya lirih.
Di Koridor Istana...
Arsy berjalan dengan kepala menunduk, mengikuti langkah angkuh Ne Shu—adik perempuan Jiao Hua yang juga merupakan putri dari Selir Sekar Wangi. Ezra yang berjalan di samping Arsy tampak berkali-kali membuang muka, menahan kesal atas sikap majikan barunya itu.
"Kalian nanti harus ingat! Tidak ada yang boleh mencari perhatian dari Kakak pertama, karena dia adalah calon suamiku," tegas Ne Shu dengan nada memerintah kepada semua pelayan yang mengikutinya.
Arsy dan Ezra hanya bisa mengangguk patuh, meski di dalam hati mereka merasa muak dengan peringatan konyol tersebut. Arsy kembali teringat pada wajah dingin sang Pangeran, bertanya-tanya drama apa lagi yang akan terjadi di istana penuh intrik ini.
Komentar
Posting Komentar