Episode 4: Benang Merah yang Terjalin dan Rahasia Saudara Kembar

Calon Imamku

​Episode 4: Benang Merah yang Terjalin dan Rahasia Saudara Kembar

​Di koridor Universitas Madangkara, kekaguman terpancar jelas dari wajah Faeyza. Ia menatap Maulana—ayah Tanvir—dengan binar mata yang tak bisa disembunyikan.

​"Paman, Paman benar-benar luar biasa. Paman sungguh … saya belum pernah bertemu dengan seorang pria seperti Paman," puji Faeyza tulus.

​"Ha?" Tanvir tercengang. Dadanya berdenyut karena rasa tidak terima. Ia yang sedari tadi bersusah payah merayu gadis itu, namun justru ayahnya yang mendapat pujian setinggi langit.

​"Za, Ayahku sudah memiliki seorang istri, jadi aku rasa kamu tidak bisa sembarangan memujinya. Lagi pula Ayahku tidak akan tertarik dengan wanita lain selain dengan Ibuku," sahut Tanvir ketus, berusaha memagari wilayahnya.

​Maulana menahan tawa melihat tingkah protektif sekaligus polos putranya. Terkadang, ia heran melihat Tanvir yang mewarisi sifat Firanda—ibunya—yang polos dan sangat menggemaskan jika sedang merajuk.

​Faeyza mendelik galak, merasa perkataan Tanvir sangat tidak masuk akal. "Siapa yang berharap menjadi ibu tirimu?! Aku hanya baru sekarang bertemu dengan seorang yang bisa ilmu agama seperti Paman ini. Lagi pula kamu itu …" Ia menggantung kalimatnya, memalingkan wajah dengan sorot mata yang tiba-tiba meredup. "Tidak mirip seperti Zein. Dia seorang pria yang baik dan bijak. Hanya saja, dia hanya ada dalam mimpiku," lanjutnya lirih.

Deg…

​Jantung Maulana seakan berhenti berdetak. Nama itu menghantam sukmanya. Zein Ekky Maulana. Putra pertamanya, saudara kembar Tanvir yang memiliki kepribadian paling mirip dengan dirinya. Tiga tahun lalu, Zein hilang ditelan bumi setelah kecelakaan maut itu. Meski segala upaya telah dikerahkan, hasilnya tetap nihil.

​Tanvir menatap ayahnya dengan pandangan sendu. Ia tahu luka di hati pria itu kembali menganga. "Ah, aku rasa itu karena kamu sebenarnya memimpikanku tapi kamu tidak mau mengakuinya. Aku rasa pria yang ada dalam mimpimu itu bukan Zein, tapi Syehan. Sudahlah, kamu adalah calon istriku," ucap Tanvir, berusaha mengalihkan suasana yang mendadak kelabu.

​Faeyza mengernyit. Ia sangat yakin nama pria dalam mimpinya adalah Zein, bukan Syehan. Namun, melihat kesedihan yang membayang di wajah pria tua di hadapannya, ia memilih mengalah. "Sudahlah, lebih baik aku masuk dulu. Lagi pula hari ini waktunya pelajaran filsafat, biasanya dosen akan memberikan tugas membuat makalah dan besoknya presentasi. Aku tidak mau terlambat."

​"Tanvir, itu benar. Kamu masuklah, jangan bolos kelas," ucap Maulana sembari memaksakan senyum lembut.

​"Baik, Ayah. Ayah juga harus yakin, kalau Kak Zein masih hidup, Insya Allah, Kakak akan kembali. Karena tidak mungkin seorang anak melupakan kedua orang tuanya," balas Tanvir menguatkan.

​"Kamu benar, apa pun yang terjadi di dunia ini semua tidak akan pernah lepas dari rida dan izin dari Yang Maha Kuasa," Maulana mengangguk. Di lubuk hatinya yang terdalam, sebuah harapan kecil tetap ia pelihara: putra sulungnya akan pulang.

Di Sebuah Kediaman yang Tersembunyi...

​Seorang pria berjubah putih duduk di sebuah ruangan sunyi beralaskan karpet merah. Jemarinya dengan khusyuk memutar tasbih putih. Tatapannya menerawang jauh, melintasi batas kota menuju ingatan tentang ayah dan ibunya.

​"Ayah, Ibu. Zein akan segera kembali, Zein hanya perlu menyelesaikan tugas Zein sebulan lagi. Bagaimanapun juga, Zein harus berterima kasih pada seseorang yang telah menyelamatkan Zein dari kecelakaan maut tersebut."

​Dia adalah Zein Ekky Maulana. Sosok bermata safir dengan surai dark blue yang misterius. Wajahnya adalah perpaduan sempurna antara ketegasan rahang sang ayah dan kulit putih bersih sang ibu. Selama ini, ia terikat pada seorang wanita tua yang menyelamatkannya. Bukan sebagai tawanan, melainkan sebagai penawar rindu bagi wanita itu di hari tuanya.

​"Maulana."

​Suara itu memanggilnya. Wanita tua bernama Catherine itu menolak memanggilnya Zein. Baginya, Zein adalah rupa dari putranya yang hilang, Maulana. Zein pun hanya bisa mengangguk dan tersenyum ramah, mematuhi surat perjanjian untuk menetap selama dua tahun demi berpura-pura menjadi putra Catherine.

​"Iya, Nek." Zein bangkit dan menghampiri wanita yang duduk di kursi roda itu.

​"Maulana, apakah kamu bisa membantu Nenek?" tanya Catherine penuh harap.

​"Iya, Nek. Insya Allah, aku bisa bantu," balas Zein lembut.

​Catherine mengeluarkan sebuah foto usang. Di sana terlihat pria berusia 30 tahun dengan iris safir, hidung mancung, dan senyum yang sangat manis. "Dia adalah putraku, dia adalah putra pertamaku. Aku melakukan banyak kesalahan padanya. Ketika dia masih muda, aku dibutakan oleh cintaku pada suami keduaku hingga tidak pernah melihat air matanya. Namanya Ivan Maulana Rizky."

​Zein terkesiap. Nama itu bukan sekadar mirip, itu adalah nama ayahnya. Ia mengambil foto tersebut dengan tangan bergetar. Ternyata ketika seusiaku Ayah benar-benar sangat tampan, tidak heran kalau Ibu sangat cemburu ketika Ayah pergi bersama wanita lain, bahkan meski itu adalah sekretarisnya, itu pun terpaksa, batinnya sembari tersenyum kecil.

​"Maulana, kenapa kamu tersenyum? Apakah kamu pernah bertemu dengan pria ini sebelumnya?" tanya Catherine cemas.

​"Iya, Nek. Dia adalah ayahku, dan Nenek adalah nenek kandungku. Bagaimana kalau sekarang kita pergi ke kota? Aku yakin Ayah dan Ibu juga Tanvir akan merasa senang bertemu dengan Nenek," jelas Zein penuh binar bahagia. Takdir telah mempertemukan mereka kembali.

​"Benarkah? Nenek sangat senang mendengarnya, kalau begitu Nenek akan menyuruh orang untuk menyiapkan segala keperluan."

​Kembali ke ruang kelas filsafat, Faeyza terdiam. Diam-diam ia melirik Tanvir yang duduk di sampingnya. Kata-kata pria itu terus terngiang, mengklaim bahwa dialah penghuni mimpi Faeyza. Namun, hati kecil Faeyza berontak. Ia ingat betul kehangatan Zein dalam mimpinya, sebuah tatapan yang berbeda dengan Tanvir yang ia kenal sekarang.

Ya Allah, apakah seorang pria yang ada dalam mimpi hamba itu adalah Zein atau Syehan? Tolong berikan petunjuk-Mu...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Episode 4: Sandiwara Sang Istri Mungil

Episode 8: Antara Cemburu, Sakit dan Rahasia yang Terungkap

Episode 1: Sang Pangeran Mahkota dan Takdir yang Tersembunyi