Episode 3: Mahar atau Hutang

Ketegangan antara Mizuruky Sinya dan Maulana belum reda, meski keduanya seolah sepakat untuk membekukan perdebatan dalam diam yang mencekam. Udara di ruang makan itu masih terasa berat, sisa-sisa konfrontasi tadi seolah belum menguap sepenuhnya.

"Aku selesai." Maulana meletakkan sendok dan garpu di atas piring dengan bunyi denting pelan yang tegas. Ia menyeka bibirnya dengan gerakan tenang, menandai berakhirnya jamuan yang penuh tekanan itu.

​Fira, yang merasa seolah sedang duduk di atas bara api, segera menyelesaikan suapannya dengan buru-buru. Ia bangkit, tidak ingin tertinggal sedetik pun dari suaminya.

"Aku juga selesai."

​Maulana memiringkan kepalanya sedikit, menatap wajah sang istri yang tampak gelisah. Pria itu menyadari ada kecemasan di sana.

"Sayank, kalau kamu belum selesai, aku akan menunggumu. Jangan khawatir, habiskan makananmu."

​Fira memaksakan sebuah senyum kaku. Matanya melirik nanar pada piringnya yang masih dipenuhi makanan. Ia merutuki dirinya sendiri karena tadi terlalu bersemangat mengambil porsi yang tak sanggup ia habiskan.

"Tapi, Maz." Fira sengaja menekankan panggilan lembut itu di hadapan keluarga besar suaminya, seolah ingin menegaskan wilayah kekuasaannya sebagai istri.

"Tidak apa, Mas akan tunggu sampai kamu selesai makan," balas Maulana dengan nada yang begitu lembut, kontras dengan aura dingin yang ia tunjukkan pada dunia luar.

​Fira mengangguk pasrah. Namun, ketenangannya terganggu saat ia merasakan sepasang mata menatapnya dengan intensitas yang menyakitkan. Nadia. Tatapan wanita itu penuh dengan sisa-sisa kejijikan yang tidak disembunyikan.

"Kenapa Ibu tiri pria tua itu terus menatapku? Aku seperti seorang pelakor saja," batin Fira. Ia terus menyuap makanannya, meski setiap kunyahannya terasa hambar di bawah intimidasi tatapan Nadia.


Di saat yang sama, Maulana tiba-tiba mengernyitkan dahi. Sebuah denyut nyeri yang tajam menghantam perutnya, membuat nafasnya tertahan sejenak. Namun, pria yang terbiasa menelan luka itu memilih untuk mengabaikannya. Rasa sakit itu mereda, dan ia tetap duduk tegak, tak menunjukkan kelemahan sedikit pun.

​Setelah perjuangan menghabiskan makanan, Fira akhirnya berdiri. Langkahnya terasa lebih ringan saat ia mendekati sang suami.

"Aku sudah selesai, Maz. Ayo kita berangkat sekarang."

​Maulana mengangguk. Ia bangkit, tinggi badannya yang 191 cm mendominasi ruangan. Ia meraih tangan Fira yang mungil, menggenggamnya erat seolah ingin membagi kekuatan, lalu membawa gadis itu melangkah keluar dari atmosfer dingin ruangan itu.

​Namun, begitu bayangan keluarga besar itu menghilang dari pandangan, Fira segera menghempaskan tangan Maulana dengan kasar. Ia membuang muka, menghindari tatapan heran pria yang baru saja menjaganya di meja makan.

"Sayang, ada apa?" tanya Maulana, alisnya bertaut bingung.

​Fira memutar tubuhnya, menatap suaminya dengan sorot mata galak yang menyala.

"Paman, dengar baik-baik! Pokoknya nanti di sekolah kita tidak saling kenal! Jangan bilang kalau aku adalah Istrimu! Aku tidak sudi punya Suami sudah tua!"

​Maulana menghela nafas panjang. Harapan tipis bahwa hati gadis itu telah melembut tadi rupanya hanya fatamorgana. Kelembutan Fira di meja makan hanyalah topeng sandiwara.

"Baiklah, terserah kamu. Aku berangkat dulu."

​Pria itu melangkah pergi, meninggalkan Fira yang mendadak tercengang sendirian di lorong luas itu. Gadis itu menoleh ke belakang, membayangkan tatapan mertuanya yang mungkin masih mengawasi dari dalam. Ketakutan mengalahkan harga dirinya. Tanpa pikir panjang, ia segera berlari kecil menyusul langkah lebar Maulana.

​Gengsi memang seringkali menjadi beban, namun rasa takut jauh lebih mendesak. Fira terus berjalan mengekori Maulana hingga mereka sampai di samping mobil. Maulana berbalik, melihat istrinya yang mematung dengan tatapan yang sulit diartikan—sebuah tatapan yang menyiratkan harapan untuk diantar.

"Istriku, apakah kamu ingin satu mobil denganku?" tanyanya, mencoba tetap sabar di tengah sikap labil istrinya.

​Fira mengangguk cepat. Ia berlari memutar, masuk ke dalam mobil sedan itu, dan segera menyamankan dirinya di jok penumpang seolah tidak pernah terjadi pertengkaran sebelumnya. Maulana menyusul masuk ke balik kemudi, menghidupkan mesin mobil yang kini membawa mereka membelah jalanan.


​Di sepanjang jalan, rasa penasaran Fira mulai terusik. Ia menatap interior mobil sedan yang terasa terlalu sederhana untuk ukuran pemilik menara 27 lantai.

"Paman."

"Hm."

​Jawaban singkat dan dingin itu sempat membuat Fira ciut. Ia merasa pria di sampingnya ini sedang memendam kekesalan. Namun, keingintahuannya jauh lebih besar.

"Rumah sebesar itu tapi mobilnya hanya yang murah."

"Murah darimana? Mobil ini harganya 370 juta, mencari uang sebanyak itu tidak mudah, Sayang," balas Maulana sambil tetap fokus mengemudi.

"Tapi dengan hunian mewah 27 lantai, masa mobilnya hanya seharga 370?" cecar Fira, tak habis pikir dengan logika suaminya.

​Maulana menarik nafas dalam, menoleh sejenak pada istrinya.

"Istriku, apakah kamu selalu memandang segala sesuatu itu dari segi materi? Bukankah harusnya kita bersyukur karena masih bisa beli mobil? Di luar sana banyak yang tidak punya mobil," tanya Maulana. Ia sengaja menyimpan kemewahannya. Ia tidak ingin mencolok di sekolah tempatnya mengajar, tempat di mana mayoritas siswanya berasal dari kalangan bawah. Ia ingin berdiri sejajar, bukan sebagai penguasa yang sombong.

"Ya bukan seperti itu, Paman. Hanya saja kan aneh, mana ada seorang yang punya rumah mewah tapi beli mobil hanya dengan harga seperti itu," elak Fira tetap keras kepala, ia sengaja membuang muka agar tak perlu menatap wajah rupawan Maulana yang kini tampak serius.

"Apa yang aneh dengan itu? Setiap orang bebas melakukan hal yang disuka, termasuk membeli mobil standar. Tidak harus membeli mobil dengan harga miliaran hanya karena punya pekerjaan sebagai pemilik perusahaan atau memiliki rumah besar, kamu terlalu banyak membaca novel CEO hingga mobil pun harus harga miliaran," balas Maulana dengan tebakan yang tepat sasaran.

"Ha?"

"Sejak kapan aku suka baca novel? Aku bahkan tidak tahu jenis novel…" Fira terdiam, wajahnya merona merah. Ia membayangkan hal-hal manis yang biasa ia baca di sela kesendiriannya.

​Maulana melirik ekspresi itu. Ia menggelengkan kepala, menyadari bahwa di balik kemarahan Fira, ada sisi gadis remaja yang masih menyimpan rahasia-rahasia kecil.


​Tak lama, roda mobil berhenti di depan gerbang SMA Dirgantara. Fira menatap bangunan itu dengan tatapan tak percaya. Sekolah itu terlihat tua, bangunan yang kusam dimakan waktu—begitu berbeda dengan sekolah elit tempatnya dulu menimba ilmu meskipun orang tuanya harus berhutang demi gengsi.

"Paman, ini tidak salahkan? Masa aku akan sekolah di tempat busuk seperti ini?"

​Maulana menoleh, menatap gedung sekolahnya dengan pandangan tenang. Baginya, setiap sudut bangunan ini adalah tempat perjuangan.

"Apa yang salah dengan sekolah ini? Layak kok ditempati untuk belajar."

"Tapi sekolahku yang dulu itu sangat besar dan semua bangunannya kokoh bahkan bertingkat, kenapa setelah menikah aku harus sekolah di sini?" Fira mendesis kesal, hatinya menolak keras kenyataan ini.

"Karena kamu sudah dikeluarkan di sana, kamu tidak bisa membayar tunggakan akibat uang dari Ayahmu sudah kamu gunakan untuk foya-foya," jelas Maulana dengan nada lembut namun berisi fakta yang menghujam.

"Istriku, janganlah kamu hidup tanpa rasa syukur. Sekarang kamu turun di sini atau aku akan turunkan kamu di tempat parkiran, jadi semua orang tahu kamu adalah wanitaku."

​Ancaman itu membuat Fira terperangah. Menjadi istri Maulana di sekolah ini adalah sebuah bencana bagi reputasinya sebagai remaja.

"Aku turun sini saja, Paman harus ingat! Aku tidak ingin semua orang tahu kalau aku sudah menikah, karena anak SMA tidak boleh menikah."

"Aku tahu, karena itu kalau ada yang tanya maka aku akan jawab kamu adalah wanitaku," jawab Maulana dengan nada santai yang membuat Fira makin naik darah.

​Dengan wajah merah padam, Fira membuka pintu mobil dan membantingnya dengan kasar. Brak! Di balik kemudi, Maulana hanya bisa tersenyum simpul. Ia melambaikan tangannya dari dalam mobil, menatap sosok mungil istrinya, sebelum akhirnya melajukan mobil memasuki halaman sekolah.

​Fira berdiri mematung di depan gerbang. Berulang kali ia menarik nafas, mencoba menenangkan debaran jantungnya. Rasanya masih seperti mimpi buruk—berada di depan sekolah biasa ini, jauh dari kemewahan masa lalunya, memikul rahasia besar sebagai istri dari seorang penguasa menara yang misterius.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Episode 4: Sandiwara Sang Istri Mungil

Episode 8: Antara Cemburu, Sakit dan Rahasia yang Terungkap

Episode 1: Sang Pangeran Mahkota dan Takdir yang Tersembunyi