Episode 2: Amanah Sang Ayah dan Langkah di Tanah Perguruan


Calon Imamku

​Episode 2: Amanah Sang Ayah dan Langkah di Tanah Perguruan

​Syehan Tanvir Mizan adalah pantulan sempurna dari masa muda ayahnya, Ivan Maulana Rizky. Di usia yang menginjak 30 tahun, ia mewarisi segala hal yang membuat sosok Maulana begitu dikagumi sekaligus disegani: tutur kata yang lembut, kasih sayang yang meluap, namun memiliki ketegasan yang tak tergoyahkan. Kulitnya putih halus, hidungnya mancung sempurna, dengan potongan rambut bowl cut yang membingkai wajah rupawannya. Namun, yang paling memikat adalah sepasang iris safir menawan—warisan genetik sang ayah yang begitu dominan hingga terkadang membuat ibunya, Fira, merasa sedikit cemburu.

​“Tanvir, nanti kalau kamu menikah jangan mau dipanggil Mizan,” pinta Fira tiba-tiba. Ada nada cemburu yang terselip di sela suaranya yang manja.

​Tanvir tersenyum tipis. Permintaan ibunya selalu saja unik dan di luar dugaan. “Memangnya kenapa, Bu? Apakah Ibu akan selalu teringat dengan Ayah?” balasnya lembut, mencoba menggoda wanita yang sangat ia cintai itu.

​Fira, wanita yang kini telah menyentuh usia 50 tahun itu, memalingkan wajahnya dengan rona merah yang sulit disembunyikan. Baginya, Maulana yang kini berusia 62 tahun tetaplah pria paling menawan yang pernah ia temui. Saat mereka berjalan menuju kamar, langkah Fira mendadak terhenti. Ia tersentak saat melihat sang suami, Maulana, menoleh ke arahnya. Secara refleks, Fira langsung bersembunyi di balik tubuh kekar putranya.

​Maulana yang melihat tingkah sang istri hanya bisa tersenyum tipis. Tiga puluh tahun lebih mereka mengarungi bahtera rumah tangga, namun sikap Fira tidak pernah berubah—tetap imut, menggemaskan, dan penuh kejutan seperti saat mereka pertama kali bertemu.

​Di sisi lain, Tanvir hanya bisa menggelengkan kepala. Terkadang ia merasa sedikit jengkel dengan sikap alay ibunya yang tak kenal usia. Kenapa dulu Ayah menikahi wanita seperti ini? batinnya. Namun, menyadari pikirannya mulai melantur, ia segera beristighfar. Ia tersadar bahwa kesabarannya ternyata belum setebal milik sang ayah.

​“Ibu, kenapa harus ngumpet? Ayah sedang berjalan kemari. Katanya Ibu kuat menghadapi Ayah?” goda Tanvir lagi.

​“Diam kamu! Kamu itu masih kecil, tidak tahu urusan orang tua,” sergah Fira cepat. Tanvir hanya bisa tersenyum aneh. Dianggap masih kecil di usia 30 tahun? Lalu kriteria dewasa bagi ibunya itu harus setua apa?

​Maulana mendekat. Dengan gerakan yang posesif namun lembut, ia menarik tangan istrinya dari balik punggung Tanvir, lalu mendekapnya erat ke dalam pelukannya. Matanya menatap Tanvir dengan kilat dingin yang membuat pria muda itu menelan ludah. Tanvir tahu, ayahnya sedang cemburu karena istri tercintanya justru mencari perlindungan pada orang lain—meskipun itu anaknya sendiri.

​“Kamu segera menikah saja, biar ibumu tidak selalu mencarimu,” perintah Maulana. Suaranya lembut, namun penuh penekanan yang tak bisa dibantah.

​Tanvir membalas dengan senyum yang sama lembutnya. “Ayah, bukankah jodoh itu di tangan Allah. Ayah menyuruhku segera menikah, apakah Ayah sudah mencarikan jodoh untukku? Atau Ayah sudah terima kabar bahwa jodohku sudah datang?”

​Maulana menghela napas, merasa jengkel karena putranya ini tidak hanya mirip wajahnya, tapi juga gaya bicaranya yang pandai berkelit.

​“Ibu setuju, Tanvir! Ayahmu ini suka sekali berceramah, tapi sekarang malah menyuruh anaknya menikah, hayo sekarang paman Maulana mau jawab apa?” timpal Fira ikut menyudutkan suaminya.

​Maulana tersenyum lembut ke arah Fira—sebuah senyuman yang justru membuat Fira merinding. “Sayangku, apakah sekarang kau ingin mencari aliansi untuk melawan suamimu ini? Tanvir itu sudah harusnya menikah, lebih baik segera mencari calon istri. Di luar sana banyak wanita cantik dan baik, bukan hanya duduk dalam rumah. Suamimu ini juga pernah muda, pernah mengurus perusahaan besar. Tetap menikah bukan, menikah juga merupakan sunnah Rasul, kalau Tanvir tidak melakukan sunnah Rasul maka tidak akan diakui sebagai umatnya.”

​Tanvir memalingkan wajah, mulutnya komat-kamit memprotes alasan ayahnya yang dianggapnya sangat ahli dalam bersilat lidah. Ia yakin ayahnya menyuruhnya menikah hanya agar perhatian ibunya kembali seratus persen padanya.

​“Tanvir, jangan buruk sangka,” tegur Maulana seolah bisa membaca pikiran putranya. “Bagaimana kalau besok kamu keluar cari udara segar. Kalau kamu tidak suka di kantor, bagaimana kalau kamu jualan buah saja. Ayah sangat tahu, kalau wanita sekarang lebih suka mencari pria kaya, karena itu untuk memastikan apakah wanita itu baik atau tidak untukmu, maka kamu perlu menurunkan identitas duniamu.”

​Tanvir menoleh terkejut. Bagaimana ayahnya bisa tahu ia sedang ngedumel? “Ayah, lalu perusahaan ZTM bagaimana?” tanyanya bingung.

​“Seperti kamu pernah mengurusnya saja, kamu sudah menaruh orang-orang terbaik di ZTM Corp, jadi tidak perlu khawatir. Besok Ayah akan menghubungi kakekmu, nanti kamu bisa tinggal di sana. Sekalipun rumahnya tidak semewah ini, tapi cukup untuk menjadikanmu dilirik banyak wanita, apalagi kamu memiliki wajah rupawan seperti Ayah ketika masih seumuran denganmu,” jelas Maulana penuh percaya diri yang membuat Tanvir ingin sekali muntah.

​“Baiklah, aku ikut Ayah saja. Aku percaya, Ayah akan menjaga Ibu dengan baik. Jangan menyiksa Ibu.”

Werr…

“Aduh, Ayah ampun!” Tanvir meringis kesakitan saat telinganya tiba-tiba dijewer oleh Maulana.

​“Kamu berani berbicara seperti itu pada ayahmu? Apakah Ayah pernah mengajari untuk bersikap tidak sopan pada orang tua?” tegur Maulana lembut namun tangannya tak mengendurkan tarikan pada telinga Tanvir.

​“Tidak, Ayah tidak pernah mengajari Tanvir untuk bicara sembarangan pada orang tua. Aku tidak akan mengulangi lagi,” balas Tanvir dengan wajah merah padam karena panas dan sakit.

​“Bagus,” ucap Maulana seraya melepaskan jewerannya. Fira tersenyum bangga lalu mencium pipi suaminya; ia selalu mengagumi cara Maulana mendidik tata krama.

​“Tanvir, kamu harus ingat! Seperti apa pun orang tuamu, kamu tidak boleh sedikit pun tidak hormat padanya. Ayah khawatir, kalau nanti Ayah tidak ada, kamu akan tidak hormat pada ibumu, atau pada mertuamu. Tanvir, kamu hanya seorang pemilik ZTM, bukan pemilik dunia ini. Kalau hanya seperti itu kamu sudah berani bersikap tidak hormat pada orang tuamu, kamu akan jadi apa kalau nanti sudah lebih sukses dari ini.”

​Teguran itu menghunjam jantung Tanvir. Ia mengangguk dalam. “Baik, Ayah. Tanvir tidak akan mengulangi sikap Tanvir lagi, Ayah yang terbaik. Tanvir berharap, Ayah dapat melihatku menikah dan punya anak. Ayah adalah sosok suami terbaik bagi Ibu dan ayah terbaik untukku, aku dan Ibu sangat sayang Ayah.”

​Tanvir memeluk tubuh ringkih ayahnya. Di dalam rumah ini, mereka adalah satu jiwa yang harmonis tanpa kasta. Namun Tanvir tahu, ia akan selalu menjaga kehormatan kedua orang tuanya di luar sana dengan nyawanya sendiri.

Di Sisi Lain Dunia...

​Faeyza sedang sibuk membereskan perlengkapannya. Hari ini di kampus ada mata kuliah metode pembelajaran. Sebagai calon pendidik, ia tahu betapa pentingnya menguasai cara mengajar tingkat dasar agar tidak salah dalam menuntun generasi depan.

​“Faeyza.” Seorang wanita paruh baya—ibunya—mengulurkan uang 25.000 sebagai uang saku untuk seminggu kedepan. Meski jumlahnya sangat sederhana, Faeyza menerimanya dengan senyum tulus. Ia meraih tangan sang ibu dan mencium punggung tangannya dengan penuh takzim.

​Gadis cantik dan sholehah itu kemudian bergegas menuju motor yang sudah disiapkan adiknya, Ulfi Kurniati. Faeyza memang tidak bisa mengendarai motor, sehingga ia harus selalu mengandalkan adiknya untuk membelah jalanan menuju kampus Dirgantara. Langkah awal menuju takdir yang belum ia ketahui.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Episode 4: Sandiwara Sang Istri Mungil

Episode 8: Antara Cemburu, Sakit dan Rahasia yang Terungkap

Episode 1: Sang Pangeran Mahkota dan Takdir yang Tersembunyi