Episode 11: Nama yang Terselip di Hati


Calon Imamku – Episode Sebelas

Ruang kelas sore itu dipenuhi cahaya matahari yang menembus jendela, menebarkan kilau keemasan di atas meja-meja kayu. Nita dan Rico duduk memperhatikan Faeyza, gadis yang tengah berusaha keras berbicara dengan sosok pria di sampingnya. Ia mengira pria itu adalah Tanvir, padahal wajah rupawan itu jelas milik Zein.  

Faeyza mencondongkan tubuh, matanya menatap penuh rasa ingin tahu.  
"Tanvir, kenapa sekarang kamu diam saja? Apakah kamu sakit gigi? Biasanya kamu sangat aktif. Apakah karena sekarang yang mengajar adalah Paman Maulana? Bukankah kamu selalu merasa kalau Paman Maulana adalah saingan cintamu dalam mendapatkan ku?"  

Zein hanya tersenyum simpul. Senyum itu tipis, namun cukup untuk membuat suasana bergetar. Baginya, sungguh menggelikan jika adiknya dianggap bersaing dengan sang Ayah dalam urusan cinta. Mustahil seorang Ayah merebut kekasih dari anaknya sendiri.  

"Benarkah? Apakah menurut mu … Tanvir akan menganggap kalau Ayah kami sebagai saingan cinta?"  

Faeyza terperanjat. Dadanya berdegup kencang ketika menyadari bahwa pria di sampingnya bukanlah Syehan Tanvir Mizan, melainkan Zein Ekky Maulana. Kesadaran itu membuat lidahnya tergelincir.  

"ZEIN!"  

Suara lantang itu memecah keheningan kelas. Semua kepala serentak menoleh, tatapan heran menusuk ke arah gadis yang kini wajahnya memerah. Bahkan Maulana, sang dosen paruh baya, mendongak dengan alis terangkat.  

"Faeyza Farzan, bukankah Zein ada di sampingmu? Kenapa kamu memanggil namanya dengan berteriak seperti dia ada di luar angkasa saja?"  

Suasana mendadak hening. Zein menunduk, senyum kecil masih menghiasi bibirnya. Ia tak menyangka gadis yang diam-diam disukai adiknya ternyata begitu menggemaskan.  

Tubuh Faeyza kaku, wajahnya panas menahan malu.  
"Anu pak … tadi … tadi saya hanya terkejut, saya pikir … saya pikir dia adalah Tanvir," ucapnya terbata.  

Dari pojok kelas, suara lain menyahut.  
"Za, bukankah dia memang Tanvir? Kamu yang berteriak memanggil nama lain."  

"Benar itu, Za. Lagi pula … bukankah kamu selama ini juga sering menuliskan nama itu? Lihat saja nama yang kau tulis di buku dan pena mu, semua namanya adalah Zein."  

Faeyza semakin menunduk, wajahnya hampir tersembunyi di balik buku. Rasa malu menyesakkan dadanya. Maulana tersenyum maklum, memahami gejolak usia muda.  
"Sudah, kalian tidak perlu bergosip. Tidak ada salahnya Faeyza menyukai seseorang, yang terpenting Faeyza mampu menjaga rasa sukanya agar tidak menjerumuskan ke dalam maksiatan."  

Zein menimpali dengan suara tenang, penuh wibawa.  
"Apa yang dikatakan Ayah memang benar, hendaklah kita tidak perlu mengatakan sesuatu yang tidak diperlukan. Mungkin saja … apa yang terjadi pada Faeyza merupakan rahmat dari Allah, atau mungkin itu juga tanda bahwa pria itu memang jodohnya, bukankah kita semua tidak ada yang tahu?"  

Faeyza melirik sekilas. Senyum tipis muncul di bibirnya, lega karena Zein tidak menertawakan dirinya, bahkan membela.  

Nita ikut bersuara, penuh semangat.  
"Iya, kalian ini jangan suka seperti itu, kasihan Faeyza, dia sudah sangat menunggu lama. Tapi aku sangat senang kalau nanti Faeyza menikah di usia dua puluh tahun dengan pria yang selama ini dia impikan."  

Maulana segera menyela, mengembalikan fokus kelas.  
"Sudah, sekarang kita kembali mulai pejarannya. Masalah bahas jodoh itu nanti saja, siapa tahu kalian bagi yang perempuan masih single berminat menjadi jodoh untuk kedua putra ku."  

Nita tak bisa menahan rasa ingin tahu.  
"Memangnya anak bapak bersedia menikah di usia berapa? Pekerjaannya apa? Perjaka atau duda? Tampan atau tidak?"  

Maulana tersenyum tipis, bercanda.  
"Nita, kamu bersemangat sekali. Anak saya itu bernama Syehan Tanvir Mizan dan Zein Ekky Maulana. Zein itu Owner ZEM dan Tanvir adalah CEO di ZEM. Mereka masih perjaka dan mereka juga selalu menjadi idola para gadis, tapi sepertinya Nita … mungkin mereka tidak tertarik pada mu."  

Nita merengut, wajahnya sebal.  
"Bapak bisa saja, saya ini masih gadis dan muda lagi. Masa anak bapak tidak ada yang mau dengan gadis cantik seperti saya si?"  

---

Adegan Beralih – ZEM Corporation

Di sisi lain, Tanvir melangkah keluar dari gedung megah ZEM, perusahaan berlian bertaraf internasional yang menjadi incaran banyak investor. Jas hitamnya berkilau diterpa cahaya sore.  

"Meeting selesai, sekarang aku mau ke rumah Faeyza. Kuliah sudah selesai, tapi …" gumamnya. Namun ia tersadar, hingga kini ia belum tahu alamat rumah gadis itu.  

"Alamat rumahnya di mana?" tanyanya lirih, seolah pada angin.  

Seorang wanita cantik menyapanya. Rok selutut dan kerah baju yang rendah membuat penampilannya mencolok.  
"Sore, pak."  

Tanvir menghela napas, menutup wajah dengan telapak tangan.  
"Anjani, kamu bisa tidak tutup tubuh kamu dengan benar. Untuk kak Zein tidak di kantor, kamu bisa diceramahi berjam-jam nantinya."  

Anjani tersenyum genit, merasa penampilannya sudah cukup sopan.  
"Pak, penampilan saya ini sudah sangat bagus. Mana mungkin saya pergi ke kantor pakai busana muslim."  

Tanvir menatap tajam.  
"Tidak masalah, itu lebih baik. Toh kerja kamu bukan ngepel, jadi meski pakai baju busana muslim dengan kerudung panjang juga akan sah-sah saja, lebih baik juga dan kamu akan semakin dikenali sebagai seorang muslimah."  

Anjani mengedipkan mata, menggoda.  
"Baik, pak. Tapi pak … kemana pak Zein? Kenapa selama dua tahun ini belum ada kabar? Padahal kita semua sudah sangat merindukannya."  

Tanvir mendengus.  
"Mata mu sitir kalau terus seperti itu, sudah aku pergi dulu. Kalau kamu masih ada waktu untuk ngobrol, gunakan saja mengerjakan tugas mu. Jangan lupa, minggu depan ada pameran, kamu harus siapkan dengan baik. Gagal, kamu yang saya pecat."  

Ia masuk ke mobil, meninggalkan Anjani yang bergumam kesal.  
"Pak Tanvir sangat galak, tidak sama dengan pak Zein yang selalu baik dan bijak. Meski kadang telinga panas kalau harus mendengarkan ceramah agamanya kalau sudah ada yang melakukan kesalahan."  

---

Mansion Mizuruky

Di sebuah mansion megah bertingkat dua puluh tujuh, suasana berbeda menyelimuti. Fira duduk di ruang tamu yang dipenuhi sofa mewah, wajahnya jengkel.  

"Farhan, apakah kamu datang ke sini setelah bertahun-tahun hanya untuk mencari pinjaman uang?"  

Farhan, adik iparnya, hanya tertawa kecil, santai.  
"Aduh, kamu ini sudah ibu-ibu masih saja bawel seperti dulu. Kak Fir, perusahaan ku bisa hancur kalau tidak mendapat pinjaman modal dari kak Ivan. Bukankah perusahaan Mizuruky Corp adalah perusahaan besar, lagi pula rumah dua tujuh tingkat ini juga tidak akan terjual hanya karena memberikan pinjaman pada ku."  

Ia merebahkan diri di sofa, seolah rumah megah itu miliknya sendiri.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Episode 4: Sandiwara Sang Istri Mungil

Episode 8: Antara Cemburu, Sakit dan Rahasia yang Terungkap

Episode 1: Sang Pangeran Mahkota dan Takdir yang Tersembunyi