Episode 10; Luka di Balik Dusta Mawar Kecil
Lembayung senja mulai merambat di cakrawala, namun bagi Fira, hari pertama di sekolah barunya terasa seperti labirin yang menyesakkan. Ia berdiri di depan gerbang, termenung menatap aspal jalanan sembari merenungi tabiat teman-teman sekelasnya yang jauh dari kata hormat terhadap guru—sebuah kontras tajam yang melukai nuraninya.
Di tengah lamunannya, sosok Angga muncul dengan gaya bicara yang meliuk-liuk manja.
"Fir, Say. Yuk pulang sama aku," ajak Angga dengan nada centil
Fira menoleh, merasa mual hingga ke hulu hati melihat tingkah pria itu. "Ngga, bisa nggak kamu kalau bicara jangan seperti cewek? Aku mual tahu?!" semprot Fira tanpa basa-basi.
Seketika Angga merubah perangainya, suara baritonnya kembali muncul seolah ia adalah pria sejati. "Fir, kamu mau pulang dengan ku?".
Fira hampir saja mengiyakan, sebelum mobil sedan hitam yang sangat ia kenali membelah keramaian parkir. "Tidak, aku berangkat bersama Pak Ivan, jadi pulang juga dengan Pak Ivan," tolak Fira halus.
Namun Angga justru merangkul lengan Fira dengan erat, seolah tak membiarkannya lepas. "Kalau begitu, aku juga akan numpang ke mobil Pak Ivan," tantang Angga.
Mobil itu berhenti tepat di depan mereka. Maulana keluar, sosoknya yang setinggi 191 cm memancarkan aura dingin yang menusuk. "Kalian ingin pamer kemesraan?" tanyanya dengan nada datar namun sarat akan kecemburuan.
"Saya tidak akan kalah dari Antonio, Pak. Saya akan mengejar Fira juga," sahut Angga dengan kepercayaan diri yang meluap. Fira terkesiap, tak menyangka drama ini akan semakin rumit dengan kehadiran Angga sebagai peminat baru.
Maulana membalas dengan senyum miring yang penuh kuasa. "Tapi Fira adalah wanita saya, bukankah sudah saya katakan?".
"Pak, kan Bapak dan Fira masih pacaran, artinya saya masih boleh deketin Fira," balas Angga keras kepala sembari hendak menarik tangan Fira. Kilat amarah muncul di mata safir Maulana saat melihat istrinya disentuh pria lain. Ia segera menyambar tangan Fira yang satunya.
Merasa seperti barang taruhan, Fira menghempaskan tangan suaminya dengan kesal. "Aku akan pulang dengan Angga, Paman!".
Maulana mematung, menelan emosi pahit yang menggumpal di tenggorokan. Ia hanya bisa menatap punggung mungil itu menjauh dengan perasaan kecewa yang mendalam.
Di atas motor, Angga membuka percakapan sembari melirik Fira dari spion. "Fir, kenapa kamu mau pacaran dengan Pak Ivan? Dia sudah tua, kamu masih remaja."
Demi menutupi rahasia, Fira menyusun sebuah narasi pilu. "Aku dipaksa bertunangan dengan Pak Ivan, orang tuaku punya hutang pada Ayahnya Pak Ivan. Aku menjalin hubungan juga karena terpaksa," jelasnya sembari membiarkan angin sore menerpa wajahnya.
"Jadi kamu sebenarnya tidak cinta pada Pak Ivan?" tanya Angga penuh harap.
"Iya, mana mungkin aku akan mencintai pria berumur seperti itu," jawab Fira ketus. Namun, hatinya mendadak mencelos, ada denyut perih yang tak bisa ia jelaskan setelah mengucapkan kalimat dusta itu.
Sesampainya di depan Mansion Mizuruky, Angga tertegun melihat kemegahan bangunan itu.
"Fir, kamu yakin ini rumahmu?" tanya Angga ragu.
"Iya," jawab Fira kaku, sembari membatin bahwa rumah sang suami adalah rumahnya juga. Ia kemudian melanjutkan dramanya, menyebut Maulana sebagai sosok keji yang merebut rumah keluarganya lewat hutang piutang.
"Pak Ivan sungguh menjijikkan!" seru Angga penuh simpati.
Ketegangan memuncak saat mobil sedan hitam Maulana muncul. Angga langsung memasang badan, siap menjadi perisai bagi Fira.
Begitu Maulana turun dari mobil, Angga langsung menyerang dengan kata-kata pedas. "Pak, saya tidak menyangka kalau Bapak adalah orang yang sangat menjijikkan!".
Maulana hanya mengernyitkan dahi, menatap Fira yang menunduk dalam karena malu telah memfitnah sang suami.
"Pak, mulai sekarang saya tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Fira, termasuk Bapak!" tegas Angga.
Maulana hanya menghela napas lelah. "Baiklah, terserah apa yang ingin kamu katakan, Angga. Saya lelah dan ingin istirahat, bisakah kalian menyingkir? Jangan menghalangi jalan," ucapnya dingin, menyadari bahwa mereka berdua berdiri tepat di depan pintu gerbang.
Fira dan Angga bergeser dengan perasaan malu yang luar biasa karena salah sangka. Sebelum masuk, Maulana menoleh sekilas. "Hari ini aku akan menghadiri acara Pameran, mungkin akan pulang malam. Tidurlah dulu, jangan menunggu ku."
Fira terdiam, teringat kisah-kisah miliuner yang pernah ia baca. Ada rasa penasaran dan sedikit kegelisahan di hatinya saat melihat mobil suaminya meluncur masuk.
"Angga, kamu pulang saja. Aku akan baik-baik saja," usir Fira tiba-tiba, membuat Angga hanya bisa terheran-heran.
Komentar
Posting Komentar