Episode 10: Cahaya Syukur dan Pertemuan yang tidak Terduga
Episode 10: Cahaya Syukur dan Pertemuan yang Tak Terduga
Di sudut kantin kampus yang sederhana dan riuh, Tanvir duduk berhadapan dengan kakak kembarnya. Dengan gerakan canggung, ia menyodorkan semangkuk bakso yang masih mengepulkan uap panas. Aroma kaldu gurih menyeruak, namun ada semburat rasa bersalah di wajah Tanvir. Ia tahu betul siapa pria di depannya; Zein Ekky Maulana, pemilik sah dari imperium ZEM, yang biasanya dikelilingi kemewahan.
"Kak, maaf ya? Aku hanya memesankan semangkuk bakso dan es teh, hanya ada ini di kantin ini. Lainnya hanya makanan ringan," ucap Tanvir dengan nada tidak enak hati, merasa hidangan itu terlalu bersahaja untuk sang kakak.
Zein menatap mangkuk di depannya, lalu beralih menatap adiknya dengan binar mata yang meneduhkan. Sebuah senyuman tipis namun tulus terukir di bibirnya. Baginya, kemewahan bukan terletak pada harga, melainkan pada keberkahan.
"Surat Luqman Ayat 12," Zein memulai dengan suara lembut yang seketika meredam kebisingan kantin. "Walaqad aataynaa luqmaanal hikmata anisykur lillaah; wamay yasykur fainnamaa yasykuru linafsih; wamay kafara fainnallaaha ghaniyyun hamiid."
Ia melanjutkan maknanya dengan penuh penghayatan, "Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: 'Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.' Apapun yang Allah berikan hendaklah kita selalu bersyukur, makanan yang kamu berikan ini juga merupakan rizky dari Allah, hanya saja melalui perantaramu. Karena itu kamu jangan merasa tidak enak hati, karena kakak merasa ini lebih dari cukup."
Tanvir tertegun, tersentuh oleh kerendahan hati kakaknya. Ia mengangguk pelan. "Kak Zein, apa yang kakak katakan memang benar, kita harus selalu bersyukur dengan apapun rizky yang Allah berikan. Tapi … kenapa kakak mengenakan baju seperti ini? Kakak habis dari pengajian?" tanyanya, memperhatikan jubah anggun yang dikenakan Zein.
"Bukan, aku dari rumah nenek dan langsung ke sini. Aku memang selalu mengenakan baju seperti ini kalau di sana, nenek bilang aku mirip Ayah. Dulu kalau sedang di rumah, Ayah jarang mengenakan jas atau kemeja, Ayah lebih suka menggunakan baju taqwa atau jubah seperti ini," jelas Zein sambil merapikan pakaiannya.
Tanvir mengamati lebih detail. Pakaian itu unik; jubah putih dengan lapisan luar yang tipis namun elegan. "Tapi … baju kakak mirip dengan jubah orang Arab zaman dulu, hanya saja baju luar kakak lebih tipis hingga mirip baju kerajaan orang mandarin zaman dulu."
Zein hanya tersenyum, membiarkan adiknya berpendapat. Keheningan sejenak pecah saat Zein melontarkan pertanyaan yang cukup menohok namun penuh perhatian. "Sudahlah, bagaimana ZEM? Kenapa seorang yang sudah tamat S3 masih menempuh kuliah sarjana? Apakah tidak malu dengan umur yang sudah tiga puluh tahun?"
Tanvir mengaduk baksonya dengan malas, gurat kekesalan muncul di wajahnya. "ZEM diurus Ayah, aku kan sudah bilang pada kakak. Ayah menyuruhku mencarikan menantu untuknya, sepertinya Ayah tidak suka dengan pegawai kantoran. Ayah lebih suka kalau aku memiliki seorang istri seperti Ibu, yang hanya diam di rumah, mengaji, sholat, masak dan menyiapkan kebutuhan Ayah, sekaligus bawel dan suka dijahili."
Zein terkekeh pelan, membayangkan sosok Ibu mereka yang memang luar biasa. "Tanvir, aku yakin niat Ayah itu baik. Karena memang kewajiban seorang suami memberikan nafkah untuk Istrinya, dan seorang Istri itu lebih baik di rumah dan menunggu suaminya pulang, menyambutnya dan melayaninya. Lagi pula … bukankah kamu tidak kekurangan uang sama sekali?"
"Tapi kak, kalau nanti Istriku ingin kerja bagaimana?" sela Tanvir, masih mencari keadilan bagi calon pendampingnya kelak.
"Kamu izinkan saja, asal semua pekerjaan rumah sudah beres. Misalnya seperti menyiapkan makanan untukmu, sekalipun kamu bisa menyewa PRT, tapi bukankah kepuasan seorang Suami ketika Istrinya yang menyiapkan semua kebutuhannya," jawab Zein penuh kebijaksanaan.
Tanvir terdiam, mulai mencerna kata-kata itu. "Benar juga, apa yang kakak katakan memang ada benarnya. Kalau memang dia ingin kerja, aku tidak akan masalah asalkan aku tetap menjadi yang utama, bukan pekerjaannya. Pantas saja Ibu selalu merasa bahagia sekalipun tidak kerja, Ibu bahkan punya kartu kredit sendiri, mana itu hitam dan isinya tak terbatas."
Di sisi lain, Ivan Maulana Rizky melangkah dengan gagah menuju lantai tiga untuk rapat dosen. Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap siluet yang sangat familiar di kantin. Seorang pria muda berjubah putih dengan syal merah sedang tersenyum manis.
"Zein," gumamnya tak percaya. Jantungnya berdegup kencang. Ia segera menghampiri meja tersebut untuk memastikan penglihatannya. "Zein," panggilnya lagi, kali ini lebih keras.
Zein mendongak. Begitu melihat sosok sang Ayah, ia langsung berdiri dengan penuh takzim. Tanpa ragu, ia meraih tangan Maulana dan menciumnya dengan dalam. "Ayah, maafkan aku. Aku tidak memberitahu Ayah kalau aku di sini, aku bukan bermaksud untuk menyembunyikan kebenaran ini dari Ayah. Hanya saja … Nenek belum mengizinkan aku menghubungi Ayah."
Tanvir yang berdiri di sampingnya bisa merasakan suasana haru yang kental. "Ayah, harap Ayah tidak marah. Mungkin Ayah perlu bertanya pada Nenek, kenapa Nenek harus menyembunyikan diri dan menyembunyikan kak Zein."
Maulana menatap putra pertamanya dengan mata berkaca-kaca, namun tetap tenang. "Tidak, Nenekmu bukanlah orang yang suka menyembunyikan cucunya, kecuali dia tidak tahu kalau Zein adalah cucu kandungnya. Ayah sangat tahu bagaimana Nenekmu, sudahlah … yang terpenting sekarang Ayah sudah tahu kalau kamu baik-baik saja, nanti Ayah akan memberi tahu Ibumu agar tidak khawatir lagi, Insya Allah minggu depan kita akan berkunjung ke rumah Nenekmu."
"Ayah, Ayah selalu sabar dan pengertian. Aku senang memiliki seorang Ayah sepertimu," ucap Zein tulus.
Maulana membusungkan dada dengan bangga, kembali ke sifat aslinya yang sedikit narsis. "Zein, kamu memang anak pengertian. Tahu saja kalau Ayahmu ini memang orang yang seperti itu." Tanvir hanya bisa memutar bola mata melihat tingkah ayahnya yang terkadang masih seperti ABG.
Di Ruang Kelas...
Nita tampak gelisah, sesekali melirik ke arah pintu. "Za, pak Maulana kok belum datang ya? Apa dia sakit?"
Faeyza menyahut cuek sambil merapikan catatannya, "Jangan sembarangan menduga, lagi pula Tanvir juga belum datang. Mungkin mereka masih ngobrol."
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Maulana masuk, namun ada yang berbeda. Di belakangnya bukan Tanvir, melainkan Zein yang kini mengenakan kemeja Tanvir karena sang adik harus pergi mendadak ke kantor untuk rapat ZEM.
"Assalamualaikum," sapa Maulana hangat. Kelas seketika senyap.
Faeyza menatap sosok yang dikiranya Tanvir itu dengan mata berbinar. Ia mendekat, lalu berbisik dengan nada manis yang menggoda, "Tanvir, menurutmu … apakah aku cocok dengan kakakmu?"
Zein tertegun. Ia menelan ludah, dadanya berdesir hebat. Ia tak menyangka akan ditanya pertanyaan seberani itu oleh gadis yang justru sedang ia hadapi sekarang. Zein hanya bisa terdiam, membeku dalam dilema identitas dan debaran jantung yang tak menentu.
Komentar
Posting Komentar