Episode 1: Siluet di Ambang Doa

Episode 1: Siluet di Ambang Doa

​Fajar belum benar-benar pecah, namun napas Faeyza Farzan sudah memburu hebat.

"Faeyza, kamu adalah calon istriku."

​Kalimat itu bergema, memantul di dinding kesadarannya. Sepasang iris mata kecoklatan milik Faeyza terbuka sempurna. Ia tersentak, terduduk kaku di atas ranjang dengan peluh dingin yang membasahi pelipis. Mimpi itu lagi. Sosok pria berjubah putih itu kembali datang, membawa ketenangan yang asing sekaligus kegelisahan yang menyesakkan. Faeyza sama sekali tak mengenalnya, namun senyum manis dan bariton suara yang lembut itu tertanam kuat, seolah-olah telah terukir di sana sejak lama.

​"Siapa?" lirihnya pada kegelapan kamar.

​Faeyza, gadis yang dikenal lugu namun memiliki lidah yang terkadang setajam silet jika bicara, kini tampak rapuh. Ia tertegun. Di dunia nyata, ia tak pernah membayangkan ada pria serupawan itu. Dengan tangan gemetar, ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping bantal. Jemarinya menari di atas layar, mencari daftar pria tertampan di dunia, berharap ada satu wajah yang mampu menjelaskan mimpinya.

​Nihil. Tak ada satu pun yang menyerupai sang pemilik senyum di alam bawah sadarnya. Rasa frustrasi mulai merayap. Di usianya yang baru menginjak 20 tahun—dengan rencana matang untuk menikah di rentang usia 21 hingga 25 tahun—kehadiran sosok misterius ini adalah anomali yang membingungkan.

​"Tidak ada... lalu siapa orang itu? Kenapa ada manusia serupawan itu?" gumamnya, diikuti senyum kecil yang terbit tanpa sadar. Namun, sedetik kemudian, bayangan ngeri melintas. "Bagaimana kalau dia adalah Jin? Jin kan bisa menyerupai wajah manusia? Aduh, aku harus bagaimana?"

​Gadis itu gelisah. Ia memiringkan tubuh ke kiri, lalu ke kanan, lalu terlentang. Hatinya bak ombak yang tak kunjung surut. Dalam kepasrahan, ia berbisik ke langit-langit kamar, "Ya Allah, siapa orang itu? Jika memang dia adalah jodohku, akan dengan senang hati hamba menerimanya."

​Menyadari lamunannya semakin liar, Faeyza menggeleng kuat. "Astaghfirullah hal adzim. Lebih baik aku sholat tahajud saja, siapa tahu aku dapat petunjuk."

​Dengan langkah mantap, mahasiswi semester empat Universitas Dirgantara itu bangkit. Meski bukan dari kasta bangsawan—hanya putri seorang petani dan juragan pinang yang sederhana—Faeyza selalu mencoba menjadi pribadi yang baik di hadapan Sang Khalik, meski dunia sering kali enggan melihat kebaikannya.

Allahu Akbar.

​Di sudut kota yang berbeda, di balik kemegahan yang sunyi, seorang pria berdiri tegak. Syehan Tanvir Mizan. Jubah putihnya melambai lembut saat ia ruku' dan sujud. Tubuhnya atletis, dengan iris mata biru yang memancarkan ketegasan sekaligus keteduhan. Di usianya yang ke-30, doa yang ia langitkan selalu sama: meminta kiriman jodoh yang terbaik.

​Dunia mengenalnya sebagai pemilik Z.E.M Corporation, raksasa berlian yang menguasai pasar. Namun, Tanvir adalah hantu di perusahaannya sendiri. Ia lebih memilih bekerja di balik layar, membiarkan orang-orang hebat menjalankan tugas harian sementara ia menyepi dalam zikir, tadarus, atau berbagi tawa dengan anak-anak yatim. Ia hanya akan muncul layaknya sang penyelamat saat badai krisis menghantam perusahaannya.

​Setelah salam terakhir, Tanvir duduk bersimpuh. Namun, ketenangannya terusik oleh sebuah suara.

Tok... Tok...

​"Tuan muda."

​Tanvir menghentikan putaran tasbihnya. Ia bangkit dan membuka pintu. Di hadapannya, seorang pelayan wanita terpaku, seolah jiwanya tersedot oleh ketampanan sang majikan. Tanvir segera membuang muka, sebuah isyarat halus bahwa ia tak suka dipandang berlebihan.

​"Maaf, Tuan. Nyonya menyuruh saya menemui Tuan, Nyonya ingin Tuan menemaninya pergi."

​Tanvir mengernyit. "Ayah di mana?"

​"Maaf, Tuan. Saya tidak tahu."

​Tanvir menghela napas panjang. Langkah kakinya membawa ia menemui sang ibu. Benar saja, di dini hari yang buta itu, ibunya sudah berdiri dengan koper di tangan. Drama lama yang kembali berulang. Tanvir menghampiri, memeluk wanita itu dari belakang dengan kehangatan yang sanggup meluruhkan amarah.

​"Ibu," bisiknya.

​"Tanvir, Ibu ingin keluar dari rumah ini! Ibu tidak tahan lagi dengan ayahmu. Dia itu selalu maksa Ibu untuk sholat malam. Ibu itu capek, Tanvir! Mana ayahmu itu tidak memberi ampun pada Ibu," keluh ibunya berapi-api.

​Tanvir tersenyum tipis. Ia tahu betul sifat ayahnya, Ivan Maulana Rizky, pria setinggi 191 cm yang pesonanya tak luntur dimakan usia, namun memang sangat gigih jika menyangkut urusan ibadah... dan urusan ranjang.

​"Ibu, biar nanti Tanvir yang berbicara dengan Ayah. Sekarang Ibu harus kembali bersama Ayah, tidak diizinkan seorang istri keluar dari rumahnya tanpa izin dari sang suami," ujar Tanvir lembut, lalu ia mengutip sebuah hadis:

"Dari Ibnu Umar Ra berkata, 'aku melihat seorang perempuan mendatangi Rasulullah dan bertanya: Wahai Rasulullah, apa saja hak suami atas istrinya? Rasulullah Saw menjawab: hak suami atas istrinya adalah seorang istri tidak diperbolehkan keluar dari rumahnya kecuali dengan izin suami. Apabila ia melakukannya maka ia dilaknat oleh malaikat rahmat dan malaikat ghodob (marah) sampai ia bertaubat. Wanita itu bertanya: wahai Rasulullah, sekalipun sang suami berbuat zalim? Rasul menjawab Ya, sekalipun ia berbuat zalim.'" (HR. Abu Daud).


​Tanvir menatap ibunya dengan kasih sayang. "Ibu, aku percaya Ibu adalah istri yang shalehah. Memang ketika seorang suami meminta istrinya untuk menemaninya di atas tempat tidur, seorang istri tidak boleh menolak. Tapi terkadang seorang suami harus memperhatikan kondisi istrinya, Ayah harus berhenti dan memberikan Ibu istirahat ketika Ibu sudah tidak sanggup."

​Wajah cantik ibunya mendadak memerah, ia mendelik galak. "Siapa yang tidak kuat?! Aku kuat, kamu jangan sembarangan!" sewotnya, tak terima dianggap lemah.

​Tanvir tersenyum penuh kemenangan. Umpannya berhasil. "Kalau Ibu memang kuat, masuklah dalam kamar lagi. Tanvir akan antarkan Ibu."

​Ibunya mendengus, namun kakinya mulai melangkah kembali ke kamar. "Baik, Ibu akan buktikan padamu, kalau meski sudah tua, Ibu masih kuat! Tapi Tanvir, kau ini sangat mirip dengan ayahmu, suka sekali berceramah. Dulu saat ayahmu masih muda dan menikah dengan Ibu, suka sekali berceramah. Tapi, Ibu sangat mencintai ayahmu, Ivan Maulana Rizky, pria mesum itu selalu saja seenaknya kalau berceramah. Persis sepertimu, Tanvir!"

​Tanvir hanya bisa terkekeh pelan melihat punggung ibunya yang menghilang di balik pintu kamar ayah. Ia adalah cerminan dari Ivan Maulana Rizky, baik dalam ilmu agama maupun cara memikat hati. Namun, di balik senyum itu, Tanvir kembali teringat pada doa tahajudnya.

Kapan wanita itu akan datang?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Episode 4: Sandiwara Sang Istri Mungil

Episode 8: Antara Cemburu, Sakit dan Rahasia yang Terungkap

Episode 1: Sang Pangeran Mahkota dan Takdir yang Tersembunyi