Suami Terbaik Episode 13: Kilau Yang Menyembunyikan Rahasia


Bab: Kilau yang Menyembunyikan Rahasia

Lampu kristal di langit-langit memantulkan cahaya dingin, seakan membekukan udara di sekitarnya. Kilau itu jatuh ke wajah Antonio, membekukan pula ekspresi yang kaku, seolah seluruh dunia berhenti berputar hanya untuk menyoroti kebisuan yang menyesakkan. Bibirnya terkatup rapat, namun batinnya meraung, menolak kenyataan yang baru saja menyusup ke telinganya.  

Di hadapannya, Angga masih terperangkap dalam keterkejutan yang sama. Getaran hebat yang ia rasakan meruntuhkan logika, menghancurkan anggapan lama tentang sosok yang selama ini mereka kira hanyalah manusia biasa.  

 "Apa kau yakin kalau Pak Ivan dan Fira itu suami dan istri?"  
Suara Antonio terdengar serak, sebuah upaya terakhir untuk menyangkal kebenaran yang merayap di bawah kulitnya.  

 "Astaga, Antonio. Kenapa juga aku tidak yakin?" sahut Angga dengan napas memburu, matanya berbinar oleh bayangan kemewahan yang masih menempel di benak. "Aku bahkan dibuat syok dengan rumah Pak Ivan. Aku pikir beliau hanya guru honorer jelata seperti yang lain. Tapi rumahnya... oh, demi Tuhan, rumahnya ternyata..."  

Kalimat itu terputus, seolah kata-kata tak lagi sanggup memikul beban kemegahan yang ia saksikan. Namun kesombongan Antonio adalah benteng yang sulit ditembus. Ia mendengus, mengangkat dagu dengan angkuh, memamerkan lencana kekayaan yang ia warisi.  

 "Halah, palingan juga tidak lebih besar dari rumahku," cibir Antonio pedas. "Kau jangan lupa, Ngga. Papaku seorang CEO Mizuruky Corp. Perusahaan berlian bertaraf multinasional. Di negeri ini, siapa yang sanggup melampaui tahta kekayaan Papaku?"  

Angga hanya mengulas senyum tipis, sarat ejekan. Tatapannya penuh iba, seolah sedang menatap seorang buta yang membanggakan indahnya warna.  

 "Ya, terserah kau saja. Tapi kalau kau melihat sendiri seperti apa istana Pak Ivan, aku yakin lidahmu akan kelu untuk sekadar berucap sombong."  



Di Balik Dinding Kemewahan

Mansion Mizuruky berdiri angkuh menjemput langit, namun di dalam kamar utamanya, waktu seakan melambat. Di depan meja rias yang memantulkan sunyi, Fira terpaku. Rambut hitam legamnya masih basah, butiran air jatuh satu per satu membasahi pundaknya. Ia tak sanggup menatap bayangan dirinya di cermin.  

Maulana—sang hamba Allah yang membawa ketenangan dalam setiap langkahnya—menghela napas lembut. Pria tinggi semampai itu mendekat, menatap istrinya yang tenggelam dalam lamunan sejak kalung Arkavia Stars melingkar di lehernya. Keindahan dunia mendadak kehilangan warna di mata Fira, digantikan oleh beban emosi yang sulit ia terjemahkan.  

Dengan gerakan santun, Maulana mengambil pengering rambut. Deru halus alat itu memecah keheningan, sementara jemari panjangnya menyisir helai demi helai rambut Fira dengan kasih sayang yang tak bertepi.  

 "Istriku, apa kamu sangat menyukai perhiasan?" tanyanya, suaranya selembut sutra di tengah hening malam.  

 "Tentu saja," lirih Fira. Ia mendongak, mencari perlindungan di netra suaminya. "Ini pertama kali ada pria yang memberikan ku sebuah perhiasan. Rasanya sangat menyenangkan... ternyata seperti ini rasanya menerima hadiah dari seorang pria."  

Kalimat sederhana itu menghujam jantung Maulana. Di era di mana kemewahan sering dianggap biasa, kejujuran Fira terasa seperti embun murni yang menyayat.  

"Benarkah? Apakah kamu belum pernah menerima pemberian seorang pria?"  

Fira terperanjat. Ia bangkit tergesa, handuk yang melilit tubuh mungilnya nyaris tergelincir. Rona merah menjalar di pipinya, ia segera merapikan kain itu, menjaga benteng pertahanan terakhirnya.  

Maulana terkekeh, binar jahil menari di matanya.  

 "Kenapa cepat ditutup, Sayang? Padahal sangat indah untuk dilihat."  

"Tidak boleh!" Fira menggembungkan pipinya, protes kecil yang menggemaskan. "Aku sudah lelah, hampir saja kakiku tidak bisa jalan."  

Tawa Maulana pecah halus. Ia memahami kelelahan istrinya.  

"Baiklah, suamimu ini tidak akan memaksa. Bukankah tadi kamu ingin ikut ke acara lelang amal?"  

 "Bukankah tadi Paman bilang ke acara amal? Kenapa sekarang ada lelangnya?" tanya Fira, keningnya berkerut penuh rasa ingin tahu.  

"Ya, karena di sana ada barang yang dilelang, hasilnya akan disumbangkan pada yang membutuhkan. Kamu belum pernah hadir dalam acara seperti itu?"  

Wajah Fira meredup, seperti lilin yang ditiup angin malam.  

 "Tentu saja belum. Aku bukan anak bangsawan, Paman. Ayahku hanya seorang tukang becak... berapa hasil dari tukang becak? Kadang juga bertani. Mana ada acara lelang amal. Apa yang akan dilelang? Kalau pun ada, itu hanya untuk menutup hutang."  

Hati Maulana berdesir pilu. Ia meraih jemari mungil itu, menggenggamnya erat.  

 "Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Baiklah, segeralah ganti baju. Aku sudah menyiapkan ruangan khusus untukmu, semua keperluanmu sudah menanti di sana."  



Istana Kecil Sang Istri

Fira melangkah ke ruang ganti, lalu terhenti di ambang pintu. Napasnya tertahan. Ruangan itu bukan sekadar tempat berganti pakaian; itu adalah galeri kemewahan yang didekasikan hanya untuknya. Lemari kaca memperlihatkan barisan gaun, sepatu, dan tas yang harganya mungkin setara dengan seluruh hasil panen desanya seumur hidup.  

"Semua ini untukku? Lalu di mana ruang ganti Paman?" gumamnya takjub.  

Jemarinya gemetar saat menyentuh kain halus.  

 "Ya Allah... ternyata seperti ini rasanya jadi orang kaya. Semuanya bagus dan mahal. Bagaimana kalau aku mencobanya satu per satu?"  

Dengan binar kebahagiaan, Fira mulai "bermain" di istana kecilnya. Ia mencoba sepatu cantik, memadupadankan baju, melilitkan kerudung dengan gaya elegan.  

Sementara itu, di sisi lain dinding penghubung, Maulana bergelut dengan kewibawaannya. Ia memasuki ruang gantinya sendiri—ruangan maskulin yang terpisah oleh pintu misteri. Pria itu memilih kemeja navy, dibalut jas hitam The Eternal Nightfall, mahakarya bertabur berlian tersembunyi. Rambutnya disisir rapi, auranya berubah menjadi penguasa jagat bisnis.  

 "Sayang, kenapa kamu lama sekali? Apakah kamu baik-baik saja?" seru Maulana dari luar.  

Fira tersentak, berlari keluar tanpa sempat merapikan kekacauan.  

 "Paman, aku sudah—"  

Kalimatnya terputus. Ia terpaku. Sosok di depannya bukan lagi guru honorer yang ia kenal. Maulana berdiri dengan aura otoritas pekat, dingin namun memikat.  

"Paman... dari mana Paman dapat baju ini?" tanya Fira dengan suara bergetar takjub.  

Maulana menatap istrinya dengan alis bertaut, menahan senyum melihat kepolosan itu.  

"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apakah kamu pikir suamimu ini mencuri?"  

Komentar