Azkan Mazendra episode 1

Di bawah naungan rembulan yang meredup, sunyi merayap di setiap sudut rumah tua itu, membawa serta aroma debu dan kepedihan yang mengendap. Ling Yue, gadis dengan jiwa seputih salju namun kerap dianggap tak berdaya oleh dunia, duduk termenung di atas ranjang usangnya. Ia adalah serpihan melankoli di tengah hiruk-pikuk kehidupan; sederhana, polos, dan memiliki kelambanan yang seringkali mengundang badai amarah dari orang tuanya.

Malam itu, luka hatinya menganga lebih lebar. Kedua tangannya memeluk bantal dengan erat, seolah benda mati itu adalah satu-satunya pelindung dari kekejaman realita. Air mata mengalir perlahan, laksana butiran mutiara yang jatuh di atas pipi pucatnya, meninggalkan jejak keputusasaan.

"Aku juga tidak tahu akan seperti ini, aku sudah belajar rajin namun tetap saja tidak lulus sekolah," bisiknya lirih. Suara itu begitu rapuh, tenggelam dalam samudera kesepian yang dalam, sebelum akhirnya keletihan menuntun jiwanya berkelana ke alam mimpi.

Jauh dari hiruk-pikuk manusia, di jantung Asia Tenggara, terbentang sebuah negeri legendaris bernama Dong Nan Zhi Xing. Negeri yang dibasuh cahaya mistis itu dijaga oleh keagungan Kerajaan Gaib Harimau Putih yang bertakhta di puncak Gunung Zi Ling. Di sana, di atas singgasana yang dipahat dari keabadian, bernaung sang penguasa gagah perkasa, Azkan Mazendra. Sosoknya adalah perpaduan antara wibawa yang menggetarkan dan kesaktian yang tak terukur.

Suatu waktu, usai menempuh perjalanan panjang dari Kerajaan Ular, sebuah getaran aneh merambat di dada Azkan. Dadanya terasa sesak, seolah ada benang takdir yang ditarik kencang dari kejauhan. Sebagai entitas yang melampaui batas mortalitas, rasa sakit adalah bahasa asing baginya.

Azkan Mazendra mengangkat tangannya yang kokoh, memberi isyarat sunyi agar pasukannya berhenti. Seorang menteri mendekat, wajahnya diliputi kabut tanda tanya.
"Yang Mulia, apa ada sesuatu?"

"Kalian kembalilah dulu, aku ada urusan," jawabnya singkat. Kalimat itu adalah titah yang tak terbantah. Dalam sekejap mata, tubuhnya melenyap, terurai menjadi partikel cahaya di udara.

Di sebuah kamar sempit yang dindingnya digerogoti jamur dan cat yang mengelupas, Azkan Mazendra mendarat dengan keanggunan seorang predator surgawi. Netra safirnya yang tajam namun teduh menatap diam pada gadis yang tertidur dalam posisi duduk. Sisa air mata yang mengering di pipi Ling Yue tampak seperti kristal duka yang menyayat hati sang penguasa.

Dengan langkah yang lebih halus dari jatuhnya helai daun, ia mendekat. Azkan membaringkan tubuh ringkih Ling Yue ke atas kasur usang itu dengan penuh kehati-hatian, seolah-olah gadis itu adalah pusaka kaca yang mudah retak.

Lalu, keajaiban terjadi. Tubuh manusianya yang tegap perlahan memudar, berganti wujud menjadi seekor harimau putih raksasa—manifestasi keagungan aslinya. Ia melingkupi tubuh rapuh Ling Yue, menjadikan dirinya bantal yang hangat dan selimut yang perkasa, melindungi sang gadis dari dinginnya malam yang menusuk tulang.

"Tidurlah, kamu adalah calon istriku," bisiknya. Suara baritonnya bergema rendah, serupa sumpah suci yang dipahatkan pada dinding waktu.
Ling Yue melenguh pelan dalam tidurnya. Dalam ketidaksadaran, ia merasakan kehangatan yang asing namun menenangkan. Jemari halusnya meraba, membelai permukaan berbulu yang tebal itu. Dalam benaknya yang polos, ia mengira sedang memeluk kucing kesayangannya, meski nuraninya berbisik bahwa tekstur ini jauh lebih megah dan padat. Senyum tipis mengembang di bibirnya, sebuah oase di tengah padang pasir penderitaannya.

Di balik kelopak mata yang terpejam, Ling Yue diseret ke dalam visi yang memukau. Ia berdiri di sebuah bangunan megah yang kemegahannya melampaui imajinasi manusia. Dindingnya putih laksana salju abadi, lantainya berkilau marmer yang memantulkan cahaya bintang, dan karpet merah terbentang anggun laksana jalan menuju takdir bangsawan.

Di sebuah ruangan yang diselimuti aura magis, seorang pria berjubah putih panjang dengan syal merah sedang duduk di kursi berukir tinggi. Ling Yue melangkah gemetar, ditarik oleh daya pikat sosok misterius itu.
Pria itu bangkit, gerakannya mantap dan berwibawa. Ia mendekat hingga jarak mereka menghilang, lalu mengulurkan tangan. Jemarinya yang hangat menyentuh lembut rambut hitam Ling Yue, menyalurkan energi yang membakar sekaligus menyejukkan.

"Kamu adalah calon Istriku."
Ling Yue tersentak. Jantungnya berdebar kencang, memompa sisa-sisa kebahagiaan dari mimpi tadi ke seluruh aliran darahnya. Ia terbangun dengan napas yang memburu.

"Itu tadi siapa?" bisiknya pada sunyi, rasa ingin tahu kini menari-nari di matanya.

Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir bayangan itu. "Sudahlah, lebih baik aku tidur. Besok adalah hari pertama aku pergi ke kampus, meski dengan ijazah paket C. Aku harus berusaha dan berjuang untuk Ibu."

Saat ia hendak membetulkan posisinya, jemarinya kembali menyentuh bantal usang di sampingnya. Ia tertegun. Bantal itu terasa hangat, teksturnya padat dan sedikit keras, seolah menyimpan kehidupan di dalamnya.

"Seperti ada bulunya? Tapi tidak ada."
Di dimensi yang tak kasat mata, Azkan Mazendra menarik sudut bibirnya, tersenyum kecil. Netra safirnya berkilat lembut saat merasakan sentuhan jemari mungil itu tepat di atas dadanya.
"Tentu saja itu buluku, bukan bulu kucing. Istriku, tidurlah lagi. Aku akan menjagamu."

Seolah terbius oleh mantra gaib dari suara dalam sang penguasa, Ling Yue kembali membaringkan tubuhnya. Ia memeluk "bantal" itu dengan erat—tanpa menyadari bahwa ia sedang mendekap lengan sang Harimau Putih yang agung, yang telah bersumpah untuk menjadi pelindung abadinya.

Di Bawah Bayang-Bayang Zi Ling
Puncak Gunung Zi Ling menyambut fajar dengan kemilau yang murni, seolah-olah langit baru saja menumpahkan tinta biru safir ke atas puncaknya yang agung. Dari teras samping rumahnya yang bersahaja, Ling Yue berdiri mematung, matanya terpaku pada siluet gunung yang menjadi napas bagi negeri Dong Nan Zhi Xing.

Bagi penduduk lain, Zi Ling adalah simbol kemakmuran dan mitologi yang tak tersentuh, namun bagi Ling Yue, gunung itu adalah bentuk kasih sayang Tuhan yang nyata. Di sanalah ia menemukan kedamaian saat dunia di sekitarnya terasa bising dan menyesakkan.

"Yue."

Suara Ling Seng, sang ibu, membelah kesunyian pagi. Wanita itu menatap putri sulungnya dengan binar mata yang sulit diartikan—ada rasa sayang, namun terselip pula guratan iba. Ia tahu benar betapa polosnya jiwa Ling Yue, sebuah kelembutan yang seringkali dianggap sebagai kelemahan di dunia yang taringnya begitu tajam.

Ling Yue mengalihkan binar matanya dari kebiruan gunung, melangkah anggun menghampiri ibunya.
"Ayo sarapan, adikmu sudah menunggu. Setelah itu kamu mau ke kampus, kan?" tanya Ling Seng, suaranya membawa kembali realita ke pundak Ling Yue.

Gadis itu menggeleng pelan, sehelai rambut jatuh menutupi keningnya yang bersih. "Tidak, kuliah masih nanti pukul dua siang."

Ling Seng mengangguk, lalu dengan nada yang telah menjadi rutinitas, ia menyusun daftar pengabdian untuk putrinya. "Ya sudah, segera sarapan. Setelah itu pergi ke sungai untuk cuci baju, lalu cuci piring."

Ling Yue kembali mengangguk patuh, tanpa setitik pun protes yang mencuat dari bibirnya. Ia sudah terbiasa dengan keadilan yang timpang di rumah ini. Ling Seng tak pernah membiarkan Ling Nggis, sang adik, menyentuh pekerjaan kasar. Di mata sang ibu, kecerdasan adik adalah permata yang harus dijaga dari noda debu, sementara kelambanan Ling Yue dianggap sebagai alasan untuk membiarkannya berkutat dengan tugas-tugas rumah yang tak kunjung usai.

Langkah kaki Ling Yue membawanya ke meja makan yang retak di beberapa sudut. Di sana, di antara aroma nasi yang mengepul, ia tersenyum sendiri. Bayangan pria berjubah putih dalam mimpinya—sosok yang begitu tinggi dan berwibawa—masih membekas kuat di ingatan, memberikan kehangatan rahasia yang melindunginya dari rasa lelah.

Namun, lamunan indah itu terhenti saat Ling Seng datang membawa piring berisi lauk yang sederhana.
"Yue, biarkan adikmu saja ya, yang makan ikan? Kasihan dia suka ikan."
Kalimat itu meluncur begitu ringan, seolah-olah keinginan Ling Yue tidak pernah memiliki berat dalam timbangan hati ibunya. Namun, bagi gadis seputih salju ini, sepotong ikan bukanlah hal yang layak untuk diperdebatkan. Ia hanya mengangguk tulus, menelan rasa laparnya sendiri demi melihat seulas senyum di wajah sang ibu. Baginya, kebahagiaan orang lain adalah satu-satunya pelipur lara yang ia miliki.


Komentar