Episode 3: Keadilan di Balik Jubah Emas

Aula Kerajaan yang tadinya dipenuhi aroma kemewahan, mendadak berubah mencekam. Ketegangan menggantung di udara seperti kabut tebal yang siap meledak. Zein Zulkarnain, dengan keanggunan seorang penguasa yang lahir dari langit, meraih secangkir teh porselen di hadapannya. Ia menyesapnya perlahan, sangat tenang, seolah nyawa seseorang tidak sedang berada di ujung lidahnya.

​Ia meletakkan cangkir itu kembali dengan denting halus yang memekakkan kesunyian. "Benar, Selir Utama sangat teliti..." Zein sengaja menggantung kalimatnya, membiarkan harapan palsu mekar di wajah Sekar Wangi.

​Sekar Wangi tersenyum penuh kepuasan. Ia merasa kemenangan sudah dalam genggaman, merasa sang Putra Mahkota akhirnya bertekuk lutut di bawah pengaruhnya. Namun, senyum itu tidak bertahan lama.

​"Tapi ... Apakah menteri yang selir maksud sudah melihat dengan benar apa yang terjadi pada rakyat di desa kecil itu? Misalnya... Desa Sungsang." Zein menyunggingkan senyum tipis yang terasa lebih dingin dari es utara.

​Menteri Arya Satya membeku. Darahnya seolah berhenti mengalir saat nama desa terpencil itu meluncur dari bibir Zein. Bagaimana mungkin? Desa yang dikabarkan terisolasi oleh wabah mematikan itu seharusnya terkubur rapat dalam rahasianya.

​Zein melirik Arya Satya dengan ekor matanya yang tajam bak safir. Ia bisa mencium aroma ketakutan yang menguar dari menteri tersebut—kerabat dekat Sekar Wangi yang kini mulai gemetar.

​“Pangeran Mahkota, Ayah sudah mendengar kalau di desa itu telah terjadi bencana berupa penyakit menular. Ayah juga sudah menyuruh orang untuk mengirimkan bantuan berupa sembako, tenaga medis juga perlengkapan istirahat kesana. Itu semua ditangani Menteri Arya secara langsung.” Jaya Negara berusaha menengahi, namun suaranya justru membuat senyum meremehkan di wajah Sekar Wangi kembali merekah.

​“Sayangnya bantuan itu tidak sampai 100%, Ayah. Aku sudah memeriksanya, bentuk pangan apapun dari pemerintah tidak masuk kesana kecuali hanya sedikit saja. Melihat itu, aku tidak tega dan memberikan bantuan pribadi untuk mereka dariku. Bukankah seharusnya kalau memang untuk rakyat, berikan saja pada rakyat tanpa perlu potongan apapun dan alasan apapun untuk menyulitkan mereka.” Suara Zein memberat, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan saat menatap sang Menteri Kesejahteraan Masyarakat.

​Arya Satya tersentak. Ia tak menyangka pangeran yang dianggapnya hanya tahu cara berkelahi itu bisa membongkar boroknya dengan begitu teliti. Dengan sisa-sisa keberanian yang dipaksakan, ia mencoba berkelit.

​“Pangeran Mahkota, Anda sungguh keterlaluan menuduh saya. Sebagai Menteri kesejahteraan Masyarakat, saya telah berusaha melakukan pekerjaan semaksimal mungkin. Tapi perjalanan kesana membutuhkan biaya sangat besar, terpaksa saya harus mengurangi dana dari pemerintah untuk menggaji para petugas,” kilah Arya dengan suara yang dibuat-buat sedih.

​Zein berdiri, menatap lurus pria tua itu dengan tatapan menghujam. ” Berapa harga minyak 1 liter, sehingga kau harus menghabiskan dana 100 juta untuk membeli 1 liter minyak? Apakah maksudmu aku hanya asal bicara?! Kau jelas sudah menggelapkan dana bantuan untuk rakyat, kau membelanjakan tidak sesuai anggaran. Sekarang kau mengatakan kalau uang itu untuk menggaji petugas, apakah menurutmu aku tidak tahu bahwa kau memerintahkan panglima perang bersama beberapa prajurit untuk mengantarkan bantuan tersebut?! Mereka mengatakan padaku, bahwa gaji mereka adalah langsung dari pemerintah yaitu gaji sebagai prajurit, bukan dari biaya yang kau katakan itu. Kau sungguh melakukan kecurangan untuk memperkaya dirimu sendiri, kau seorang petugas negara tapi kau sama sekali tidak memikirkan rakyatmu.”

​Ruangan itu hening seketika. Arya Satya terdiam seribu bahasa, wajahnya pucat pasi. Ia menyadari bahwa Zein tidak sekadar "bermain" di luar istana; sang pangeran telah menjadi detektif bayangan yang memeriksa setiap jengkal laporan keuangannya.

​Di tengah konfrontasi itu, Zein tiba-tiba mengernyit. Rasa nyeri yang teramat sangat menghujam jantungnya. Efek luka dalam akibat pertempuran melawan siluman dan penggunaan kekuatan yang berlebihan selama perjalanan pulang kini menuntut balas.

Bruk…

​Tanpa diduga, Arya Satya langsung berlutut di hadapan Raja Jaya Negara. Ia bersujud, memerankan drama penyesalan paling menyedihkan untuk memelas pengampunan. Para pejabat berbisik ricuh. Mereka tahu selama ini Arya kebal hukum karena perlindungan Sekar Wangi, namun kali ini, bukti yang dibawa Zein terlalu nyata untuk diabaikan.

​Raja Jaya Negara dan Ratu Prameswari terpaku. Murka mulai membakar wajah sang Raja. “Menteri Arya, apakah yang dikatakan Pangeran Mahkota itu benar?!”

​“Benar, Yang Mulia. Saya telah melakukan kesalahan, tapi ini saya lakukan karena terpaksa. Mohon Yang Mulia mengampuni saya.”

​Zein menghela napas, muak melihat kemunafikan di depannya. ”Bukankah harusnya kau tahu bahwa seorang itu harus bersujud pada orang tertentu? Misal Istri pada Suami, Anak pada Ibu? itu juga kalau memang diizinkan, tapi coba kamu lihat dirimu sendiri. Kamu sujud hanya untuk menutupi kesalahan, setelah itu kau akan melakukannya lagi. Sungguh tindakan konyol.”

​“Pangeran Mahkota, kenapa hatimu sangat kotor? Aku sangat menyesal setelah melakukan itu, lagipula aku hanya melakukan sekali, tapi kau sudah menghakimiku seakan aku melakukan berulangkali.” Arya Satya mendongak, matanya yang tadi memelas kini berkilat kebencian.

​Zein menyunggingkan senyum sinis. ”Sekali kau bilang? Apakah kau ingin aku menunjukkan semua bukti kejahatanmu?”

​Arya Satya semakin menundukkan kepala, nyalinya menciut hingga ke dasar bumi. ”Aku tahu salah, aku akan menerima hukuman apapun yang Yang Mulia berikan.”

​Ratu Prameswari, yang mengenal kelembutan di balik ketegasan putranya, mencoba meredam suasana. “Putraku, redakan dulu kemarahanmu. Ibu sangat mengerti maksudmu, sekarang Paman Menteri sudah mengerti dan bertaubat. Ibu yakin kalau kamu bukan orang yang pendendam dan tidak bisa memaafkan orang.”

​Zein memalingkan muka. Sentuhan lembut ibunya selalu membuatnya merasa kembali menjadi anak kecil. “Ibu, berhentilah berbicara seakan aku ini masih kecil.”

​Prameswari tersenyum simpul melihat telinga putranya memerah. “Baiklah, Ibu hanya tidak ingin kau sakiti hatimu sendiri dengan marah berkelanjutan pada manusia tak berakhlak.”

​Zein bangkit, memberikan hormat terakhir dengan sisa tenaga yang ia miliki. ”Ayah, saya permisi.”

​Ia membalikkan tubuhnya, melangkah pergi. Namun, baru beberapa langkah, rasa sakit itu kembali menyerang. Kali ini seperti sebilah pedang yang diputar di dalam jantungnya. Penglihatannya kabur.

Bruk…

​“Zein!!!” teriakan histeris Prameswari membelah aula. Tubuh sang Pangeran tumbang di atas karpet merah yang mewah.

​“Yang Mulia!” Mahesa berlari secepat kilat menyongsong tubuh majikannya.

​“Panggil tabib sekarang!” perintah Raja Jaya Negara yang langsung turun dari singgasana, merengkuh tubuh putranya dengan tangan gemetar. Di momen itu, ia bukan lagi seorang Raja, melainkan seorang ayah yang ketakutan kehilangan hartanya yang paling berharga.

Dapur Istana…

Tak… Tak… Tak…

​Suara pisau beradu dengan papan pemotong sayur mengisi dapur yang sibuk. Arsy memotong sayuran dengan cekatan, sementara di sampingnya, Ezra sedang sibuk mengaduk bumbu di dalam wajan raksasa yang mengepulkan uap harum.

​Hari ini dapur berubah menjadi medan perang kuliner. Mereka diperintahkan menyiapkan jamuan besar-besaran untuk merayakan kembalinya sang Putra Mahkota. Tamu-tamu agung dari kerajaan tetangga dan para ksatria termasyhur dari seluruh Bintang Tenggara akan segera memadati istana, tanpa tahu bahwa di aula utama, sang pangeran yang mereka nantikan baru saja tumbang dalam senyap.



Komentar