Episode 2: Kembalinya Sang Manusia Setengah Dewa
Lantai pualam aula kerajaan yang dingin seolah menjadi saksi bisu atas ketegangan yang merayap di udara. Di koridor menuju aula, sebuah insiden kecil baru saja terjadi, menyisakan debar jantung yang tak keruan bagi pelayan muda bernama Arsy.
Ezra membelalakkan matanya, napasnya tertahan di tenggorokan saat melihat Arsy melangkah tanpa arah, terpesona oleh aura yang memancar dari sosok Zein Zulkarnain. Di sisi lain, sang Pangeran Mahkota berjalan dengan langkah yang begitu tenang, pandangannya lurus ke depan, beku dan tanpa ekspresi. Seolah-olah paras cantik Arsy hanyalah udara kosong yang tak mampu mengusik fokus matanya yang tajam.
"Arsy, awas!" teriak Ezra memecah kesunyian.
Arsy tersentak, dunianya yang sempat terhenti mendadak berputar cepat. Di hadapannya, sebuah tiang penyangga yang kokoh berdiri tegak menanti. Jarak yang sudah terlalu dekat membuatnya kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri.
"Aaa!" jeritnya tertahan.
Dugh! Bruk!
Suara benturan itu terdengar menyakitkan. Arsy jatuh terjerembab, tubuh mungilnya mencium lantai yang keras. Gadis bersurai hitam panjang itu meringis, rasa perih menjalar di kulitnya, namun yang lebih menyakitkan adalah harga dirinya yang hancur di depan sang Pangeran.
Langkah Zein terhenti. Tanpa menoleh sepenuhnya, ia berucap dengan nada rendah yang berwibawa namun dingin. "Alangkah lebih baik kalau seorang gadis menjaga pandangannya." Sudut bibir seksinya terangkat tipis, sebuah seringai samar yang lebih terasa seperti teguran sebelum ia kembali melangkah pergi.
Mahesa, sang pengawal, menghela napas panjang sembari menatap iba pada Arsy yang masih terduduk lemas. "Pelayan, Pangeran Mahkota sudah terbiasa mendapatkan tatapan memuja dari para gadis maupun janda, dan dia sangat tidak menyukai itu. Jadi... Lebih baik jangan lagi memberikan tatapan memuja seperti itu, lihat sendiri akibatnya... Kamu yang celaka."
Arsy mendongak, menatap Mahesa dengan sorot mata yang menyala karena jengkel. Ingin rasanya ia menyumpalkan seluruh kain cucian di keranjangnya ke mulut pria berambut cepak itu agar ia berhenti menceramahinya. Namun, ia tahu diri; jurang status di antara mereka terlalu dalam. Mahesa adalah tangan kanan Pangeran, sementara ia hanyalah pelayan rendah yang tak punya suara.
Dasar pengawal sialan! Bukannya membantu malah ngatain orang. Awas saja, kalau sampai terjadi sesuatu padamu, aku adalah orang pertama yang akan menertawakanmu, umpat Arsy dalam hati, merutuki nasibnya.
Mahesa bergegas menyusul Zein yang berjalan tenang bagaikan aliran air yang dalam. Sementara itu, Ezra segera menghampiri sahabatnya dan membantunya berdiri.
"Sy, kamu jangan mengagumi Pangeran Mahkota lagi, dia itu bukan manusia," bisik Ezra penuh peringatan.
Arsy mengernyit bingung, jemarinya mengusap lutut yang memar. Ia menatap punggung tegap berjubah putih dengan selendang hijau yang perlahan menjauh. "Darimananya dia tidak terlihat seperti seorang manusia?" tanyanya tak mengerti.
"Pangeran Mahkota itu terkenal dengan sebutan manusia setengah Dewa, tidak tertarik dengan urusan dunia ini. Dia menjadi seorang Putra Mahkota juga karena terkena jebakan, orang yang sangat dingin tapi sekali bicara sangat menyebalkan," jelas Ezra dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Manusia setengah Dewa? Apa karena paras yang begitu rupanya? Bahkan dia memakai rambut palsu," sahut Arsy, masih mencoba mencari celah untuk menjatuhkan wibawa pria yang baru saja mempermalukannya.
"Apanya yang rambut palsu?! Dari lahir Pangeran memang rambutnya seperti emas begitu, Pangeran juga sangat tampan, bibirnya merah alami. Bulu matanya panjang, hidungnya mancung. Tidak banyak bicara dan lebih suka bekerja," bela Ezra, matanya berbinar-binar seolah sedang melukis sosok Dewa di benaknya.
Arsy memicingkan mata, menatap Ezra dengan tatapan malas. "Ezra, kamu tadi melarangku menyukai Pangeran Mahkota. Tapi sekarang wajahmu bersemu merah hanya dengan memuji dia, tadi kamu bahkan seperti orang yang sedang kasmaran, tersenyum sendiri tidak jelas," cibirnya.
Ezra tersipu, pipinya merona karena tertangkap basah. "Sudahlah, semua orang juga akan menyukai pria tampan bukan? Sekarang lebih baik kita segera melapor pada kepala pelayan, atau dia akan mengarang cerita kalau kita sudah melakukan sebuah kesalahan."
Arsy mengangguk pasrah. Mereka pun bergegas melangkah, menyadari bahwa di balik kemegahan istana, bayang-bayang Selir Sekar Wangi selalu mengintai untuk mencari kesalahan mereka.
Di dalam Aula Kerajaan, atmosfer terasa begitu berat dan sakral. Raja Jaya Negara dan Ratu Prameswari duduk megah di atas singgasana emas, sementara Selir Sekar Wangi duduk di sisi kanan dengan raut wajah yang anggun namun menyimpan ambisi.
"Pangeran Mahkota tiba!!"
Gema suara pengawal kerajaan menyapu ruangan. Zein Zulkarnain menghentikan langkah sejenak di ambang pintu besar aula. Lima tahun telah berlalu sejak ia mengembara, namun keangkuhan tembok istana ini tetap terasa sama. Dengan tarikan napas panjang, ia melangkah masuk.
"Hormat kepada Yang Mulia Putra Mahkota," seru seluruh pejabat dan bangsawan serentak, menundukkan kepala sebagai tanda takluk.
"Zein, Putraku. Akhirnya kamu kembali juga, apakah kau sudah merasa puas di luar sana?" sambut Raja Jaya Negara dengan suara berat yang penuh kerinduan sekaligus wibawa.
Zein mendudukkan dirinya di kursi kebesaran. Matanya yang tajam menyisir setiap sudut ruangan, menembus topeng-topeng kemunafikan para pejabat di sana. "Ayah, apakah tidak sebaiknya kalau gelar Putra Mahkota diberikan kepada Afzam saja?" ujarnya tiba-tiba, memutus segala basa-basi.
Keheningan mendadak mencekam. Sekar Wangi tak mampu menyembunyikan binar kemenangan di matanya, sementara Afzam, sang adik, tersedak hingga menyemburkan minuman yang sedang diteguknya.
"Kakak, kenapa Kakak bicara seperti itu? Aku merasa sangat tidak pantas menjadi seorang Pangeran Mahkota, aku tidak ahli dan berpengalaman dalam politik, pertempuran atau apapun," protes Afzam dengan nada gugup, berdiri dengan wajah pucat.
"Afzam, Ibu rasa apa yang dikatakan Kakakmu itu ada benarnya. Saudara pertamamu itu lebih suka hidup di luar Istana, dia sama sekali tidak peduli atau bahkan tidak tahu sama sekali tentang urusan Kerajaan," sela Sekar Wangi dengan nada halus namun berbisa, melirik Zein dengan senyum merendahkan.
Zein menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang mematikan. "Ucapan Ibunya selir memang benar, aku sangat tidak tahu tentang urusan kerajaan. Tapi... aku ingin menanyakan sesuatu pada Ibu Selir..."
Zein mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam mata Sekar Wangi dengan keberanian yang tenang. "Apakah Ibu tahu? Seorang Raja juga harus tahu bagaimana kondisi rakyat kecil di luar sana, menjaga mereka. Tapi... Bagaimana calon Raja akan tahu secara langsung kondisi rakyat kecil? Mereka ketakutan, khawatir, kalau tidak datang sendiri. Hanya dengar dari orang? Jadi... Apakah menurut Ibu Selir, aku hanya bermain-main saja?"
Sekar Wangi membeku. Tangannya mengepal kuat di dalam lipatan lengan bajunya yang mewah. Ia terpojok oleh logika dingin sang Pangeran. Mahesa yang berdiri di belakang Zein harus bersusah payah menahan tawa melihat wajah sang Selir yang kini semerah padam.
Jaya Negara dan Prameswari saling bertukar pandang, senyum bangga terukir di wajah mereka. Putra mereka tidak hanya membawa pulang raga, tapi juga kearifan yang tak dimiliki oleh mereka yang hanya duduk di atas kursi empuk.
"Pangeran Mahkota berlebihan, bukankah untuk mengetahui keadaan rakyat, kita hanya perlu bertanya pada para Menteri? Apa gunanya menunjuk seorang menteri kalau mereka tidak melakukan tugas dengan baik?" balas Sekar Wangi, suaranya mulai bergetar karena amarah yang berusaha ditekan.
Komentar
Posting Komentar